Arti Sebuah Kepimpinan

Review anda

Notulensi Kajian Khusus Ikhwan Rumah Dakwah Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari : Jum’at, 19 Agustus 2016

Grup : Kajian Ikhwan

Muwajjih : Ust Dwi Andi

Tema : Arti Sebuah Kepimpinan

Moderator : Irvan Reza

Notulen : Muhammad Ramadhani Manurung

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

 اَمَّابَعْد..

 Alhamdulillaah, puji syukur kita panjatkan kepada Illahi Rabbi, atas segala Ni’mat & Karunai-Nya, sehingga kita masih bisa sama-sama mengikuti Kajian pada malam hari ini.

Puji syukur kehadirat Allah ﻋﺰّﻭﺟﻞّ  atas sgla nikmt dan karuniaNya shingga kita bisa berjumpa  dalm kajian Online ini, dalm kafaah keilmuan kita untuk lebih baik lagi dalm bertaqarrub kepada Allah, mnguatkn Azzam dlm jamaah, memaksimalkn potensi dakwah, menyemaikan syariah dalam bermuamalah hingga dunia bersemai indah.

Shalawat dan shalam kita haturkn pd baginda Nabi besar Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yg berahklak mulia, meski dijamin masuk surga oleh Allah, beliau terus beramal dlm kebaikn . Smoga trus memotivasi kita untuk terus mjdi pribadi lebih baik.

 Semoga duduk² kita di istana group RDI ini adalah duduknya para penduduk surga di taman² surga

Semoga pengorbanan waktu dan paket data sahabat surga yang hadir malam ini tercatat sebagai buliran² pemberat amal kebaikan di hari perhitungan kelak. Aamiin

ARTI SEBUAH KEPEMIMPINAN

Dwi Andi Syahputra Lubis

Di sebuah acara seminar parenting, saya pernah tersentak oleh penuturan (baca: curhat) seorang ustadzah yang mempertanyakan mengapa ayat yang dibaca saat akad nikah biasanya yaitu Surah Ar-Rum: 21 atau An-Nisa’: 1. Mengapa bukan At-Tahrim: 6 ?

Saya jadi teringat hadits,

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemerintah adalah pemimpin, seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin atas keluarganya, seorang wanita (istri) adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Terkait judul di atas, ternyata masalah kepemimpinan cukup kompleks. Wajar bila kata kepemimpinan dalam bahasa Arab cukup banyak, di antaranya: imamah, khilafah, ri’asah, ri’ayah, qiyadah, qawamah, siyasah, dan lainnya.

Siapapun kita, rakyat jelata atau kepala negara, dari bangun tidur sampai tidur lagi, adalah pemimpin, baik atas diri sendiri apatah lagi atas rakyatnya.

Jika kita urutkan, kepemimpinan itu mencakup:

– diri sendiri

– keluarga/rumah tangga

– masyarakat

– tanah air, bangsa, dan negara.

Tidak terlalu panjang lebar, insya Allah kita akan coba kaitkan semuanya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mendapatkan laporan dari para amil zakat bahwa tidak ada yang mau menerima harta zakat. Entah karena tidak ada lagi yang miskin, atau orang-orang yang dianggap para amil masuk sebagai ashnaf (mustahaq/mustahiq) secara sadar tidak merasa miskin, atau para ashnaf itu sesungguhnya takut atas azab/siksa Allah bila menerima harta zakat yang menurut mereka bukan haknya.

Alhasil, karena tidak ada yang mau menerima zakat, dan harta zakat yang telah dikumpulkan dan telah akan didistribusikan,  dikembalikan lagi ke baitul mal. Mari kita renungi dalam-dalam bagaimana pemanfa’atan harta zakat versi Sang Khalifah, “Mana yang mau nikah?” tanyanya kepada rakyat seketika.

Kisah nyata di atas adalah pemaknaan tentang sekelumit arti sebuah kepemimpinan.

Setiap individu warga negara sudah “tercerahkan” akan bahaya menerima harta yang bukan haknya. Secara umum, pribadi kaum muslimin menuju keshalihan.

Bila setiap pribadi shalih dan shalihah membina mahligai rumah tangga dengan rasa tanggung jawab, bahkan Sang Khalifah merasa bertanggung jawab akan hal ini, maka terbentuklah keluarga Islami yang menerapkan nilai-nilai Islam. (Walaupun semua biaya terkait pernikahan mereka menggunakan dana kekhilafahan, hehehe….)

Seterusnya, kita memahami bahwa keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Keluarga-keluarga telah Islami, masyarakat pun masyarakat yang Islami.

Sehingga terciptalah bangsa dan negara yang Islami, menerapkan nilai-nilai Islam secara kaffah (totalitas). Pemimpin adalah cerminan rakyat, dan rakyat adalah sebagaimana pemimpinnya.

Dari hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar, sejatinya kepemimpinan telah diatur sedemikian rupa dalam agama kita tercinta.

Sebagai renungan,

mengapa ayat tentang lembaga negara–dalam hal ini qishash—ayatnya lebih dahulu  daripada ayat tentang puasa, ibadah agung yang merupakan rukun Islam keempat?

Dengan pangkal ayat yang sama, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikum….”

Qishash ayat 178 sedangkan puasa ayat 183, Surah Al-Baqarah.

Jika pemimpin yang memimpin, pemerintah yang memerintah, penguasa yang berkuasa, memaksimalkan perannya dalam kebaikan Islam dan kaum muslimin, maka endingnya: bahkan setiap individu muslim akan terpimpin dengan sendirinya, tercukupi dengan opini publik dari pemerintah akan kebaikan, kebaikan, dan kebaikan.

Wa maa adraaka maa ‘Umar ibnu ‘Abdil ‘Aziz…???

Kurang dari tiga tahun memerintah.

Wallaahu a’lamu bish-shawaab….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rekap Tanya Jawab

1. Fadly – binjai – jadi gini ustad,ini masalahnya terkait fiqh pertimbangan, memang boleh ya ikut memperjuangkan memperebut kepemimpinan dengan ikut berdemokrasi,sementara sistem demokrasi termasuk sistem liberal?

Ada tidak dalil yg shohih ustad?

Jawab : Ikut memperjuangkan memperebut kepemimpinan hukumnya bukan boleh saja, tapi wajib.

2. Assalamualaikum,ana Ahmad syahbani dari siantar, di simalungun kami punya pemimpin bupati seorang nasrani, apa kita boleh taat sama dia ustad?

Jawab : Wa’alaikum salam….

Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk semulia apa pun ia, bila memerintahkan kepada kemusyrikan, kekafiran, kemaksiatan, kezaliman, atau kemungkaran.

Jika tidak ada arah ke sana, maka tetap dipatuhi dalam hal duniawi. (QS. Al-Mumtahanah: 8-9).

3. Ustad,bnyak masyarakat punya frame lebih baik memilih pemimpin kafir yang kerjanya baik,dari pada pemimpin muslim tapi berakhlak buruk(korupsi misalnya)

Mohon pencerahannya ustad?

Jawab : @Akh Fadly

Tugas seluruh lapisan memberikan pencerahan kepada masyarakat akan bahayanya memilih pemimpin berbeda keimanannya.

Dengan kekuatan, kekuasaan, lisan, himbauan, statement, opini, minimal dengan hati, prinsip, dan sikap kita.

4. Assalamualikum ustd, ana ino dari jakarta

Pertanyaan ana sama dengan akh ahmad, seperti diketahui jakarta dipimpin oleh seorang nasrani.

Manurut ana, kebijakan yg di buat oleh pemimpin jkt ada sedikit benar, bagaimana mana menurut pandangan ust jika seorang muslim mendukung pemimpin seorang nasrani dengan pertimbangan bahwa kebijakannya membawa sedikit perubahan lebih baik dibanding sebelumnya?

Jawab : @Ino

Al-Qur’an menjelaskan tentang karakter orang2 yg berbeda keimanannya dgn kita:

“Yang di dalam hati mereka lebih besar lagi (makar, kebencian, dan permusuhannya).”

Banyak sekali ayat yang melarang memilih pemimpin bukan mukmin. Ayat2nya cukup jelas tanpa harus ditafsirkan sedemikian rupa. Kitab2 fiqih pun cukup panjang lebar mengulas soal itu.

Bahkan ada ulama yg memasukkannya pada salah satu bab tentang aqidah.

5. Imam PayTren-Boyolali

Saat ini masing2 harokah punya karakter dan tipe kepemimpinan berbeda. Tentu ala masing2

Potensinya besar, bila dihitung dari kacamata demokrasi. Umat Islam bisa menang dalam tiap pilihan pemimpin

Bagaimana menyatukan mereka?

Jawab : @Akh Imam

Harokah adalah sebuah ijtihad.

Ijtihad, jika benar mendapatkan 2 pahala. Jika salah, mendapatkan 1 pahala.

Selagi harokah tsb tidak dianggap kafir atau sesat oleh lembaga ke-Islam-an yang berkompeten, maka masing2 anggota harokah itu berbaik sangka bahwa ijtihad harokahnya adalah benar.

Kebenaran dalam ijtihad (fiqih, bukan aqidah) itu multitafsir.

10=5+5

10=3+7

10=…

Bermasalah bila menganggap hanya harokahnya yang benar. Masih mendingan bila menganggap “paling benar” (dan itu sudah semestinya sebagai anggota harokah), berarti yang lain juga benar dan benar….

Tentang persatuan ummat Islam, itu adalah ujian. Kita menyikapinya dengan bijak. Sehingga kita lolos dan lulus “ujian” tsb. (Lihat: QS. Ali Imran ayat 103)

Tidaklah pantas ngotot dan otot-ototan menarik apalagi memaksa orang lain ikut harokah kita, sedangkan kita tahu ia sudah bergabung di harokah tertentu, kecuali “nyata” sesat atau musyriknya.

Masih banyak orang2 non harokah yang belum tercerahkan indahnya cahaya Islam. Bila ingin mengajaknya ke dalam harokah kita misalnya, itu menjadi ladang amal.

6. Istri yg tdk se firqoh dgn kt,

Bgmn menanggapinya?

Jawab : @Abu Al Fatih

Selagi istri tidak dalam jama’ah/harokah yang dianggap sesat oleh lembaga Islam yang berkompeten, maka kita bersabar dulu terhadap perbedaan ini. Kita memang sama2 tidak ingin perbedaan ini semakin meruncing dan berdampak di kemudian hari.

Bila kita ingin menyamakan presepsi terhadap istri dengan hal yang kita anggap lebih benar (haq), maka sabar dan penuh kasih sayang (wa tawaashaw bil marhamah), dengan rifqah dan ra’fah (kelembutan), dan itu baik, tidak akan ada ruginya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penutup

Alhamdulillah kajian telah usai

Jazakallah ustadz atas waktu dan ilmunya.

Terima ksihh juga kepada ikhwah yg menyempatkan hadir untuk tholabul ilmi

Kita tutup kajian malam ini dwngan istighfar sebanyak2nya

Dan doa kaffaratul majelis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *