RIBA

Review anda

Notulensi Kajian Bulanan Rumah Dakwah Indonesia

Hari : Kamis, 06 Agustus 2016

Grup : 13 akhwat

Muwajjih : ust.Muslim Maksum

Tema : RIBA

Admin : Anggie

Moderator : Pinta

Notulen   : Pinta

MUQADIMAH

————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..

Aamiin

========================

Materi :

_________________

MAKNA DAN MACAM-MACAM RIBA

Secara lughah (bahasa) riba artinya tambahan, sedangkan menurut istilah syara’ (agama), para fuqahâ’ (ahli fiqih) memberikan ta’rîf (difinisi) yang berbeda-beda kalimatnya, namun maknanya berdekatan.

al-Hanafiyyah menyatakan riba adalah kelebihan yang tidak ada penggantinya (imbalannya) menurut standar syar’i, yang disyaratkan untuk salah satu dari dua orang yang melakukan akad penukaran (harta). [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/50]

Syâfi’iyyah menyatakan riba adalah akad untuk mendapatkan ganti tertentu yang tidak diketahui persamaannya menurut standar syar’i (agama Islam) pada waktu perjanjian, atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang ditukar, atau salah satunya. [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/50]

Hanabilah menyatakan riba adalah perbedaan kelebihan di dalam perkara-perkara, mengakhirkan di dalam perkara-perkara, pada perkara-perkara khusus yang yang ada keterangan larangan riba dari syara’ (agama Islam), dengan nash (keterangan tegas) di dalam sebagiannya, dan qiyas pada yang lainnya. [al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/50]

Definisi riba ini akan lebih jelas jika kita mengetahui macam-macam riba, sebagai berikut:

1. Riba an-Nasî’ah (Riba Karena Mengakhirkan Tempo)

Yaitu: tambahan nilai hutang sebagai imbalan dari tempo yang diundurkan. Dinamakan riba an-nasî’ah (mengakhirkan), karena tambahan ini sebagai imbalan dari tempo hutang yang diundurkan. Hutang tersebut bisa karena penjualan barang atau hutang (uang).

Riba ini juga disebut riba al-Qur’an, karena diharamkan di dalam Al-Qur’an. Allâh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allâh dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. [al-Baqarah/2: 278-279]

Ayat ini merupakan nash yang tegas bahwa yang menjadi hak orang yang berpiutang adalah pokok hartanya saja, tanpa tambahan. Dan tambahan dari pokok harta itu disebut riba. [Lihat Taudhîhul Ahkâm min Bulûghil Marâm, 4/6, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam]

Jika tambahan itu atas kemauan dan inisiatif orang yang berhutang ketika dia hendak melunasi hutangnya, tanpa disyaratkan maka sebagian ahli fiqih membolehkan. Namun orang yang berhati-hati tidak mau menerima tambahan tersebut karena khawatir itu termasuk pintu-pintu riba, wallahu a’lam. [Lihat Fathul Bâri pada syarh hadits no: 3814]

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan larangan ini dalam khutbah wada’ dan hadits-hadits lainnya. Sehingga kaum Muslimin bersepakat tentang keharaman riba an-nasîah ini.

Riba ini juga disebut riba al-jahiliyyah, karena riba ini yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.

Riba ini juga disebut riba jali (nyata) sebagaimana dikatakan oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab I’lâmul Muwaqqi’in, 2/154. [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/57]

Riba ini juga disebut dengan riba dain/duyun (riba pada hutang), karena terjadi pada hutang piutang.

Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang riba yang tidak diragukan (keharamannya-pen), dia menjawab, “Riba itu adalah seseorang memiliki piutang, lalu dia berkata kepada orang yang berhutang, “Engkau bayar (sekarang) atau (pembayarannya ditunda tapi dengan) memberi tambahan (riba)?” Jika dia tidak membayar, maka orang yang berhutang memberikan tambahan harta (saat pembayaran), dan pemilik piutang memberikan tambahan tempo. [I’lâmul Muwaqqi’in]

Imam Ibnul ‘Arabi al-Mâliki rahimahullah berkata, “Orang-orang jahiliyyah dahulu biasa berniaga dan melakukan riba. Riba di kalangan mereka telah terkenal. Yaitu seseorang menjual kepada orang lain dengan hutang. Jika waktu pembayaran telah tiba, orang yang memberi hutang berkata, “Engkau membayar atau memberi riba (tambahan)?” Yaitu: Engkau memberikan tambahan hartaku, dan aku bersabar dengan waktu yang lain. Maka Allâh Azza wa Jalla mengharamkan riba, yaitu tambahan (di dalam hutang seperti di atas-pen). [Ahkâmul Qur’an, 1/241, karya Ibnul ‘Arabi]

Dengan penjelasan di atas kita mengetahui bahwa riba jahiliyyah yang dilarang dengan keras oleh Allâh dan RasulNya adalah tambahan nilai hutang sebagai imbalan dari tambahan tempo yang diberikan, sementara tambahan tempo itu sendiri disebabkan ketidakmampuannya membayar hutang pada waktunya. Jika demikian, maka tambahan uang yang disyaratkan sejak awal terjadinya akad hutang-piutang, walaupun tidak jatuh tempo, yang dilakukan oleh bank, BMT, koperasi, dan lainnya, di zaman ini, adalah riba yang lebih buruk dari riba jahiliyyah, walaupun mereka menyebut dengan istilah bunga.

Jenis riba ini yg banyak dan berkembang sekarang…

Oleh karena saya hanya bahas riba jenis ini saja…

Akadnya pinjaman dan minta kembalian lebih…. itulah riba…

Silahkan kita perdalam dgn pertanyaan dan masukan

===========================

REKAP TANYA-JAWAB

—————————————

1. ustadz, sy mau bertanya. jasa raharja adalah perusahaan asuransi kecelakaan. yg apabila ada kecelakaan lalu lintas, pihak mereka memberikan santunan kpd keluarga korban. pertanyaan saya, apakah gaji pegawai jasa raharja itu termasuk riba? krn itu kan termasuk dlm asuransi..

trus bagaimana mereka dlm membiayai keluarga mereka? brrti harta yg dia berikan untuk keluarganya adalah haram?

syukran ustadz

↠ Asuransi sekarang kebanyakan adl riba…

Bagusnya kita tak terima… namun kl memang sgt membutuhkan krn kondisi2 tertentu Allah maafkan… namun pastikan kita dpt mempertanggungjawabkan dihadapan Allah nanti di akhirat bahwa kita memang sangat memerlukannya…

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

2. Ustad…

Saya bu Reni

Didalam keseharian kita sering kerja sama dgn org lain. Ketika org tersebut menggabungkan modalnya dgn kita,kita akad kan dengan kruntungan sekian persen dari modal nya apakah itu termasuk riba???

↠ Bagi hasil hrs ada hitungan bagi2nya…

Jelaskan di awal dia dpt berapa persen dari hasil… DARI HASIL bukan dari modal yg dia berikan

__________________————-

3. Assalamu’alaikum ustadz,, saya achie,, ijin bertanya,, bagaimana hukumx apabila kita menyicil kendaraan atau elektronik di perush pembiayaan sepert ad*ra, ,,, apa itu termasuk riba? Syukron

–> Masih ada unsur ribanya… krn ada sistem denda saat telat bayar..

__________________————-

4. Ustadz,ana pinta.

Izin bertanya:

di sekolah kami ada koperasi utk guru & pegawai.

Nahh di koperasi itu ada kegiatan sosialnya seperti mengunjungi kluarga anggota yg sakit / meninggal dan kegiatan sosial lainnya. Dan juga paket lebaran utk seluruh anggota.

Untuk kegiatan2 tsb tidak dipungut dari anggota lagi,melainkan diambil dari “jasa pinjaman anggota” yakni sebesar 1% dari pinjaman / bulan.

Pertanyaan ana : apakah hal ini juga termasuk riba?

–> Tujuan2 tujuan yg baaik tsb hendaknya dihasilkan dari akad jual beli yg dibolehkan bukan dari hasil akd riba.. pinjam 100 bayar 110 dst….

__________________————

5. ustadz mau bertanya lagi, bagaimana dgn keluarganya yg dia beri nafkah? apakah dia harus keluar dr pekerjaannya itu atau tetap bertahan di perusahaan tsb (jasa raharja)? sedangkan memberi nafkah  ke keluarga harus dari rezeki yg halal

–> Berusahalah semaksimal mungkin agar dpt kerjaan yg hasilnya adalah halal… kl belum dpt bayak2 lah istighfar dan mhn ampunannya

__________________————-

6. Ustad… tanya lg ya

Berhubungan dgn pertanyaan td.

Saya pernah diajak teman menanamkan modal ke perusahaan ternaknya,dengan perhitungan keuntungan 2% perbln dlm jangka waktu 1 thn. Setelah sethn ternak boleh diambil dlm keadaan sehat. Dalam masa pemeliharaannya semua resiko mrk yg tanggung. Apakah ini diperbolehkan???

–> Dari angka 2 persen… sy dpt pastikan bahwa  2 persen dari modal yg ditanam…. mis modal 100 jt dapat 2 persen dari 100 jt maka 2 jt perbulan… hukumnya haram

__________________———-

7. MasyaAllah… gitu ya ustsdz.. berarti salama ini praktek bagi hasil itu sering tdk sesuai dg syari’ah y ustadz?

–> Saya sgt sedih banyak ummat islam yg tak paham masalah ini…. selalu bagu hasil dilakukan dgn prosentase dati modal yg diinvestasi

__________________————-

8. Maaf mau bertanya ust, sy ikut suatu komunitas yg sekarang ini menyepakati bersama untuk menjadi suatu lembaga yg tujuannya untuk mencari penghasilan. . Terapi sekarang ini ada banyak pembukuan keuangan yg tidak jelas, dan ada potongan 10% dr setiap job baik besar maupun kecil dr mulai 30rb Sampai brpapun tetap dipotong tetapi kembali ke pembukuan yg tidak jelas. . Bagaimana itu hukumnya Ust? Karena hal tersebut kami mulai tidak nyaman. . Sedangkan buka kami ingin keluar dr lembaga maka ancamanya semua job kami yg ada hubungan dg lembaga harus dilepas semua??

–> Harus kembali ke akad awal…dan kalau sdh sesuai dgn islam maka perlu dibuka secara transfaran agar jelas dan tak ada sangkaan sangkaan yg negatif….

Selesaikan secara transparan dan musyawarah dgn baik baik

__________________————

9. ustadz, mau tanya lagi.

dlm alqur’an surah apa dan ayat berapa yg dibahas mengenai riba dan ancamannya?

–> Srh albaqarah halaman 3 sebelum akhir surah albaqarah… lihat sendiri

Clossing Statement :

———————-oOo———————-

PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~

®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *