Rekap Tanya Jawab Syariah (155)

Rekap Tanya Jawab Syariah (155)
Rumah Dakwah Indonesia
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=

1. Assalamualaikum. Mbaa izin bertanya. Saya mahasiswi, ada beberapa dosen itu kalo ngajar engga enak didengar mba, terus lagi materi nya itu hafalan, jadi ga usah di dengerin pas waktu beljr pun nanti pas ujian akan bisa karna bisa ngafalin dadakan. Karna dengerin dosen seperti itu membuat kita semua mengantuk dan tidak berkonsentrasi, makanya saya lebih milih tilawah.
Apa kah sikap saya benar? Karna kalo dipaksakan mendengarkan dosen, saya ga bakal dapet apa apa

Jawaban

Dalam proses belajar-mengajar memang akan ditemui dosen yang demikian, akan tetapi sikap yang demikian tidak dibenarkan. Meski yang dilakukan merupakan ibadah akan tetapi dilakukan di waktu yang tidak pas. Jadi, bagaimanapun menghormati dosen yang sedang menyampaikan pelajaran adalah sebuah keharusan, karena merupakan adab dalam belajar. Bersabarlah dalam belajar, dan bila perlu sampaikan kepada dosen dengan sikap yang arif bijaksana untuk menyampaikan keluhan saudari.
BaarokaAllahu fiikum wa zaadakum ilman wa amalan wa tawadhu’an….

©Ustadz Jayyad

2. Saya ingin menanyakan perihal ahlul sunnah wa jamaah….
Dan harokah, banyak golongan yang mengatasnamakan ahlul sunnah wa jamaah….
Sebenarnya apa makna tersebut???

Lalu benarkah dulu ada yang namanya negara islam, kalau pun ada mengapa bisa ditiadakan sekarang ini,bagaimana kronologi ditiadakannya?

Jawaban

Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah  mereka yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka (Ijma’ salafus shaleh), baik dalam hal ‘aqidah, perkataan maupun perbuatan, juga mereka yang istiqamah (konsisten) dalam ber-ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi SAW) dan menjauhi perbuatan bid’ah.

Dari sini jelas bahwa Ahlu Sunnah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para Sahabat. Ahlu Sunnah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar bila sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya satu-satunya Ahlu Sunnah sementara kelompok lainnya bukan Ahlu Sunnah.

Ahlu Sunah juga bukan sekedar nama namun lebih dari itu ia merupakan manhaj, jalan hidup para sahabat yang harus di praktekkan. Ukuran apakah seseorang termasuk Ahlu Sunnah atau bukan, tidak terletak pada nama yang disandangnya semata (seperti menamakan kelompoknya sebagai kelompok Ahlu Sunnah), namun sesuai atau tidaknya jalan hidupnya dengan petunjuk Rasulullah dan para Sahabat.

Jadi, tidak setiap orang yang mengklaim dirinya atau kelompoknya atau organisasinya atau jama’ahnya sebagai Ahlu Sunnah itu benar-benar Ahlu Sunnah.

Adapun berkaitan dengan negara Islam, dahulu ada negara Islam pada zaman kekhalifahan Turki Utsmani.
untuk kronologinya silahkan baca di link berikut… http://www.alislamu.com/5011/pengkianatan-syiah-di-balik-runtuhnya-kekhilafahan-islam/

©Ustadz Jayyad

3. Sekarang lagi marak singkatan singkatan yg bertabiat jelek tapi disalah artikan menjadi singkatan yg baik ana ambil contoh
LGBT “Laki Gagah Banyak Tilawah” “Laki Gagah Bininya Tiga” dll.
Dan semua itu banyak akun dakwah yg menyebarkan pict pict seperti itu di instagram.
Bagaimana pandangan ustadz melihat hal hal seperti itu
Dan apa hukumnya
Syukron.

Jawaban

Jika saya ditanya secara pribadi kurang setuju dengan pengalihan istilah tersebut, karena cara demikian itu merupakan pengaburan makna sesungguhnya yang mana kita tahu bahwa istilah tersebut adalah bertabiat buruk. Saya khawatir ini merupakan talbis iblis yang ingin menjadikan singkatan atau istilah tersebut yang awal bernilai buruk menjadi seolah-olah baik. Allahu a’lam. Tapi, mungkin maksud mereka yang mengubah singkatan/istilah tersebut menjadi baik dengan niat untuk bersikap positif thinking.

©Ustadz Jayyad

4. Assalamu’alaikum
Saya mau tanya gmn ya kdg saya klo lg sakit udah drop hb 1 panas kadang 41 udh g kuatt utk apa2 brsa ingat gak ingat kdg sy g sholat yg 5 waktu itu gmn kdg g kuat utk apa2 kpla pusing berasa muter lemes n brsa cape udh psti krn hb 1 darah merah kdg sampe 50 mnrut ustad gmn, apakah saya berdosa di kondisi tersebut sering tertinggal sholat??
Ada yang menyarankan untuk mengqodho sholat saat kita sakit, apa boleh demikian??
Jazakumullahu khoir

Jawab

Sholat sebisanya gak harus berdiri tapi duduk juga boleh. Jd selama masih sadar wajib sholat gak boleh ninggalin sholat. Dan tidak ada qodho shalat.

© Ustadzah Eva

5. Assalamualaikum…afwan saya ingin bertanya, apa sebutan buat anak perempuan yang meninggal ke dua orang tuanya..??

Jawab

Yatim piatu

© Ustadzah Eva

===================================
Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia
Tim P n K
===================================

2 comments

  1. siti Aisyah Reply

    Assalamualaikum
    ustadz/ ustadzah saya mau tanya bagaimana ciri2 orang yg meninggal dalam keadaan khusnul khatimah ?

    • Ummu Fawwaz Post authorReply

      Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh

      Ada beberapa keadaan ketika kematian, yang itu merupakan tanda khusnul khotimah. Dalam kitab Ahkamul Jana`iz disebutkan beberapa diantaranya,

      Pertama, mengucapkan syahadat menjelang wafat,

      Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

      “Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud 3118)

      Kedua, meninggal dengan keringat di dahi.

      Suatu ketika, Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu datang ke Khurasan, menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ternyata saudaranya dalam kondisi sakaratul maut. Ketika wafat, ada keringat di dahinya.

      Buraidah langsung bertakbir,

      “Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْنِ

      “Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad 22964, Nasai 1839 dan yang lainnya)

      Ketiga, meninggal pada malam atau siang hari Jum’at,

      Dalam hadis dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

      “Apabila ada seorang muslim yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Allah akan menjaganya dari pertanyaan kubur.” (HR. Ahmad 6582, Turmudzi 1095, dan yang lainnya)

      Keempat, syahid di medan perang

      Allah Ta’ala berfirman,

      وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

      “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki.” (QS. Ali Imran: 169)

      Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan banyak keutamaan orang yang mati di medan jihad,

      Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ الْفَزَعَ الْأَكْبَرَ، وَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْإِيْمَانِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

      “Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. Turmudzi 1764, Ibnu Majah 2905, dan yang lainnya)

      Dalam hadis lain, ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      “Ya Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan ditanya dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?”

      Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      كَفَى بِبَارَقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

      “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian kesabaran baginya.” (HR. Nasai 2065 dan dishahihkan al-Albani)

      Kelima, meninggal setelah bersabar dengan ujian yang Allah berikan

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”

      ‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.

      “Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      ‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.

      Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,

      مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ

      “Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).

      Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

      “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari 2480).

      Dalam hadis lain dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

      “Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

      Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,

      فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين

      “Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

      Keenam, meninggal dalam keadaan berjaga (ribath) fi sabilillah (di daerah perbatasan negeri muslim dan kafir).

      Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأًُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتّاَنَ

      “Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim 5047)

      Ketujuh, meninggal dalam keadaan beramal shalih.

      Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

      “Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang dia mengiri hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.” (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

      Sumber: https://konsultasisyariah.com/27669-7-tanda-khusnul-khotimah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *