Rajin sholat, puasa, tilawah, tapi pacaran?

4.3 (86.67%) 6 votes

Notulensi Kajian Bulanan Rumah Dakwah Indonesia
~~~~~~~

Hari : Senin, 12 Desember 2016
Grup : RDI 17&18 akhwat
Muwajjih : Ustadz Hizbullah Ali
Tema : Rajin sholat, puasa, tilawah, tapi pacaran?
Admin : Robiah& Lia
Moderator : Lia& Silvy
Notulen : Robiah & Silvy

 

MUQADIMAH
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

========================

Materi :
————-

#FQ
http://pencintaquran.com
Oase Kalbu Kajian Intensif
〰〰〰

IBADAH YES, MAKSIAT YES??!!

Rajin Sholat, Puasa, Tilawah, Tapi Pacaran

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد،

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan fahsya (dosa-dosa yang diburukkan oleh syariat, akal dan nurani manusia, lebih banyak dipakai dalam arti zina dan yang semisal dengannya) dan mungkar (segala macam bentuk dosa dan kesalahan) (QS. al-Ankabut : 45)

Fahsya:  dosa-dosa yang diburukkan oleh syari’at, akal dan nurani manusia, lebih banyak dipakai dalam arti zina dan yang semisal dengannya.

Mungkar:  segala macam bentuk dosa dan kesalahan.

Dari ayat ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa shalat mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar, tetapi perlu diingat sholat yang mencegah perbuatan fahsya dan mungkar adalah sholat yang disempurnakan di dalamnya rukun-rukun, kewajiban-kewajiban serta kekhusyu’annya, mari perhatikan perkataan yang sangat bermakna dari ulama ahli tafsir abad ke 14 Hijriyyah, Syeikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di,

ووجه كون الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر، أن العبد المقيم لها، المتمم لأركانها وشروطها وخشوعها، يستنير قلبه، ويتطهر فؤاده، ويزداد إيمانه، وتقوى رغبته في الخير، وتقل أو تعدم رغبته في الشر، فبالضرورة، مداومتها والمحافظة عليها على هذا الوجه، تنهى عن الفحشاء والمنكر، فهذا من أعظم مقاصدها وثمراتها. وثَمَّ في الصلاة مقصود أعظم من هذا وأكبر، وهو ما اشتملت عليه من ذكر اللّه، بالقلب واللسان والبدن. فإن اللّه تعالى، إنما خلق الخلق لعبادته، وأفضل عبادة تقع منهم الصلاة، وفيها من عبوديات الجوارح كلها، ما ليس في غيرها، ولهذا قال: وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

_Sisi keberadaan sholat mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar yaitu; ketika seorang hamba yang mendirikan sholat, menyempurnakan akan rukun-rukun, syarat-syarat dan kekhusyu’annya, maka hatinya akan bersih, perasaannya akan jernih, imannya akan bertambah, bertambah kuat keinginannya untuk melaksanakan kebaikan dan berkurang atau hilang keinginannya untuk mengerjakan keburukan, makanya pastinya, dengan selalu mengerjakan dan menjaga sholat dalam keadaan yang seperti ini, maka sholatnya akan mencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar. Dan ini termasuk dari tujuan dan hasil yang sangat agung dari sholat tersebut. Kemudian di dalam sholat juga, terdapat tujuan yang lebih agung dan lebih besar dari ini, yaitu apa yang terkumpul di dalamnya berupa mengingat Allah baik dengan hati, lisan dan badan. Karena sesungguhnya Allah تعالى menciptakan makhluknya hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan ibadah yang paling utama dari mereka (para makhluk) adalah sholat, karena di dalamnya terdapat pengabdian seluruh anggota tubuh yang tidak terdapat dalam ibadah lain, oleh sebab inilah Allah تعالى berfirman:

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Dan mengingat Allah adalah lebih agung (Lihat kitab Taisir al-Karim ar-Rahman, karya as-Sa’di)

Kalau sudah difahami hal di atas, jadi permasalahannya bukan pada penegasan yang ada pada ayatnya, tetapi lebih kepada pelaku sholat itu sendiri yang kurang menyempurnakan rukun, kewajiban atau khusyu’nya sehingga shalatnya tidak berfungsi sebagaimana yang ditegaskan di dalam ayat yang mulia. Sholat bukan hanya sekedar gerakan-gerakan tubuh yang tidak meninggalkan pengaruh dan bekas positif dalam kehidupan sehari-hari agar senantiasa selalu taat kepada Allah تعالى.

Kedua, memang benar bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui amalannya ditolak atau diterima Allah تعالى, karena hal itu adalah hak Allah تعالى semata tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini juga dikarenakan manusia adalah makhluk yang kemampuan penalarannya terbatas, tidak mengetahui apakah pelaku dari sebuah ibadah itu, ketika dia melakukannya benar-benar ikhlas atau tidak. Oleh sebab itulah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang menyelesaikan (sholatnya) dan tidak dituliskan baginya melainkan 1/10, 1/9, 1/8, 1/7, 1/6, 1/5, 1/4, 1/3 dan 1/2 dari shalatnya (HR. Abu Daud)

Seseorang kadang terlihat melakukan amal ibadah ternyata dia penghuni neraka, coba perhatikan apa yang menyebabkan hal itu,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا ، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى عَسْكَرِهِ، وَمَالَ الآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ، فَقَالَ مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ. قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ، وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ . قَالَ وَمَا ذَاكَ. قَالَ الرَّجُلُ الَّذِى ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ. فَقُلْتُ أَنَا لَكُمْ بِهِ. فَخَرَجْتُ فِى طَلَبِهِ ، ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِى الأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Sahl bin Sa’ad as-Sa’idy bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertemu dengan kaum musyrik, lalu mereka berperang. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم pulang ke tempat peristirahatan beliau dan dan yang lain pulang ke tempat peristirahatan mereka, dan pada waktu di tengah-tengah para shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم terdapat seorang lelaki yang tidaklah dia bertemu dengan musuh melainkan dia ikuti dan dia tebas dengan pedangnya. Lalu ada yang berkata, Pada hari ini, tidak ada seorangpun yang lebih berani sebagaimana beraninya si fulan. Lalu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, Sesungguhnya dia penghuni neraka, kemudian seorang dari mereka (para sahabat) berkata, Aku yang akan menemaninya, lalu dia pun keluar bersama dengan si fulan tadi, berhenti dimana si fulan tadi berhenti dan jika si fulan bergerak maka dia bergerak bersamanya, lalu akhirnya si fulan tadi terluka dengan luka yang sangat parah, lalu dia menyegerakan kematian. Dia letakkan gagang pedangnya di tanah dan ujungnya dia tancapkan di dadanya, kemudian dia tusukkan pedangnya tadi ke dadanya dan akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Lalu orang (yang mengikuti tadi) pergi menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata, Aku bersyahadat bahwa engkau adalah Rasulullah, beliau bertanya, Ada apa gerangan dengan syahadatmu itu?, orang ini menjawab, Lelaki yang engkau sebutkan tadi dia adalah penghuni neraka, padahal orang-orang mengagungkannya, dan aku katakan bahwa aku yang akan menemaninya, lalu akupun mencarinya dan aku dapati dia dalam keadaan terluka sangat parah, lalu dia menyegerakan kematian. Dia letakkan gagang pedangnya di tanah dan ujungnya dia tancapkan di dadanya, kemudian dia tusukkan pedangnya tadi ke dadanya dan akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Pada saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, _Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal dia adalah penghuni neraka dan seseorang benar-benar mengerjakan amalan penghuni neraka menurut pandangan manusia, padahal dia adalah penghuni surga (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, perlu diketahui bahwa dosa-dosa yang dikerjakan oleh seseorang, baik dosa kecil apalagi dosa besar, tidak menjadikannya sebagai sebuah alasan untuk meninggalkan sholat, karena shalat lima waktu diwajibkan bagi seorang muslim baligh dan berakal dalam keadaan bagaimanapun kecuali wanita yang haid.

Sekali lagi perlu diingat baik-baik, maksiat yang dilakukan oleh seseorang tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan sholat lima waktu, apapun maksiat yang dilakukan. Dia harus tetap sholat dan tidak boleh meninggalkannya hanya karena dia melakukan maksiat, semoga shalatnya mencegahnya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah تعالى, sebagaimana Firman Allah تعالى,

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat mencegah perbuatan fahsya dan mungkar (QS. al-Ankabut : 45)

al-Baidhawi berkata di dalam kitab tafsir, Sholatnya akan menjadi sebab untuk menghentikan maksiat-maksiat, ketika dia sibuk dengan sholatnya atau sibuk dengan selainnya dari amalan yang mengingatkan kepada Allah dan mewariskan kepada dirinya perasaan takut kepada-Nya (Lihat Tafsir al-Baidhawi)

Akan tetapi siapa yang sholat, lalu dia juga melakukan fahsya dan mungkar, maka dia telah mencampurkan amal shalih dengan keburukan, jika dosanya lebih banyak daripada pahalanya maka dia akan binasa pada hari kiamat kecuali jika dia mendapatkan rahmat Allah تعالى.

Keempat, yang harus dilakukan kepada orang seperti ini adalah menasehatinya dengan lembut dan perkataan yang baik, dengan menjelaskan bahwa seorang hamba Allah تعالى semestinya harus benar-benar total dalam menghambakan dirinya kepada Allah تعالى, tidak setengah-setengah sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Allah تعالة berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (QS. al-Baqarah : 208)

Mujahid berkata, Kerjakanlah seluruh amal dan perbutan baik.

Ibnu Abbas berkata, Masuklah kalian ke dalam syari’at Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan janganlah kalian tinggalkan sedikitpun darinya, hal itu sudah mencukupi untuk beriman kepada kitab Taurat dan apa yang ada di dalamnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

والله أعلم
dituliskan oleh:
Ahmad Zainuddin
Sabtu, 25 Jumadil Akhir 1432 H
Dammam KSA

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

REKAP TANYA-JAWAB
—————————————

1.
Tanya :
Assalamualaikum … ustadz izin bertanya .. saya sedang berhijrah .. untuk tidak menjalinin hubungan yg salah lagi .. tapi saya selalu sedih kalau ingat dulu pernah pacaran ..
Bagaimana caranya agar terus istiqomah ..
Jazakallah ustadz ..

Jawab :

↠ tidak ada manusia yang luput dari salah, setiap kita pasti pernah berbuat kesalahan

Allah melihat bagaimana kita melangkah untuk menyongsong masa depan kita, jangan terbelenggu dengan masa lalu

tetap tegakkan syari’at dan selalu jauhi larangan Allah

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

2. Jengliewa

Tanya :
Assalamualaikum ustad . Bagaimana caranya mnjawab org yg brtanya. .
Knp org bercadar tp berfoto brsama bukan muhrim.dgn bersender bahu..
Knp ia ttp maksiat
Jawab :

↠ jawab saja,

bahwa apa yang kita lihat adalah sebagai pelajaran, agar kita tidak mencontoh apa yang ia telah lakukan, Allah berikan kita hikmah/pelajaran dengan kejadian tersebut, akankah kita mengikuti jejaknya, ataukah kita pertahankan keimanan kita. Ingatlah,

Barangsiapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan melemparkannya ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barangsiapa berbuat taat sambil menangis, maka Allah akan memasukkannya ke surga dalam keadaan tertawa

والله أعلم

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

3. Tanya:
Maaf ustad melanjutkn

Jd org yg brtanya itu.
Bilang ke saya
Ya buat apa cadaran jilbab besar tp msh mksiat. Mending jilbab biasa.
Jd seolah menyalahkan jilbab nya

Jawab :

↠ simpel saja, apakah sudah ditabayyun kepada pasangan tersebut, bisa saja mereka adalah pasangan yang sah, atau memang mereka adalah mahram

karena jika sekedar prasangka itu sangat berbahaya, ia akan menjadi fitnah

ini bukan masalah jilbabnya, tapi bagaimana kita bersikap

jika memang mereka bukan pasangan sah, bukan mahram, jangan menghibahnya

namun tegur mereka dengan nasehat yang bijak, agar mereka menjadi sadar akan kesalahan yang sudah mereka lakukan

jadi poinnya, jika melihat hal tersebut, tabayyun, jika terbukti salah, berikan nasehat dengan cara dan kata yang baik, bukan dengan kata mengujat atau menyalahkan

jangan perbah menghibah mereka, apalagi memfitnah

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

4. Tanya:
Assalamu’alaikum ustad aku mau bertanya apa kah bnr dosa zina “pcran” org tua sblum halal dpt berdampak pda ank.y kelak (karma) dan cra mencegah y g mna ?

Jawab :

↠ tidak ada karma dalam Islam, anaknya tidak memiliki salah apa-apa

pada intinya, jika kedua orang tuanya sudah menyadari kesalahan mereka di masa lalu, jaga baik-baik titipan yang Allah berikan pada mereka, kawal ia sehingga tidak terjerumus di lubang yang sama

5. Tanya :
Assalamualaikum ustadz, kalau misalnya kita hijrah karena kagum sama kesholehan ikhwan, kita jdi rajin sholat, puasa, nutup aurat itu gmna? Tpi akhirnya sadar kalau berubah harus karena ridho Allah.. Cuma kan katanya apa2 yg dilihat niatnya dlu.

Jadi gmna kalau awal niatnya karena rasa kagum itu?

Jawab :

↠ kalau sudah sadar, diperbaiki niatnya

karena niat kita yang tentukan akhirnya

jika niat hijrah itu tidak tulus kepada Allah, hanya karena seorang hamba, maka Allah akan berikan sesuai dengan niat tadi, bisa saja ternyata itu adalah kamuflase semata, ujian dari Allah, yang ternyata apa yang kita lihat, tidak sesuai dengan kenyataan setelahnya

berbeda dengan niatan hijrah yamg ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan jaminan/garansi

jadi, perbaiki niat, karena masih belum terlambat

والله أعبم

6. Tanya :
Assalamu’alaykum ustadz

Kenapa banyak orang pakai hijab yg bermacam²
( tabarruj ).
Apakah semuanya di benarkan sesuai syari’at?

Jazkillah khair

Jawab :

↠ jilbab sesuai syari’at adalah jilbab yang biasa-biasa saja, fungsinya hanya untuk menurup aurat, tanpa ada hiasan apa pun, tanpa ada model/gaya apa pun, sederhana, satu warna, dan tidak beratus lilitan hingga mengalahkan lapisan wafer tan**

7. Tanya :
Ustadz, bagaimana sikap seorang akhwat jika ia jatuh hati pada seorang ikhwan?

Jawab :

↠ sampaikan ke mahramnya, dalam hal ini walinya, berceritalah, biar nanti walinya yang mencari jalan untuknya

〰〰〰〰〰〰〰〰〰

———————-oOo———————-
PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

2 comments

  1. Aca Reply

    Assalamualaikum ustad saya ingin bertanya, bagaimana hukum nya jika seseorang rajin ibadahnya baik peril akunya, tetapi dia pacaran. Kemudian ketika dinasehati temannya bahwa pacaran itu haram, di menjawab sudah telanjur. Mohon dijawab ustad

  2. Ian Reply

    Asalamualaikum wr.wb ustadz, saya sudah berniat hijrah dan taubat. Alhamdulillah setelah saya melaksanakan shalat dan ibadah lainnya, hati saya mulai terketuk dan sangat takut melakukan dosa. Namun saya masih pacaran, itu yg membuat saya berpikir taubat sy diterima atau tidak. Kami sebenarnya sudah ingin menikah namun orang tua mungkin blm setuju walaupun kami sudah cukup umur. Jadi saya sangat takut dengan pacaran namun sy berat jika untuk melepasnya karena sudah berjalan cukup lama. Jadi sy harus bagaimana? Trmksh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *