Ini Alasan Kami Menolak Natal

1. Setiap menjelang hadirnya tanggal 25 Desember setiap tahun, ummat Islam disibukkan dengan isu-isu yang diulang-ulang: toleransi, pohon natal, sinterklas, ucapan selamat natal, hingga ajakan natal bersama. Begini setiap tahun. Lelah sebenarnya. Karena istilah-istilah itu terkadang dikaitkan dengan isu intoleransi ummat Islam. Apakah benar jika aqidah kami melarang itu semua kami jadi intoleran? Apa kalau kami menolak mengucapkan selamat natal kami merusak tatanan sosial? Kalau demikian, rendah sekali standar toleransi di negeri ini.

2. Oleh Allah, kami sebagai Muslim dituntut untuk tegakkan agama, yakini aqidah, dan sebarkan dakwah. Bagi kami Islam adalah agama yang benar (Qs. 3: 19), sebagaimana Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, Konghuchu, dan agama lainnya meyakini hal yang sama. Bagi kami, siapa saja yang mencari agama di luar Islam adalah ‘batil’: keyakinannya ditolak dan di akhirat dia merugi (Qs. 3: 85), sebagaimana agama-agama selain Islam meyakini kebenaran agama mereka.

3. Kalau demikian, cukuplah kita pegang ajaran agama kita masing-masing, jangan usik keyakinan agama lain, dan jangan “kaburkan” keyakinan agama kita dengan agama orang lain atas nama toleransi. Karena toleransi bagi kami adalah: bisa hidup berdampingan dan saling-menghormati dengan penganut agama lain yang menurut kami batil ajarannya. Begitu Allah ajarkan keyakinan kami lewat rasul dan nabi-Nya, Muhammad Saw.

4. Jika ada ajaran dakwah dalam Islam, dalam agama lain pun ada misi. Tapi kami dilarang keras untuk “memaksa” orang lain masuk ke dalam Islam. Karena kami yakin yang hidayah sangat terang-benderang (rusyd) dan kesesatan begitu gamblang (ghayy) [Qs. 2: 256).

5. Kami memang diajarkan untuk berdialog dan menyeru penganut agama lain (khususnya Ahli Kitab: Yahudi dan Nasrani) untuk kembali kepada “kalimatin sawa”: pegangan yang sama, yaitu Tauhid. Yaitu: kita tidak menyembah tuhan selain Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, kita tidak menjadika sebagian kita sebagai “tuhan” selain Allah. Jika kalian berpaling dari seruan ini, maka tidak mengapa. Dakwah kami telah selesai kepada kalian. Dan, saksikanlah bahwa kami ini adalah orang-orang Muslim (Qs. 3: 64).

6. Tentang Natal, kami memang tak meyakininya sebagai hari kelahiran Yesus Kristus (Islam: ‘Isa al-Masih). Karena tak mungkin Tuhan melahirkan dan dilahirkan.

Belum lagi tentang tanggal 25 Desember yang di kalangan Nasrani pun tak disepakati. Keempat Injil sendiri (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sendiri “diam seribu bahasa” tentang tanggal kelahiran Yesus.

Clement dari Aleksandria, seorang tokoh Kristen pertama, mengatakan bahwa Basidilius meyakini bahwa Yesus lahir tanggal 24 atau 25 pada bulan yang dinamakan oleh orang Mesir ‘Pharmuthi’ (April).

Sekte Kristen lainnya menegaskan bahwa kelahirannya tepat pada waktu Augustus Caesar berusia 28 tahun pada tanggal 25 bulan ‘Pachon’ yang sama dengan tanggal 20 Mei.

Gereja juga memiliki buku kecil yang ditemukan di antara tulisan-tulisan orang-orang Cypria, ditulis tahun 243 M, yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus tertanggal 28 Maret.

Dalam hal ini, J.M. Robertson menyatakan,
“Beberapa sekte, sungguh sangat lama telah menetapkan hari kelahiran Yesus pada tanggal 24 atau 25 April….sementara yang lain menempatkannya pada tanggal 25 Mei; dan sebagian besar Gereja Timur selama berabad-abad menjadikan tanggal 26 Januari sebagai hari kelahiran Yesus.” (Hasting’s Encyclopedia of Religion and Ethics, Vol. 4/603, dikutip dari Dr. Hamid Qadri, “Awan Gelap dalam Keimanan Kristen” (Surabaya: Pustaka Da’i, 2005), 124). Jadi, tanggal 25 Desember apa dasarnya?

7. Kami baca dalam catatan lain, ternyata pengaruh Romawi amat besar pada dogma Kristen. Dimana ketika Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, kaisar Aurelian (270-276 M) berusaha mengambil bentuk formal dalam hubungannya dengan dogma ritualistik penghormatan kepada dewa matahari.

Sekitar tahun 530 M, seorang pendeta Scythian bernama Dionysius Exiguus, yang dikenal sebagai ahli astronomi , ditunjuk untuk menetapkan tanggal dan tahun kelahiran Yesus.

Tidak ada informasi dari tangan pertama mengenai tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya. Secara beragam kelahirannya dipercayai oleh orang-orang Basilidius di suatu hari di bulan April, sekte-sekte lainnya pada tanggal 20 Mei.

Katolik ngotot menyatakan bahwa masa-masa awal perayaan kelahiran Yesus dilaksanakan pada tanggal 6 Januari, kemudian pada tahun 353-354 Paus Liberius menggantinya ke tanggal 25 Desember. Tetapi penelitian modern juga menolak klaim ini dan sekarang diakui bahwa perayaan semacam ini tidak pernah dilaksanakan oleh gereja-gereja Kristen sebelum abad keempat.

Pada tahun 389 M, kaisar Valentianus mengeluarkan peraturan tentang hari-hari libur resmi, diantaranya hanya hari Minggu dan hari Paskah, dan sama sekali tidak pernah menyebut perayaan Kelahiran Yesus pada tanggal apapun dalam satu tahun. (Hasting’s Encyclopedia of Religion and Ethics, 4/102, 601, dalam Dr. Hamid Qadri, “Awan Gelap”, 125-126).

Dengan demikian, alasan kami sangat tetap ketika menolak mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani. Karena bagi kami berbahaya. Sebab tidak mungkin “tuhan” punya tanggal lahir. Apalagi tanggalnya menjadi perselisihan. Itu pula bahayanya menyamakan Tuhan dengan manusia.

8. Kami juga tak sependapat dengan kaum Nasrani yang meyakini pembunuhan dan penyaliban al-Masih ‘Isa putra Maryam. Dalam keyakinan kami, ia tidak dibunu tidak pula disalib melainkan ada orang lain yang diserupakan rupanha seperti beliau (walakin syubbiha lahum). Kami meyakini pula bahwa kaum Yahudi (yang konon berkomplot dengan Romawi dalam membunuh al-Masih) dan Nasrani juga meragukannya. Mereka hanya menduga-duga. Benar-benar tidak yakin bahwa mereka telah membunuhnya. Kami meyakini bahwa al-Masih diangkat oleh Allah kepada-Nya (Qs. 4: 157-158).

9. Jika kaum Nasrani menolak hujjah dan dalil kami karena dari Al-Quran, sebenarnya Injil pun menolaknya. Cobalah Anda sekalian rujuk!

Dalam Injil Yohanes 7: 33-34 Yesus justru menantang Yahudi terang-terangan. Bahwa mereka tak mungkin dapat menangkapnya. Yesus menegaskan pula dalam Injil Yohanes 8: 21-29. Apakah al-Masih berdusta?

10. Apakah kaum Nasrani tetap meyakini al-Masih sebagai Tuhan? Jika ia, maka seharusnya al-Masih tidak mati di tiang salib, karena Tuhan Maha Hidup. Lihatlah, Kitab Ulangan 32: 39-40, sedangkan al-Masih menyerahkan ruhnya alias mati (Yohanes 19:30.

Allah hidup selamanya (Ulangan 32:40), sedangkan al-Masih mati (Matius 27:50). Allah adalah raja yang abadi, ilah yang Maha Hidup (Yeremia 10:10), sedangkan al-Masih menyerahkan ruhnya kepada Allah Tuhannya (Lukas 23:46). Dan banyak lagi ayat-ayat lain dalam Alkitab kaum Nasrani.

11. Jika kaum Nasrani benar-benar al-Masih disalib, adakah saksinya (yang menyaksikan peristiwa hebat itu)?

Ternyata, tidak ada! Ya, tidak ada! Karena semua muridnya lari meninggalkannya. Peristiwa penyaliban dan kebangkitannya pun tak disepakati oleh Injil.

Makan malam terakhir menurut Markus (14:3) dan Matius (26:6) terjadi di rumah Simon, tetapi menurut Lukas (7:36) di rumah seorang Farisi, dan menurut Yohanes (12:1-2) di rumah Maria, Marta, dan Lazarus.

Peristiwa “penyekaan” rambut al-Masih dengan minyak wangi kapan sebenarnya dilakukan? Apakah 2 hari sebelum Hari Raya Paskah seperti menurut laporan Markus (14:1) dan Matius (26:2); atau 6 hari sebelumnya sebagaimana yang disampaikan oleh Yohanes (12:1). Namun Lukas diam, dan hanya menyebut sebelum diutusnya 12 murid al-Masih.

Apa pula yang diminyaki sebenarnya? Kepala (rambut) al-Masih seperti kata Markus (14:4) dan Matius (26:7), ataukah kedua kakinya seperti catatan Lukas (7:48) dan Yohanes (12:3)?

Dan, kapan sebenarnya terjadi Makan Malam Terakhir itu? Apakah pada hari pertama dalam Perayaan Roti Tidak Beragi, sebagaiman yang disampaikan Markus (14:12), Lukas (22:8) dan Matius (26:17), atau setelah kematian al-Masih dan kebangkitannya seperti catatan Yohanes (18:28)?

Kalau begitu, al-Masih ditangkap pada sore hari Kamis menurut Markus, Lukas dan Matius, sedangkan menurut Yohanes pada sore hari Rabu.

Jadi, hari penyalibannya Jumat menurut Markus, Lukas, dan Matius yang benar? Atau hari Kamis seperti laporan Yohanes yang salah? Apakah keduanya benar? Atau, sama-sama salah?

Dari sana kami sebagai Muslim makin ragu terhadap dogma al-Masih sebagai tuhan, berikut kelahiran dan penyalibannya. Semuanya tak punya landasan kuat dan rasional.

12. Keyakinan lain dalam agama kami, Allah itu Maha Esa (Ahad): tempat bergantung seluruh makhluk-Nya (as-Shamad), tidak beranak dan tak diperanakkan (lam yalid walam yulad), dan tak ada seorang pun yang setara dengan-Nya (walam yakun lahu kufuwan ahad) [Qs.112:1-4].

Jika al-Masih adalah tuhan selain Allah, maka itu sebuah kekufuran. Jadi, yang mengatakan al-Masih itu Tuhan dia kafir (Qs.5: 17, 72).

Jika ada dogma Trinitas: tuhan satu dari yang tiga, tiga dalam satu atau satu dalam tiga, itu kafir yang meyakininya (Qs.5:73).

Bagi kami Allah itu Esa (Ahad), Tuhan yang Satu (Ilahun Wahid): tidak ada tuhan kedua, ketiga, dan seterusnya.

13. Kenapa rupanya kalau Tuhan lebih dari satu? Dua atau tiga, misalanya. Apa salahnya?

Dalam aqidah kami itu salah. Dalilnya sangat logis dalam Al-Quran yang kami yakini sejak kecil sebagai Firman Allah. Kata Allah,

“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, maka rusaklah langit dan bumi itu.” (Qs.21:22).

Ada lagi alasan lain yang juga sangat logis. Kata Allah, “Allah tidak pernah mengambil seseorang menjadi anak-Nya. Tidak ada tuhan-tuhan lain bersama-Nya. Jika ada tuhan-tuhan lain bersama-Nya, ‘pasti tiap-tiap tuhan akan berusaha mengalahkan yang lain dalam menciptakan sesuatu’. Allah Maha Suci dari semua keyakinan sesat yang diyakini oleh orang-orang musyrik.” (Qs.23:91).

14. Untuk itu, sebagai agama dakwah tugas kami hanya menyeru kepada kebenaran yang datang dari Allah. Maka, coba renungkan seruan Allah dalam firman-Nya berikut ini,

“Wahai kaum Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, janganlah kalian menambahkan sesuatu yang tidak diajarkan Allah dan rasul-Nya pada agama kalian. Janganlah kalian mengatakan sesuatu yang tidak benar, lalu kalian atas namakan agama Allah. Al-Masih ‘Isa putera Maryam adalah utusan Allah dan titah-Nya. ‘Isa putera Maryam adalah ruh yang telah Allah berikan kepada Maryam. Maka itu, berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-Nya. Janganlah kalian katakan Allah itu tiga. Berhentilah kalian dari perkataan dusta itu. Hal itu lebih baik bagi kalian. Allah adalah Tuhan yang Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs.4:171).

Semoga, di tanggal 25 Desember ini setiap Muslim makin kuat aqidahnya. Makin yakin bahwa agamanya adalah benar. Dan, kami tidak akan mengganggu apalagi merusak keyakinan Anda, meskipun menurut kami itu batil. Sebagai bentuk toleransi dan dijamin oleh undang-undang maka silahkan lakukan dan yakini keyakinan itu. Tapi, mohon jangan paksa kami untuk membenarkannya. Sebagaiman kami tidak memaksa Anda untuk meyakini aqidah dan agama kami.

Qosim Nursheha Dzulhadi

(Medan, 25 Desember 2016)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *