Prophetic Parenting ( Part 3 )

www.rumahdakwah.id
Selasa, 24 Muharam 1438/25 Oktober 2016

Oleh: Ustadz DR. Agus Setiawan, Lc, MA
(Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia)

Prophetic Parenting – Sesi Muqaddimah
(Part 3)

Dalam sebuah tesis seorang ustadzah Ummul Quro Saudi Arabia, beliau mengungkapkan fakta menarik. Dalam Al-Qur’an ada 17 kali dialog orang tua dengan anaknya. Yang menarik adalah dialog ayah dengan anak ada 14 kali, sedangkan ibu dengan anak ada 2 kali, dan 1 kali nya tidak dijelaskan ini ayah atau ibu.

Dalam sebuah pertemuan sinergi umat, ada pakar anak mengatakan Muslim Family in Indonesia is under attack. Beliau khawatir Indonesia menjadi fatherless country/negeri tanpa ayah.

Kenapa demikian? Karena dalam keluarga, seorang ayah jarang sekali berkomunikasi dengan anaknya. Itulah yang disebut Ayah Bisu. Hal ini disebabkan seorang ayah berangkat kerja sebelum anaknya bangun, dan ayahnya kembali ketika anaknya sudah tidur.

Maka beliau mengkampanyekan minimal 30 menit waktu ayah dengan anak. Itupun dengan syarat, saat ayah dan anak tanpa didampingi oleh telepon/gadget.

Coba liat porsi dialog anak dengan ayah dalam Al-qur’an, jauh lebih besar. Ketika anak menjadi remaja, anak akan mencari sosok ayah.

Jadi kesimpulan tesis beliau,

1. Tanggung jawab mendidik anak tidak hanya pada istri, namun juga suami.

2. Kalau kita melihat, contoh saja dialog Luqman dengan anaknya dalam Surah Luqman. Misal Ya bunayya, la tusyrik billah. (31:13). Dialog Luqman dengan anaknya tentu banyak, namun kenapa dialog tersebut yang diabadikan, dan langgeng hingga hari kiamat?

Pertama, obrolan dengan anak harus berkualitas, bukan tidak bermakna.

Kemudian yang kedua, menanamkan keimanan pada anak. Karena anak bukan hanya anak biologis, namun juga anak ideologis.

Kemudian, mari kita belajar dari keluarga Imran yang diabadikan dengan Surah Ali Imran/keluarga imran.

Surah Ali Imran adalah 1 dari 7 surah yang paling panjang di Al-Qur’an.

Yang menarik adalah Imran satu-satunya manusia biasa yang Allah abadikan namanya dalam Al-Qur’an.

Kemudian Imran sendiri tidak diceritakan dalam surah itu, tapi istrinya.

Yang menarik adalah Imran mampu mendidik istri yang shalihah, kemudian melahirkan seorang anak yang akan menjadi ibu seorang nabi, yaitu Maryam.

Seolah Allah ingin menggambarkan kesuksesan rumah tangga itu bukan tergantung dari terkenal atau tidaknya orang tersebut, bukan tergantung titel atau harta, bahkan nabi atau bukan. Namun bergantung dari kesungguhan dari orang tuanya.

Ada sebuah cerita nyata, jadi sebelum Ust. Agus mengisi sebuah acara di Bali, ada seorang anak yang tampil membaca Al-Qur’an. Dia tidak membawa Al-Qur’an, dan yang dibaca adalah Surah Yusuf, lancar dan baik. Kemudian MC mengatakan yang tadi membacakan adalah Yusuf, kelas 6 SD (bukan dari sekolah agama, di Bali lagi), dan sudah hafal Qur’an.
Kemudian Ust. Agus menemui ayahnya dan meminta anaknya menyekolahkan di pesantren dan menjadi ulama besar di Bali. Namun ayahnya Cuma senyum tidak merespon. Setelah ditanya ke yang lain, ternyata ayahnya hanya seorang guide/pemandu. Kalau ada tamu dapat uang, kalau tidak ada tidak ada uang. Maka ustadz Agus mengatakan, “Mas, masukan ke pesantren, biar saya yang carikan dananya di Jakarta”.

Masya Allah…. Orang biasa, anaknya SD di sekolah biasa bukan SD Islam.

Begitu juga dengan Imran. Dalam Surah Ali Imran juga tidak disebut, tapi bagaimana istrinya, anaknya, bahkan cucunya Nabi Isa As.

Kemudian yang ketiga yang bisa diambil dari surah Ali Imran, adalah beliau mengkhawatirkan lingkungan anaknya. Ketika yang lahir anak perempuan, tradisi waktu itu yang tinggal di tempat-tempat ibadah adalah laki-laki. Imran dan istrinya menitipkan Maryam kepada pamannya, Nabi Zakaria. Imran lebih mementingkan Lingkungan anaknya, bukan rezeki anaknya. Nabi Zakaria membimbing keimanan ke Maryam.

Walaupun kita belajar teori mendidik anak, jangan lupa libatkan Allah. Jangan terlalu merasa hebat menjadi orang tua. Libatkan Allah SWT.

Semoga Allah tidak jadikan kita orang tua yang durhaka

Semoga kita dapat dikumpulkan bersama anak keturunan kita di surga

Amin

———————————-
BP2A-RDI/040/3/I/1438

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *