Jodoh Belum Pasti, Namun Mati itu Pasti

3 (60%) 2 votes

Notulensi Kajian Mingguan RDI DPA Jabodetabek

~~~~~~

Hari : Ahad, 18 September 2016

Grup : RDI DPA Jabodetabek

Muwajjih : Ustadz Rudi Surbakti

Tema : Jodoh Belum Pasti, Namun Mati itu Pasti.

Moderator : Irvan Reza

Notulen : Nevi VK

MUQADIMAH

————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..

Aamiin

========================

Materi :

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-ya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Ikhwafillah Rahimakumullah..

Kematian dan Pernikahan adalah 2 hal yang menjadi Iradah Allah, yang waktu dan tempatnya sudah Allah tentukan. Namun intensitas manusia mengingat kedua hal tersebut, apalagi di usia2 Remaja atau produktif sangat berbeda jauh.

Kita berbicara tentang pernikahan jauh lebih sering dibandingkan berbicara kematian. Padahal kematian itu sesuatu yang Allah tidak buka sedikitpun petunjuk atau tanda2 kalau kita akan menghadapinya. Sedangkan pernikahan Allah biarkan kita terlibat dalam proses penentuan dan persiapannya?

Membayangkan pernikahan memang selalu indah, bertemu pujaan hati, kesendirian menjadi kebersamaan, yang Haram menjadi Halal, yang mubah menjadi Ibadah. Namun membayangkan kematian itu yang terlintas adalah bayangan kehilangan orang yg dicintai, menghadapi pertanyaan Malaikat, Siksa kubur dan lainnya. Padahal kalau difikir lebih dalam, seharunya seorang yg beriman lebih merindukan datangnya kematian daripada pernikahan karena harapannya mendapatkan syurga Allah.

 Jodoh adalah sesuatu yang tidak pasti. Bahkan dalam kondisi tertentu wanita dibolehkan melajang. Allah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ

Dan para wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin menikah, tidaklah berdosa menanggalkan pakaian luar mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan aurat, dan menjaga kehormatan adalah lebih baik bagi mereka (QS. An-Nur: 60)

Kemudian, dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang mati syahid, di luar medan jihad. Diantaranya,

وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهَادَةٌ

”Wanita yang mati dalam keadaan jum’in, termasuk mati syahid.” (HR. Ibnu Majah 2803, dan dishahihkan al-Albani).

Diantara makna ’mati dalam keadaan jum’in’ mati dalam keadaan masih gadis. Sebagaimana keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) dalam Fathul Bari (6/43).

Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya al-Muhalla menegaskan bahwa menikah hukumnya wajib bagi para pemuda. Akan tetapi beliau mengecualikan kewajiban itu bagi wanita. beliau menegaskan bahwa wanita tidak wajib menikah. Dua dalil di atas, menjadi alasan beliau untuk mendukung pendapatnya. Setelah membahas hukum nikah bagi pemuda, Beliau menegaskan.

Sedangkan, Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.

Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Tak mungkin seorang pun lari dari kematian.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163).

Jadilah mukmin yang cerdas …

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Hanya Allah yang memberi taufik agar kelak kita meninggal seperti wafatnya para ulama. Tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Mari persiapkan kematian kita sebaik mungkin dengan terus berada dalam barisan Dakwah..

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

REKAP TANYA-JAWAB

—————————————

 1 Pertanyaan

Syamitra Ardyansyah Syamsir – Makassar

Dari materi di atas. Apakah menikah tdk termasuk di salah satu bentuk persiapan kematian ?

Jawab.

Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah. Karena dapat menjaga syahwat manusia. Syahwat manusia dikendalikan 2 hal: perutnya dan kemaluannya.

Dengan menikah maka kita bisa lebih menjaga Syahwat. Ini salah satu bentuk dalam penyempurnaan agama kita.

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Dua serigala lapar yang dilepas di kandang kambing, tidaklah lebih merusak dibandingkan ketamakan seseorang terhadap dunia dan jabatan, yang bisa merusak agamanya. (Ahmad 16198, Turmudzi 2550, Ibn Hibban 3228)

Apakah ini termasuk persiapan kematian. Maka jawabannya tidak. Karena jika persiapan kematian semua orang akan langsung menikah tanpa mengenal umur. Krna kematian tidak mengenal usia.

Tapi pernikahan bisa jadi salah satu jalan agar bekal amal kita lebih sempurna di hadapan Allah.

———————————-

2. Pertanyaan

Alvi-jogja

Assalammualaikum ustadz..

Dimaksud  mati jum’in trmasuk mati syahid itu bgmna ya ust?

Kl tdk salah saya pernh baca hadits kl nabi tdk menyukai jenazah yg blm menikah.

Afwan jika salah.

Syukron

Jawab :

Maksdnya adalah wanita yang mati dalam keadaan Gadis, belum tersentuh lelaki dan memang menjaga dirinya. Dikategorikan mati syahid karena menjaga Kesucian dan kehormatannya.

Benar Rasulullah tidak menyukai lelaki yg mati lajang dan tidak memiliki niat untuk menikah. Bukan lelaki yg lajang dan punya niat menikah, tp blm bertemu jodohnya.

———————————–

3. Pertanyaan

Esih-Tangerang

Tadi ustadz menyebutkan bahwa wanita itu tdk diwajibkan menikah dan boleh melajang.

Apa berarti setiap wanita boleh memilih untuk melajang atau itu sebab takdir saja jadinya wanita melajang?

Afwan belum paham.ustadz

Syukron

Jawab :

Bernicara takdir akan menjadi sangat Misteri. Apakah itu takdir, mungkin jawabannya iya. Apakah itu pilihan bliau, mungkin juga jawabannya iya.

Terlepas dari apakah itu takdir atau kemauan. Infatlah bahwa takdir bisa dirubah dengan doa.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ

إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

Allah memberikan kebebasan manusia untuk memilih, jika dia memilih melajang maka itu bisa menjadi takdirnya. Namun jika takdirnya melajang, namun ia ingin menikah maka ia bisa merubahnya dengan doa.

————————–

4. _Pertanyaan

Apriyani-jogjakarta

ustadz..sy paling takut dg kematian, ad byk sekali pelajaran” ttg kematian yg terjadi nyata di dlm kehidupan sy,  stadz ilmu yg hrs dipelajari dan apa” sj yak stadz biar bs siap setiap saat jetika ajal menjemput

jawab :

Kematian pada dasarnya bukan ditakuti, tapi dipersiapkan dengan baik. Tidak ada ilmu khusus yg harus dipelajari, cukup taat pada Allah seperti yang Allah perintahkan.

Ingatlah bagaimana para sahabat justru merindukan mati syahid (bukan memohon disegerakan kematiaannya ya). Mereka tidak takut pada kematian justru mereka merindukannya karena jamina dari Rasulullah.

Ketakutan itu biasanya muncul karena kita merasa belum cukup memiliki amal, maka persiapkan saja  amalannya.

—————————-

5. Pertanyaan

Fahri Royzi – Medan :

assalamualaikum wr.wb, kematian adalah suatu keadaan dimana seorang kembali kepada Allah SWT, pertanyaan : jadi bagaimana dgn seseorang yang tidak mengenal Tuhannya bisa kembali? Maksudnya ia beragam Islam,  cuman sekedar percaya kepada Allah, tp tidak mengenalNya.. Syukron

Jawab.

Mungkin makna kembali dalam hal ini perlu dibahas. Kembali dalam hal ini bukan dimaksd kembali pada Allah, tapi kepada asal manusia dibuat yaitu Tanah. Manusia berasal dari tanah dan kembali pada tanah.

Allah maha adil, Dia tahu siapa yang hanya MengenalNya tanpa taat padaNya, Allah juga tahu siapa yg hanya Tahu tentangNya, Tidak mengenalNya dgn baik, Namun taat padaNya. Dan Allah sebaik2 pemberi balasan dan maha adil.

Syukron ustad, tp yang ustad maksud itu kan jasad kembali ke tanah, sedangkan diri kita yang sebenarnya kan bukan berupa jasad

Jawab :

Mgkn ungkapannya itu juga perlu kita cek. Maksd kata “kembali” itu kemana ? Kalau itu jelas baru bisa kita detailkan. Krna banyak ungkapan beredar di masyarakat yang kadang bertentangan dengan Nash Al Qur’an.

#Inna lillahi wa inna illahi raji’un

Jawab :

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156)

Dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an dijelaskan bahwa kalimt diatas bukan khusus untuk kematian saja. Namun semua hal yang dimiliki di dunia yag merupaka titipan Allah. Makna kembali pada kalimay tersebut adalh Allah ambil kembali dari tangan manusia yang dia amanahkan baik itu Harta, Nyawa atau bentuk kesehatan dll.

—————————-

6. Pertanyaan

Anggi safitri – Jakarta.

Assallamualaikum ustadz afwan ya….bagaimanakah cara kita agar lebih amat sangat mementingkan Urusan akhirati(kematian)daripada duniawi(menikah)afwan ustadz bukan kah??menikah juga sunatulloh?

Jawab.

Antara menikah dan kematian tidak bisa dibandingkan, karena keduanya bukan hal yg bertentangan.

Ibarat berjalan, kita sedang dalam perjalanan menuju ke Kematian, di tengah perjalanan kita ada Sekolah, menikah, memiliki anak, bekerja dll sebelum sampai ke tujuan Akhir kita yaitu kematian.

Maka tugas kita adalah menjalaninya tanpa melupakan tujuan akhir kita. Sehingga apapun yg kita lakukan adalah dalam rangka mempersiapkan bekal sampai tujuan akhir kita yaitu kematian.

Kematian harus jadi prioritas, sehingga pernikahan pun dalam rangka Ibadah kpd Allah yang bermuara ke kematian juga.

—————————-

7. Pertanyaan

Siti ernawati – Jakarta timur

 jika dalam keadaan jum’in mati dalam keadaan masih gadis, namun jika wanita itu misalkan belom bisa menutup auratnya perbuatannya masih belum sesuai syariat islam, apakah itu masih dikatakan jum’in ?

Jawab :

Seperti yang ana bilang tadi dikatakan mati syahid itu karena menjaga diri dan kehormatannya. Sedangkan mereka yg tidak menutup auratnya artinya tidak menjaga Kehormatannya. Ibaratnya Bagaimana mungkin seseorang yang belum mengambil SKS Matakuliah Matematikan dinyatakan lulus meski dia sudah maju ke Smester berikutnya.

—————————-

8. Pertanyaan

Syamitra Ardyansyah Syamsir – Makassar

Saya pernah disukusi sama teman saya. Dan dia bilang kalau meminta kematian itu haram, kecuali jika meminta kematian karena takut keimanannya akan menurun drastis/hilang/menjadi kafir. Apa benar seperti itu ? Jika benar, berikan dalilnya dan jika salah, berikan dalilnya tentang meminta kematian.

Jawab :

Seharusnya kalau ada bilang begitu, anty minta dulu dalilnya ke bliau. Karena kalau dalilnya ada anty mgkn tidak akan bertanya2 lagi.

Benar, meminta kematian itu memang tidak diperbolehkan. Karena mati berarti kita akan berhenti menyembah Allah di Dunia dan berhenti beramal. Sedangkan mereka yang sudah mati, memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia sehari saja untuk beramal.

Nanti dalilnya minta ke temannya dulu. Kalau tidak ada, nanti ana kasih.

—————————-

9. Pertanyaan

Siska Ayu- Balikpapan

Assalamualaikum ustadz saya ingin bertanya apakah seseorang yang menunda keinginan untuk menikah karena hal hal berikut ini seperti : keuangan, karir pribadi, terlalu selektif  terhadap mencari pasangan hidup , hingga kematian menjemput, ia  masih melajang.masihkah ia mendapatkan jaminan mendapatkan pasangan hidup, di surga ketika ia masuk surga nantinya

afwan ustadz mohon penjelasan nya.terimakasih

Jawab :

Dari Abu  Hurairah Rasulullah pernah bersabda :

“Di dalam Syurga tidak ada manusia yang lajang” (HR. Muslim : 2834)

Hadits diatas adalah jaminan kalau di syurga tidak ada yang melajang, semua akan mendapatkan pasangan.

—————————-

10.Pertanyaan

Ardiana_Semarang

untuk yang masih lajang (belum menikah) bolehkah memiliki keyakinan bahwa dia pasti akan menikah sebelum maut menjemput,dan tanpa mmeikirkan bahwa jodoh kematian itu sudah pasti datangnya,tetapi jodoh hidup kita takkan tahu?

lalu,dosakah jika seseorang yang sudah menikah merasa takut jika mati terlebih dahulu maka pasangannya akan menikah lagi,ataupun sebaliknya kita yang takut ditinggal mati dahulu oleh pasangannya,padahal kita tahu,bahwa semua yang kita punya akan kembali lagi kepada Allah?

syukron

Jawab :

Tidak mengapa membagun optimisme bahwa kita akan menikah sebelum meninggal. Denga demikian kita akan semakin giat mengejar amalan tersebut.

Tentang pasangan dunia. Tidak perlu khawatir bliau menikah dgn yg lain. Karena jika dia menikah dgn yang lain artinya dia bukan pasangan kita.

Ingat di syurga ada bidadari yang menanti. Tidak ada satu orang wanita pun di Dunia yg cantiknya menyerupai bidadari. Apalagi kalau kita mati syahid. Ada 72 bidadari yang menanti.

Tugas kita adalah taat pada Allah. Biar Allah yg menilai kita, tidak perlu khawatir akan ciptaanya.

—————————-

11. Pertanyaan

Ustadz, bagaimana kalau misalkan kita berpikir

“Ngga mau nikah sama.yg profesinya ini soalnya males ditinggal terus. Belum lagi risiko buat meninggal,kecelakan,dsb. Lebih besar”

Itu gimana yah?

Jawab :

Wanita diberikan kebebasan memilih calonnya sesuai kriteria yg di inginkan. Tidak mengapa berfikir demikian. Namun jika Allah justru takdirkan menikah dengan lelaki di profesi tersebut tidak boleh ditolak juga. Tinggal di diskusikan dgn suaminya agar mencari pekerjaan lain..

———————–

12 Pertanyaan

Assalamu’alaikum ustadz

Saya erlinda Yunita Dewi dari Klaten

Bagaimana cara wanita mati dlm keadaan syahid tnp jalan perang?

Jawab

Syahid itu tidak selalu tentang perang, mencari nafkah juga jihad, taat pada suami juga jihad.

Taatlah pada suami, karena Allah menjanjika syurga pada Istri-istri yang taat pada suami. Bahkan boleh masuk dari pintu mana saja.

# Tapi saya masih pelajar kelas 9 smp. Bagaimana yg harus sy lakukan agar meraih jihad itu?

Jawab :

Menjaga kehormatan dan auratnya. Seperti materi diatas tadi.

———————–

PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~

®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *