Tafsir QS. Al Baqarah: 15

Rumah Dakwah Indonesia????????

www.rumahdakwah.id

Oleh: Ustadz Alfan
(Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia)

Tafsir QS. Al Baqarah: 15

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(QS. Al Baqoroh: 15)

????Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini dan yang serupa dengan nya merupakan ejekan, penghinaan, makar, dan tipu muslihat Allah SWT. Terhadap orang-orang Munafik dan orang-orang Musyrik, menurut orang yang menakwilkan ayat ini dengan pengertian tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama’ lainnya mengatakan bahwa ejekan Allah terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan Allah terhadap mereka karena mereka telah berbuat durhaka dan kafir kepada-Nya.
Ibnu Jarir mengatakan pula, “Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa ungkapan seperti ini dan yang semisal merupakan ungkapan pembalikan.” Perihalnya sama dengan ungkapan seorang terhadap orang yang menipunya bila ternyata ia dapat membalikkan tipuan lawannya, “Justru akulah yang telah menipumu (bukan kamu yang menipuku).”
Akan tetapi, dalam hakikatnya Allah tidak melakukan tipuan; melainkan dia mengatakan hal tersebut hanya semata-mata menggambarkan tentang akibat dari apa yang diperbuat mereka. Para ulama’ yang berpendapat seperti ini mengatakan bahwa hal yang sama terdapat pula dalam firman-Nya:
“Orang orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik baik pembalas tipu daya.
(QS. Ali Imran: 54)

Allah (membalas) olok olokan mereka.
(QS. Al Baqoroh: 15)

Hal tersebut merupakan jawaban semata, karena sesungguhnya Allah tidak melakukan makar dan tidak pula ejekan. Dengan kata lain makna yang dimaksud ialah bahwa makar dan tipu daya mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri (barang siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya).

Ulama’ lain mengatakan bahwa Firman-Nya:
“Mereka (orang-orang munafik) menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.”
(QS. An Nisa’: 142)

“Maka orang orang munafik itu menghina mereka. Maka Allah akan balas penghinaan mereka.”
(QS. At Taubah: 79)

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.”
(QS. At Taubah: 67)

Demikianlah ayat-ayat lain yang semakna, semuanya merupakan berita dari Allah bahwa Dia pasti memberikan balasan terhadap mereka dengan balas memperolok-olok dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan. Kemudian berita mengenai balasan Allah dan siksaan-Nya kepada mereka diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama dengan perbuatan mereka dan menyebabkan mereka berhak mendapat siksaan-Nya, hanya dari segi lafadznya saja, tetapi makna-Nya berbeda. Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas(tanggungan) Allah.”
(QS. As Syura: 40)

“Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangan nya terhadap kalian.”
(QS. Al Baqoroh: 194)

Makna pertama mengandung aniaya, sedangkan makna yang kedua mengandung pengertian keadilan. Lafadz yang dipakai pada keduanya sama, tetapi makna yang dimaksud berbeda.
????Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Allah memberitakan perihal orang-orang munafik; apabila mereka berkumpul dengan pimpinan pimpinnya, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian dalam mendustakan Muhammad dan apa yang didatangkannya. Sesungguhnya kata-kata yang kami ucapkan dari sikap yang kami perlihatkan kepada mereka hanyalah mengolok-olok mereka. Maka Allah memberi tahu bahwa dia membalas mengolok-olok mereka. Untuk itu, Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari hukum-hukum-Nya di dunia, yaitu darah mereka terpelihara, begitu pula harta benda mereka, padahal hal itu kebaikan dari apa yang akan terjadi pada diri mereka kelak di hari kemudian di sisi-Nya, yaitu azab dan siksaan.

Ad Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa fi tugyanihim ya’ mahun artinya di dalam kekufurannya mereka terombang-ambing. Hal yang sama di tafsirkan pula oleh As Saddi berikut sanad nya dari para Sahabat.
Ibnu Jarir mangatakan lafadz Al ‘amah artinya sesat, dikatakan ‘amiha fulanun, ya’mahu, ‘amahan, dan amuhan artinya si fulan telah tersesat, ibnu jarir mengatakan, makna fi tugyanihim ya’mahun artinya ialah di dalam kekufuran dan kesesatan yang menggelimangi dan menutupi diri mereka karena perbuatan kotor dan najis, mereka terombang-ambing dalam kehidupan dan kesesatan, mereka tidak akan dapat menemukan jalan keluar, karena Allah telah mengunci hati mereka dengan mengelaknya serta membutakan pandangan hati mereka dari jalan hidayah, hingga tertutup pandangan mereka, tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat pula mengetahui jalannya.

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa al ‘ama (buta) khusus bagi buta mata, sedangkan Al ‘amah khusus bagi buta hati, tetapi adakalahnya lafadz al ‘ama dipakai untuk pengertian buta hati, seperti yang terdapat dalam firman-Nya:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(QS. Al Hajj: 46)

Dikatakan ‘amihar rajulu artinya lelaki itu pergi tanpa mengetahui tujuan. Bentuk mudhari’ nya ya’mahu, bentuk isim fa’il-nya ‘amihun dan ‘amihun; bentuk jamaknya ‘amahun, sedangkan bentuk masdar nya ialah amuhan. Dikatakan sahabat ibiluhul ‘amha-u jika untanya tidak diketahui kemana perginya.

—————————–
BP2A-RDI/266/2/V/1437
—————————–
Follow us:
FB : Rumah Dakwah Indonesia – RDI
Twit : @RDI_rumahdakwah
IG : rumahdakwah
Channel tele : @rumahdakwahindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *