Artikel Harian Edisi 21 Juni dan Siroh Corner

rumahdakwah.id

Ahad, 04 Ramadhan 1436/21 Juni 2015

Amal yang Paling Kuharapkan Pahalanya

“Fama syai’un arja indi min hifzhi ‘alaiha ma kana fi qalbiha min jihati” Abu Utsman.

Dalam hidup berumah tangga, kira-kira amal apakah yang paling diharapkan pahalanya?
Bagi seorang istri, tentu jawabannya adalah baktinya kepada suami dan upayanya untuk meminta keridhaan suami ?setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena suami menjadi pintu surga baginya.

Dan bagi suami?
Pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada Abu Utsman, lalu ia menjawab bahwa amal yang paling ia harapkan pahalanya ialah kesabarannya selama 15 tahun dalam menjaga perasaan istrinya, agar tidak tersakiti. Karena di sebagian waktunya, Abu Utsman hidup bersandingkan istrinya ini ibarat hidup di atas bara, karena istrinya buta, pincang dan buruk rupa.

Kisah suami istri ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Shifatush Shafwah (4/104), Ibnu Khalkan dalam Wafiyatul A’yan (2/370) dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (11/130). Berikut ini adalah kisah Abu Utsman:

Muhammad bin Nu’aim Adh-Dhibbi, ia berkata, “Aku pernah mendengar ibuku bercerita, “Aku mendengar Maryam, istri Abu Utsman -yang lain- berkata, ‘Secara kebetulan, aku bisa bertemu dengan Abu Utsman yang sedang sendirian, lalu aku mengambil kesempatan itu untuk bertanya, “Ya Abu Utsman, ayyu ‘amalika arja ‘indaka…, wahai Abu Utsman, amalan apakah yang paling kamu harapkan pahalanya di sisimu?”

Abu Utsman menjawab, Wahai Maryam, ketika sudah dewasa, aku berada di daerah ray, penduduk di sana menginginkan agar aku menikah, tetapi aku menolak pinta mereka. Lalu ada seorang perempuan yang datang dan berkata, Duhai Abu Utsman, sungguh aku mencintamu sebenar cinta hingga cintaku melenyapkan tidur dan ketenanganku. Aku memohon kepadamu dengan Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, dan aku meletakkan kepercayaan kepadamu dengan nama-Nya agar kamu bersedia menikahiku.

Lalu aku bertanya, Apakah kamu punya ayah??
Ya, namanya fulan, seorang tukang jahit di tempat ini dan ini.?

Kemudian dia berkirim suratq kepada ayahnya untuk menikahkan dirinya denganku. Ayahnya bahagia dengan rencana pernikahan tersebut, dan beberapa saksi didatangkan, lalu aku menikahinya. Ketika aku pergi menemuinya, ternyata wanita tersebut buta, pincang dan buruk rupa.

Lalu aku berkata,, Allahumma lakal hamdu ‘ala ma qaddartahu li…, ya Allah segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau takdirkan untukku.

Setelah itu, keluargaku mencela dan menyalah-nyalahkanku. Tetapi aku tetap bertambah baik dan memuliakannya, hingga sampai tahap dia tidak membiarkanku keluar dari sisinya. Sehingga aku meninggalkan berbagai majlis ilmu, karena lebih mengutamakan keridhaannya dan menjaga perasaannya. Aku hidup dalam kondisi seperti itu selama 15 tahun lamanya. Di sebagian waktuku, aku serasa hidup berada di atas bara. Namun sama sekali aku tidak menampakkan raut wajah tidak suka kepadanya, sampai dia meninggal dunia.?

Kemudian Abu Utsman melanjutkan, “Fama syai’un arja indi min hifzhi ‘alaiha ma kana fi qalbiha min jihati, tidak ada amalan yang lebih aku harapkan pahalanya selain aku menjaga perasaannya.

Subhanallah !  semoga Abu Utsman mendapatkan limpahan pahala atas kesabarannya dalam menjaga perasaan istrinya.

BP2A-RDI/148/1/IX/1436
——————————
Follow us:
FB    : Rumah Dakwah Indonesia – RDI
Twit : @RDI_rumahdakwah
IG    : @rumahdakwah
=================================

rumahdakwah.id

Ahad, 04 Ramadhan 1436/21 Juni 2015

Oleh : Ustadz Meichal Kusumadiya

Bismillah..

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqoroh : 183)

Taqwa adalah modal awal kita dalam menuju perubahan hidup
Taqwa adalah jalan menuju kebahagiaan yang tiada terputus
Taqwa adalah cara agar kita semua tidak tercatat sebagai makhluk
yang akan disiksa terlebih dahulu sebelum menuju Surga

Karena Allohu Azza Wa Jalla menjanjikan di surat Al-Imron: 15
“…orang-orang yang berTaqwa akan dimasukkan Allohu Ta’ala ke dalam Surga..”

Taqwa adalah cara agar kita di Rindukan Surga
Taqwa yang akan menghancurkan keresahan menjadi kebahagiaan
Taqwa cara kita merubah kegundahan menuju jalan keluar
Ingatlah Duhai Pundak yang membutuhkan pertolongan Allohu Subhanahu Wa Ta’ala

Untuk menjadi seorang hamba yang mendapatkan Sarjana Taqwa,
memiliki 3 proses, yaitu :

Pertama
Menjadi seorang hamba yang benar-benar beriman
*Iman itu tidak dengki
*Iman itu tidak ghibah
*Iman itu tidak merusak persaudaraan
*Iman itu harus mencintai yang Sunnah dengan berkesinambungan terus mengerjakannya

Kedua
Menahan diri dari sesuatu yang diharamkan, karena Puasa secara maknawi adalah menahan diri
* Menahan diri dari makanan yang haram
* Menahan diri dari amarah yang merusak
* Menahan diri dari perdebatan
* Menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan yang akan merusak ‘amal Sholih menjadi Dosa

Ketiga
Hiduplah seperti para Salafush Sholih atau belajarlah
seperti Sahabat Rosululloh Sholallohu’alaihi wasallam
Yang mendedikasikam diri nya sepenuhnya menjadi hamba Allohu Azza Wa Jalla,
yang tidak pernah menggadaikan Imannya dengan fatamorgana Dunia
* Al-Qur’an yang menjadi nafas hidupnya
* Dhuha yang selalu terjaga dengan Sujud
* Malam yang terpelihara dengan Taubat
* Sibuk menDo’akan Saudara Seiman
* Shodaqoh yang tdk bakhil

Duhai para Pemburu Surga,

Romadhon adalah detik kesempatan agar kita menjadi hamba yang Bertaqwa
Segeralah bangkit menuju Cahaya Romadhon yang akan memberikan kita
kePASTIan menuju kebahagiaan yang tiada terputus

Hadza min Fadhli Robbi Barokallohu Lakum Jami’an

BP2A-RDI/148/1/IX/1436
——————————
Follow us:
FB    : Rumah Dakwah Indonesia – RDI
Twit : @RDI_rumahdakwah
IG    : @rumahdakwah
=================================

rumahdakwah.id

Ahad, 04 Ramadhan 1436/21 Juni 2015

Panjang Angan-Angan dan Mengikuti Nafsu

Ali radhiyallahu ‘anhu mengatakan :
Yang aku takutkan atas kalian dua hal : panjang angan dan mengikuti hawa nafsu.
Sesungguhnya panjang angan angan membuat kalian lupa dengan kehidupan akhirat,
sedangkan mengikuti hawa nafsu akan memalingkan kalian dari kebenaran.

(Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Muhaisini, Imam Masjid al Rajhi, Mekkah)

BP2A-RDI/149/1/IX/1436
——————————
Follow us:
FB    : Rumah Dakwah Indonesia – RDI
Twit : @RDI_rumahdakwah
IG    : @rumahdakwah
=================================

rumahdakwah.id

Senin, 5 Ramadhan 1436/22 Juni 2015

Ustadz Satria

SIROH CORNER

Fase Kedua, DAKWAH SECARA TERANG-TERANGAN (JAHRIYYAH)

  1. Mendakwahkan Keluarga Terdekat

Fase ini ditandai wahyu Allah Ta’ala yang berisi perintah untuk memperingatkan kalangan keluarga beliau, sebagaimana firman Allah?

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. Asy-Syu’ara : 214)

Setelah turun ayat tersebut,  yang pertama Rasulullah lakukan adalah mengumpulkan sanak saudaranya dari kalangan Bani  Hasyim. Maka berkumpullah sekitar empat puluh lima orang dari sukunya.

Rasulullah segera menyampaikan misinya,
“Segala puji hanya milik Allah, aku memuji-Nya, mohon pertolongan-Nya, beriman dan bertawakkal kepada-Nya. Tiada tuhan yang disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus untuk kalian secara khusus, dan kepada seluruh umat manusia secara umum. Demi Allah, kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur, dan perbuatan kalian akan diperhitungkan. Di sana ada syurga (dengan kenikmatan) abadi, atau neraka (dengan siksaan) abadi”.

Lalu Abu Thalib berkata : “Kami senang menolongmu, kami juga selalu menerima nasihatmu dan sangat membenarkan ucapan-ucapanmu. Mereka anak cucu nenek moyangmu kini berkumpul, dan aku salah seorang di antara mereka dan orang yang paling cepat memenuhi keinginanmu. Teruskanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, saya akan selalu melindungimu dan mencegah orang yang akan berbuat jahat kepadamu. Cuma saja, saya belum siap meninggalkan agama Abdul Muththalib”.

Sedangkan Abu Lahab berkata : “Sungguh hal ini merupakan aib, cegahlah dia sebelum mempengaruhi yang lainnya”.

“Demi Allah, aku tetap akan melindunginya”, tegas AbuTholib.

Dari sini, Rasulullah mengetahui pembelaan Abu Thalib kepadanya, meskipun dia sendiri tidak bersedia memeluk agama Islam. Maka setelah itu, Rasulullah mendaki bukit Shafa, kemudian beliau berseru : “Wahai Bani Fihr, Wahai Bani Adi'”.

Tak lama kemudian mereka berkumpul. Bahkan seseorang yang berhalangan hadir, mengutus utusannya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Datang pula Abu Lahab dan Quraisy. Maka bersabdalah RasuluLlah :

“Bagaimana pendapat kalian seandainya aku beritahukan bahwa ada sekelompok pasukan berkuda di balik gunung ini akan menyerang kalian, apakah kalian akan membenarkan ucapanku?”.

“Tentu, kami mengenalmu orang yang paling jujur di antara kami”, jawab mereka.

Maka RasuluLlah bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian, sebelum datang azab yang sangat pedih”.

“Celaka engkau selama-lamanya, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”, hardik Abu Lahab.

Maka turunlah ayat,
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab” (QS. Al-Lahab : 1)

  1. Mempertegas Dakwah dan Reaksi Kaum Musyrikin. Di saat seruan RasuluLlah terhadap kerabatnya menjadi bahan pembicaraan, turunlah wahyu Allah Ta’ala untuk mempertegas misi dakwah Rasulullah kepada seluruh masyarakat, ayat tersebut adalah :
    “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (QS. Al-Hijr : 94)

Maka RasuluLlah semakin mempertegas misi dakwahnya kepada seluruh masyarakat Mekkah waktu itu. Beliau sampaikan segala borok kesyirikan, hakikat berhala-berhala yang disembah dan nilainya yang rendah. Beliau jelaskan bahwa siapa yang menyembahnya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Ta’ala adalah kesesatan yang nyata.

Mendengar hal tersebut, meledaklah kemarahan masyarakat Arab. Seruan Tauhid yang dibawa Rasulullah, dan pernyataan sesat atas apa yang selama ini mereka perbuat terhadap berhala-berhala mereka, jelas membuat mereka terperangah penuh penolakan.

Tak ubahnya bagai kilat yang menyambar, kemudian melahirkan guntur dan getaran hebat di tengah-tengah mereka.

Sikap mereka tersebut menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang ada di balik misi keimanan yang dibawa Rasulullah, yaitu menggugurkan semua bentuk penuhanan dan penyembahan yang selama ini telah mereka percaya.

Keimanan kepada Rasul dan hari akhir, berarti ketundukan mereka secara mutlak terhadap ketetapan dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, tidak ada pilihan lain di hadapan mereka. Itu berarti pupusnya kekuasaan dan kesombongan yang selama ini mereka nikmati. Hilang juga kesempatan untuk melakukan berbagai bentuk kerendahan moral dan kezaliman yang selama ini dengan bebas mereka lakukan.

  1. Utusan Quraisy Menghadap Abu Thalib

Sedemikian besar kemarahan masyarakat Quraisy terhadap misi dakwah Rasulullah, namun mereka tetap kebingungan mengatasinya. Sebab yang mereka hadapi adalah RasuluLlah yang terkenal dengan akhlak mulia yang belum pernah mereka dapati orang semacam beliau dalam sejarah nenek moyang mereka.

Akhirnya mereka menempuh cara membujuk pamannya; Abu Thalib, untuk mencegah dakwah Rasulullah. Mengingat kedudukannya dalam diri beliau. Namun Abu Thalib menolak permintaan mereka, sehingga Rasulullah tetap dapat meneruskan dakwahnya.

  1. Musyawarah untuk Mencegah Jamaah Haji Mendengar Dakwah
    RasuluLlah

Gagal membujuk Abu Thalib untuk mencegah dakwah RasuluLlah, orang-orang Quraisy semakin kebingungan. Apalagi beberapa bulan kemudian akan datang musim haji, dimana orang-orang Arab dari berbagai penjuru berdatangan.

Mereka berpendapat bahwa RasuluLlah harus diberikan citra negatif agar tidak dapat menyampaikan misi dakwahnya di kalangan jamaah haji. Untuk merealisasikan hal tersebut merekapun berkumpul di rumah Walid bin Mughirah untuk bermusyawarah.

Mulanya mereka mengusulkan agar RasuluLlah dijuluki sebagai dukun saja, tetapi hal tersebut ditolak oleh Walid karena menurutnya tidak ada tanda-tanda dukun pada diri Rasulullah.

Kemudian mereka mengusulkan tuduhan gila, penyair atau penyihir. Namun semua itu ditolak karena tidak ada yang sesuai dengan pribadi Rasulullah dan apa yang beliau sampaikan. Setelah berembuk sekian lama, akhirnya mereka sepakat untuk menjuluki Rasulullah sebagai tukang sihir.

Pada awalnya julukan tersebut tidak disetujui oleh Walid, namun karena tidak ada pilihan lain, maka julukan itulah yang akhirnya disepakati. Paling tidak -menurut mereka- karena apa yang Rasulullah lakukan telah membuat anak berpisah dari orang tuanya, saudara berpisah dari saudara dan keluarganya, suami berpisah dengan isterinya.

Setelah mengambil keputusan tersebut, maka ketika musim haji tiba kaum musyrikin Arab dengan segera berjaga-jaga di setiap jalan yang menjadi pintu masuk ke Mekkah dengan tujuan memperingatkan setiap orang yang datang agar tidak mendengarkan dakwah RasuluLlah.

  1. Berbagai Upaya Menghentikan Dakwah

Selain apa yang telah disebutkan di atas, masih terdapat berbagai upaya yang mereka lakukan untuk menghentikan dakwah RasuluLlah, di antaranya :

1. Ejekan dan hinaan serta berbagai macam tuduhan.

Hal tersebut Allah kisahkan dalam Al-Quran :

“Mereka berkata : Hai orang yang diturunkan Al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila” (QS. AI-Hijr :6).

Jika Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang miskin mereka mengejeknya :” Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (QS. Al An’am : 53)

Mereka sering menertawakan kaum muslimin, saling mengedipkan mata penuh ejekan jika kaum muslimin berlalu di hadapan mereka, dan menuduh mereka sebagai orang-orang sesat (QS. AI-Muthoffifin : 29-33).

2. Menyebarkan isu negatif dan berbagai bentuk syubhat terhadap ajaran yang dibawa RasuluLlah.

Mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah kebohongan dan dongengan orang-orang dahulu (QS. Al-Furqon : 4-5).

  1. Penawaran

Di antara penawaran yang mereka ajukan kepada Rasulullah adalah berupa ibadah secara bergantian, yaitu dalam satu tahun Rasulullah beribadah kepada tuhan mereka, lalu di tahun berikutnya mereka beribadah kepada Tuhan beliau.

Tawaran yang sangat ‘lucu’ tersebut langsung ditolak oleh Allah Ta’ala dengan menurunkan surat Al-Kafirun :

Katakanlah : “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu lah agamamu, dan untukkulah agamaku”. (QS. AI-Kafiruun : 1-6)

Bersambung in syaa Allah…

BP2A-RDI/150/1/IX/1436
—————————
Follow us:
FB    : Rumah Dakwah Indonesia – RDI
Twit : @RDI_rumahdakwah
IG    : @rumahdakwah
=================================

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *