Rekap Tanya Jawab Syari’ah (67)

Rekap Tanya Jawab Syari’ah~Tjs(67)
     rumahdakwah.id

01. Assalamualaikum ustadzah sy ingin bertanya bgimna jk kita mghdpi org yg sdg sakaratul maut apa ada  surat  yg di bacakan agar mdh sgla proses nya syukran ustadzah

Jawab

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Semoga Allah memberikan kita semua husnul khathimah.

Pertama:
Jika memungkinkan hendaknya keluarga menasehati beliau untuk memperbanyak taubat, istighfar, bersabar, menerima takdir, dan berbaik sangka kepada Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن بالله الظن

“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah Al-Anshary)

Kedua:
Hendaknya kalau beliau memiliki kewajiban kepada seseorang segera menunaikan kewajiban tersebut (seperti hutang, amanat dll), kalau tidak mungkin maka hendaklah beliau berwasiat.

Ketiga:
Sebisa mungkin ada diantara keluarga yang menjaga beliau, sehingga jika sewaktu-waktu beliau mau meninggal ada yang mentalqin (menyuruh atau meminta membaca laa ilaha illallahu).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لقنوا موتاكم لا إله إلا الله

“Talqinlah (tuntunlah) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudry)

Beliau shallalllahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya “laa ilaaha illallah” maka akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dari Mua’dz bin Jabal, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).

Keempat:
Banyak mendoakan dengan husnul khathimah khususnya ketika sakaratul maut dan tidak mengucapkan ppada saat itu kecuali ucapan yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا حضرتم المريض أو الميت فقولوا خيرا فإن الملائكة يؤمنون على ما تقولون

“Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau orang yang mau meninggal maka ucapkanlah ucapan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim, dari Ummu Salamah)

Adapun membaca Al-Quran atau surat Yasin ketika orang mau meninggal maka tidak ada hadist yang shahih tentangnya.

Wallahu a’lam.

© Bunda Ummul aimana S. Ag

02. Assalammualaikum.wr.wb mb mau tanya sebelum tidur kita di sunahkan untuk shalat sunah. Itu shalat sunah apa saja ya? Mohon penjelasannya

Jawab

Waalaikumussalam
Hukum Shalat Dua Raka’at sebelum Tidur?
Saya memiliki kebiasaan yaitu saya menegakkan shalat dua raka’at sebelum tidur yang aku membaca al-Fatihan dan surat-surat pendek di dalamnya. Maka, apakah itu boleh atau bid’ah?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan – semoga Allah merahmatinya – berkata:
“Adab-adab yang bersumber dari Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam – yang disukai (mustahab) untuk diamalkan (sebelum tidur) yaitu:
1.       ia berwudhu’ dan tidur dalam keadaan bersuci,
2.       tidur di atas sisi tubuh yang kanan,
3.       membaca ayat Kursi dan dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, al-mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas),
4.       dan untuk ia berdoa dengan doa yang datang (periwayatannya) dari Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan doa-doa itu banyak jenisnya.
Adapun shalat sebelum tidur dan selalu seperti ini , maka aku tidak mengetahui ada sumbernya dari sunnah Nabi. Namun, jika ia melakukan sebagai shalat sunnah (setelah) wudhu’, maka tidak mengapa sebab adanya dalil tentang itu.”
(Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan)

© Bunda Ummul aimana S. Ag

03. Lalu apa saja ilmu islam dalm jual beli dan perdagangan,mohon pencerahan

Jawab

Ini Adalah Rahasia-rahasia berbisnis Ala Nabi Muhammad SAW :
Cara Berpikir dan BerEtika di dalam Bisnisnya :
Jujur di dalam Bisnisnya, Kejuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis yang di lakukkan oleh RasullAllah Muhammad SAW. Beliau pernah melarang para pedagang untuk meletakkan barang Busuk/jelek di dalam dagangannya. dan beliau selalu memberikan barang sesuai dengan seadannya dan terbaik bagi Konsumennya.
Berprinsip pada nilai Illahi, Bisnis yang di lakukkan tidak terlepas dari pengawasan Tuhan. Dan menyadarkan manusia sebagai makluk Illahiyah (berTuhan).
Prinsip kebebasan Individu yang bertanggung Jawab, Bukan bisnis hasil dari Paksaan atau Riba. Yang menjerat kebebasan Individu.
Bertanggung Jawab, Bertanggung Jawab moral kepada Tuhan atas perilaku Bisnisnya maupun Orang lain/Partner Bisnisnya maupun Konsumennya.
Keadilan dan Keseimbangan, Keadilan dan keseimbangan sosial, bukan hanya keuntungan semata tetapi Kemitraan/bantu membantu di dalam bisnisnya (Win-Win-Solution)
Tidak hanya mengejar keuntungan, dan berorientasi untuk menolong orang lain, Atau WIN Win Solution.
Berniat baik di Bisnisnya, berniat baik adalah Aset Paling berharga oleh pelaku Bisnis selain untuk menjadi terbaik tapi bermanfaat bagi orang lain.
Berani mewujudkan Mimpi, RasullAllah dari seorang penggembala Kambing, berniat untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, menjadi pedagang, lalu Manager hingga beliau mewujudkan cita-citanya menjadi Owner (Pemilik perusahaan) dengan menikahi Siti Khadijah. Beliau adalah Enterprenur Cerdas.
Branding/Menjaga nama baik, RasullAllah selalu menggunakan cara ini sebagai Modal Utama, Track Record sebagai orang Terpercaya (Al Amin), Justru paling di cari dan siapapun ingin bekerja sama dengannya. Sifat inilah yang Sekarang Langka di Jaman ini,Tirulah…
Cara Merintis Bisnis :
Fokus dan Konsentrasi, RasulAllah selalu Fokus terhadap bisnis yang beliau tekuni, Tidak mengerjakan bisnis yang satu ke satunya lagi sebelum beliau menyelesaikannya…
Mempunyai Goal dan rencana yang jelas
Merintis Bisnis Dari NOL, kesuksesan beliau tidak datang dalam satu malam walaupun seorang RasullAllah, tetapi harus dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari seorang Karyawan/Salles hingga jadi Owner. Dan semua tanpa ada praktek KKN.
Tidak Mudah Putus Asa, beliau Berkata : Janganlah kamu berdua putus asa dari rizky selama kepalamu masih bergerak. Karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merahtidak mempunyai baju, Kemudian Allah SWT memberikan rizky kepadanya (HR.Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya)
Berusaha Menjadi Trend Center Inovatif, Semua barang yang di Jual Rasul selalu berbeda dari kompetitornya, dengan harga murah tetapi Hight Quality.
Memahami kondisi dan analisa Pasar
Kemampuan merespon strategi Pesaingnya
Belajar menguasai pasar, Dikisahkan Ketika beliau di Mekkah para pedagang dari kaum Quraisy yang ingin menjatuhkan Bisnisnya, dengan menjatuhkan Harga dengan tidak Wajar. Tetapi beliau menerapkan Hukum Suply&Demand, beliau menyiasati dan bersabar. Hingga semua dagangan para Kompetitornya habis semua.
Rasul baru Menjual Dagangannya karena Rasul Percaya kalau jumlah Permintaan (Demand) jauh lebih tinggi dari jumlah Penawaran (Supply) di Kota itu. Tak lama kemudian Rakyat Kota tersebut membeli Barang Dagangan Rasul dengan Harga Normal, ketika rombongan Pedagang itu pulang Mekkah gempar.
Semua pedagang Rugi akibat banting harga kecuali Nabi Muhammad SAW yang untung besar. Itulah kejelian melihat, menganalisis, dan memahami Pasar. Hingga menguasai Pasar yang ada.
·  Mampu Memanagement Organisasi secara Efektif
· Bisa menghilangkan Mental Blocking, Atau juga yang di sebut dengan Ketakutan yang Berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasul selalu bisa mengalahkan diri sendiri dari hal-hal Negatif (mujahadah).
·  Mampu menarik dan meyakinkan pemilik Modal untuk ikut serta dalam bisnis yang dilaksanakannya
Cara Menjalankan Bisnisnya :
Bekerja Sama (bersinergi), Beliau bersabda “Keberkahan sesungguhnya berada dalam Jamaah. Dan, tangan Allah sesungguhnya bersama Jamaah”
Kerja Pintar, Kreatif dan Visioner
Menerapkan kesepakatan Win-Win-Solution (Saling menguntungkan, dan tidak ada yang dirugikan)
Bekerja dengan Prioritas
Tidak melakukan Monopoli
Selalu berusaha dan Tawakal
Tepat Waktu
Berani ambil Resiko
Tidak menimbun barang dagangan (ihtikar), Rasul melarang Keras pelaku Bisnis dan menyimpan barang pada massa tertentu, hanya untuk keuntungan semata. Rasul bersabda bahwa pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan akan di beri kemudahan. Tapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan mendapat kesusahan (Dalam HR Ibnu Majah dan Thusiy).
Profesional di Bisnis yang Di kelolannya
Selalu Bersyukur di Segala Kondisi
Berusaha dengan Mandiri, Tekun dan Tawakal
Menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliaan dalam proses interaksi bisnis
Melakukan bisnis berdasarkan Cinta (Passion).
Tidak MenZhalimi (Merugikan Orang lain)
Rajin Bersedekah

Cara memasarkan Produk :
Memasarkan Produk yang Halal dan Suci
Tidak melakukan Sumpah Palsu,
Tidak merpura-pura menawar dengan harga tinggi, Agar orang lain tertarik
Melakukan timbangan dengan benar
Tidak menjelekkan bisnis Orang lain, Beliau bersabda ” Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (HR. Muttafaq ‘alaih)
Pintar beriklan/Promosi, Rasul hafal betul dimana ada Bazaar di suatu tempat tertentu. Sehingga makin banyak orang mengenal beliau dan barang dagangannya.
Transparansi (keterbukaan), Beliau bersabda “Tidak dibenarkan seorang Muslimin menjual satu-satu jualannya yang mempunyai aib, sebelum dia menjelaskan aibnya” (HR. Al-Quzuwaini)
Mengutamakan pelanggan (Customer Satisfaction)
Networking (Jejaring) di wilayah lain
Cakap dalam berkomunikasi dan bernegosiasi (tabligh)
Tidak mengambil Untung yang berlebihan
Mengutamakan penawar pertama
Menawar dengan harga yang di inginkan
Melakukan perniagaan sepagi mungkin, RasulAllah mendoakan orang-orang yang pagi-pagi dalam bekerja. “Ya Allah, berkahilah umatku dalam berpagi-paginya mereka” (HR.Shahr Al Ghamidi)
Menjaga Kepercayaan pelanggan
Mewujudkan Win-Win Solution
Barang Niaga harus bermutu, Murah, Bermanfaat, Mutakhir dan Berkualitas
Kemudahan dalam hal transaksi dan pelayanan
Menentukan Harga dengan jelas ketika akad (Deal)
Cara berhubungan dengan Karyawan :
Berbagi perhatian kepada karyawan, Tidak memilih-milih karyawan Istimewa semua sama.
Bermitra Bisnis, Karyawan dan Majikan seperti hubungan kekeluargan yang kental. Bukan seperti Tuan dan Budak.
Memberi gaji yang Cukup kepada Karyawannya
Memberi gaji tepat Waktu kepada Karyawannya, Sebelum keringat karyawan kering
Tidak membebani Karyawan dengan tugas diluar kemampuannya
Karyawan di Wajibkan kerja sungguh-sungguh dengan seluruh kekuatannya
Sering memberikan Bonus-bonus tambahan di luar gaji pokok
Contoh di Atas adalah sebagian kecil dari sifat-sifat Suri tauladan Rasul Allah Muhammad SAWyang bisa kita Contoh dalam membangun Kerajaan Bisnis Kita, jauh lebih Sukses, berakhlak dan membantu terhadap sesamanya.

© Bunda Ummul aimana S. Ag

04. Assalamuallaikum Mba,saya mau nnya ,kalau stiap habs sholat kita mendoakan atau membaca surat al-ikhlas untuk orang yg meninggal,apakah itu akan sampai ke orng yg sudah meninggal dan apakah bisa meeingankan siksa kubur nya. Wassalammuallaikum terimakasih

Jawab

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah mengirim pahala untuk orang yang telah meninggal diperselisihkan oleh Ulama’, ada yang mengatakan pahalanya sampai ke yang telah meninggal dan ada yang mengatakan pahala tersebut tidak sampai kepadanya.

Imam An-Nawawi memberikan keterangan (kami terjemahkan): adapun bacaan Al-Qur’an maka pendapat yang terkenal di Madzhab Syafi’i adalah: pahala bacaan itu tidak sampai ke Mayit. Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al-Hajjaj oleh imam An-Nawawi 1/90, Dar Ihya’ At-Turots Al-Arabi

Pendapat ini juga didukung oleh Komite Tetap dalam Fatwa dan Riset Ilmiyah Arab Saudi, ini diketahui dari jawaban Mereka dari pertanyaan seputar masalah itu, berikut ini Kami terjemahkan tanya jawab tersebut.

05. Pertanyaan:
Jika seseorang membaca salah satu surat di Al-Qur’an, kemudian dia menghadiahkan pahalanya untuk orang yang telah meninggal, apakah orang yang telah meninggal tersebut mengambil faedah dari pahala itu atau tidak?….

Jawab

Jika seseorang membaca Al-Qur’an, kemudian ia memberikan pahalanya kepada orang yang telah meninggal maka pahala itu tidak sampai ke orang yang telah meninggal itu, ini pendapat yang benar, karena membaca Qur’an itu bukan amalan orang yang telah meninggal tersebut, sedangkan Allah telah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (النجم:٣٩)
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya
….
Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/44, Riasah Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Riyadh)

Pada kesempatan lainnya Komite Fatwa tersebut menyebutkan bahwa amalan seperti ini tidak disyariatkan karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mencontohkannya, begitu pula para sahabatnya rodhiyallahu anhum.

Seandainya ini baik dan disyariatkan oleh Allah ta’ala niscaya Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menjadi orang pertama yang melaksanakannya, sebab Beliau adalah Manusia yang sangat cinta dengan ummatnya dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/43, Riasah Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Riyadh)

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

© Bunda Ummul aimana S. Ag

06. Assalamuallaikum Mba,saya mau nnya ,kalau stiap habs solt kita mendoakan atau membaca surat al-ikhlas untuk orang yg meninggal,apakah itu akan sampai ke orng yg sudah meninggal dan apakah bisa meeingankan siksa kubur nya. Wassalammuallaikum terimakasih

Jawab

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah mengirim pahala untuk orang yang telah meninggal diperselisihkan oleh Ulama’, ada yang mengatakan pahalanya sampai ke yang telah meninggal dan ada yang mengatakan pahala tersebut tidak sampai kepadanya.

Imam An-Nawawi memberikan keterangan (kami terjemahkan): adapun bacaan Al-Qur’an maka pendapat yang terkenal di Madzhab Syafi’i adalah: pahala bacaan itu tidak sampai ke Mayit. Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al-Hajjaj oleh imam An-Nawawi 1/90, Dar Ihya’ At-Turots Al-Arabi

Pendapat ini juga didukung oleh Komite Tetap dalam Fatwa dan Riset Ilmiyah Arab Saudi, ini diketahui dari jawaban Mereka dari pertanyaan seputar masalah itu, berikut ini Kami terjemahkan tanya jawab tersebut.

07. Jika seseorang membaca salah satu surat di Al-Qur’an, kemudian dia menghadiahkan pahalanya untuk orang yang telah meninggal, apakah orang yang telah meninggal tersebut mengambil faedah dari pahala itu atau tidak?

Jawab

Jika seseorang membaca Al-Qur’an, kemudian ia memberikan pahalanya kepada orang yang telah meninggal maka pahala itu tidak sampai ke orang yang telah meninggal itu, ini pendapat yang benar, karena membaca Qur’an itu bukan amalan orang yang telah meninggal tersebut, sedangkan Allah telah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (النجم:٣٩)
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya
….
Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/44, Riasah Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Riyadh)

Pada kesempatan lainnya Komite Fatwa tersebut menyebutkan bahwa amalan seperti ini tidak disyariatkan karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mencontohkannya, begitu pula para sahabatnya rodhiyallahu anhum.

Seandainya ini baik dan disyariatkan oleh Allah ta’ala niscaya Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menjadi orang pertama yang melaksanakannya, sebab Beliau adalah Manusia yang sangat cinta dengan ummatnya dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/43, Riasah Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Riyadh)

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

© Bunda Ummul aimana S. Ag

08. Hasil pernikahan seorang ibu dan suaminya dikarunia 3 anak laki-laki  kandung dan satu  orang anak laki-laki tiri yang dibawa suaminya sebelum menikah. Keadaan harta sampai sekarang masih sama / tidak bertambah. Bagaimana pembagian warisnya?

Jawab :

Yang berhak mendapat harta warisan adalah anak kandung dari hasil perkawinan yaitu  3 orang laki-laki. Dalam hukum waris anak laki-laki adalah ashobah ( penerima semua harta atau semua sisa harta). Jika anak laki-lakinya 3 orang berarti harta warisan tersebut di bagi 3, setelah dikurangi wasiat dan hutang piutang. Sedangkan anaklaki-laki tiri tidak berhak mendapat warisan kecuali ada wasiat yang sifatnya hibah (pemberian).

© Ustadz M. Lukmanul Hakim S. Pd. I

09. Bagaimana hukumnya memanjangkan pakaian bagi wanita menurut syariat Islam?

Jawab

Dalam sebuah hadits yang diriwayakan oleh At Tirmidzi bahwasanya k etika Rasulullah SAW  menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah RA berkata kepada Rasulullah, “ Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah? ” Beliau menjawab, “ Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal” .  Ummu Salamah berkata : “Jika demikian masih tersingkap”.  ” Satu hasta saja dan jangan lebih dari itu”. Jawab beliau.
(HR. At Tirmidzi)
Dari hadits diatas diperoleh kesimpulan bahwa  wajibnya bagi wanita untuk menutup aurat sampai ujung kaki. Maka permpuan  jika berpakaian hendaklah memanjangkannya kainnya satu jengkal, dan kalu masih tersingkap boleh sampai satu hasta. Jika memanjangkan pakaian lebih dari satu hasta maka dianggap berlebihan ( mubazir).

10. Lalu bagaimana dengan pesta perkawinan yang pakaiannya panjang melebihi satu hasta ?

Jawab

Dalam perkawinan Islami tentunya akan mengikuti syari’at  di atas, maka tidak diperbolehkan memakai kain yang panjangnya melebihi satu hasta dari mata kaki.

© Ustadz M. Lukmanul Hakim S.Pd.I

11. Bagaimana hukumnya perempuan di sunat  ?

Jawab

Pada hakekatnya di sunat adalah membersihkan kulup yang menutupi lubang kencing baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Hukum sunat bagi perempuan adalah sunnah.

© Ustadz M. Lukmanul Hakim S.Pd.I

===============================
©Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia
                  Tim P n k
===============================

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *