Rekap Tanya Jawab Syariah (130)

               Rekap Tanya Jawab Syariah 130
                     Rumah Dakwah Indonesia

1. Assalamualaikum ustadz… mau nanya nih… bisa tolong beri penjelasan tentang rapatnya kaki dan bahu saat sholat berjamaah. Syukron 🙂

Jawab

Meluruskan barisan dalam shalat adalah perintah Rasululloh saw. Sebagaimana dalam hadits Nu’man bin Basyir ia berkata: “Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kepada manusia kemudian beliau berkata, “Luruskan shaf-shaf kalian, -diulang sebanyak tiga kali-, Demi Alloh, kalian luruskan shaf kalian atau Alloh jadikan di antara hati kalian saling berselisih,” (HR. Bukhari dan Muslim dan Abu Daud).
Dalam hadits ini menunjukkan wajibnya meluruskan shaf, yang mana hal ini sekarang diremehkan oleh kebanyakan orang. Rapatnya shaf dalam shalat ditunjukan dengan saling menempelnya bahu dan mata kaki orang-orang yang sedang shalat berjamaah. Dalam Sunan Abi Daud Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan-setan masuk di sela-seka shaf seperti seekor anak domba”.

© Ustadzah Sinta Santi

2. Assalammu’alaikum ustadz,  ini ada pertanyaan pas lagi diskusi.apakah orang yg telh berbuat hubungan badan (lk/pr) dn positip hamil kemudian menikah resmi.setlah lahir anak tersebut, apakah harus menikah lagi?

Jawab

Nikahnya sah, jika calon istrinya adalah wanita itu adalah orang yang telah berbuat hubungan badan dengannya dan positif hamil. Tidak perlu diulangi pernikahannya.

© Ustadzah Sinta Santi

3. Assalamualaykum. Saya nak tanya, begini  Jika seseorang sakit, sakitnya tidak parah tapi jika ia berwudhu menggunakan air badannya langsung panas dan sakit lebih parah. Sehingga kali ia berwudhunya tayammum. Bagaimana hukumnya?

Jawab

jika memang sakit tiada mengapa tayammum, namun selepas bisa terkena air, kebiasaan tayammumnya dihentikan

ps. dalam artian yang bersangkutan tiada bisa terkena air secara total, kalau ternyata ia masih bisa mandi, maka wajib atasnya berwudhu
والله أعلم

©Ustadz Hizbullah Ali

4. Sy pernah mmbaca hadits ttg akan dtutupnya hati seseorang yg 3x tdk mnunaikan sholat jumat . Prtanyaan saya: apakah akibat yg akan diterima bagi muslim yg dtutup pintu hatinya?

Jawab

Pertama, yang dimaksud ‘Allah kunci hatinya’ adalah Allah menutup hatinya dan menghalangi masuknya hidayah dan rahmat ke dalam hatinya. Kemudian digantikan dengan kebodohan, sifat beringas, dan keras kepala. Sehingga hatinya seperti hati orang munafik. Demikian keterangan al-Munawi dalam Faidhul Qodir (6/133).

Ketika hati seseorang sudah dikunci mati, dia menjadi kebal hidayah. Seberapapun peringatan yang dia dengar, tidak akan memberikan manfaat dan tidak akan menggerakkan hatinya. Seolah dia terhalang untuk bertaubat.

Hukuman semacam ini mirip dengan hukuman yang Allah berikan kepada Iblis. Karena pembangkangannya, Allah tutup kesempatan bagi Iblis untuk bertaubat. Sungguh hukuman yang sangat menakutkan.

Demikian pula keadaan orang munafik. Karena batin mereka mengingkari kebenaran, Allah kunci mati hatinya, sehingga mereka menjadi bodoh dengan hidayah,

فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ

”Lalu hatinya dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun: 3).

Kedua, semua perbuatan dosa dan maksiat, akan menjadi sebab tertutupnya hati. Semakin besar dosa yang dilakukan seseorang, semakin besar pula penutup hatinya. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihkan. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi 3334, dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

©Ustadz Ammi Nur Baits

===================================
       Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia
                             Tim P n K
===================================

2 comments

  1. Putri Kusumastuti Reply

    Assalamualaykum ust sy putri dari depok. Mau tanya kalo sy menjadi imam sholat dan jamaahnya perempuan hanya 1 orang sj, letak iman itu di kiri atau di kanan ya? Jazakillah

    • rumah dakwah Reply

      وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

      Jika makmum hanya satu orang, maka imam di kiri, sedang makmun di kanan, hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ,

      …ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ…

      “…Kemudian aku datang sampai berdiri di sebelah kiri RasuluLlah ﷺ, lalu beliau memegang tanganku dan menarikku hingga membuatku berdiri di sebalah kanan beliau ﷺ….” (HSR. Muslim)

      Namun jika jama’ah wanitanya mencapai 1 shaf, maka posisi imam ada di tengah2 shaf, bukan di depan shaf

      Dari Hujairoh binti Husain, dia mengatakan :

      أمتنا أم سلمة في صلاة العصر قامت بيننا

      “Ummu Salamah pernah mengimami kami (para wanita) ketika shalat Ashar dan beliau berdiri di tengah-tengah kami.” (HR. Abdur Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi)

      Dari Roithoh Al Hanafiyah, dia mengatakan :

      أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة

      “Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi)

      وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

      Ustad Satria Ibnu Abiy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *