Rekap Tanya Jawab Syariah (162)

Rekap Tanya Jawab Syariah (162)
Rumah Dakwah Indonesia

1. Assalamualaykum. Saya sdg bekerja d sebuah jasa rekrutment karyawan utk manufacturing. Posisi saya skrg ada di staff cs. Tmpt kerja saya bukan outsourching. Kita dpt hasil itu dr fee perusahaan yg bekerjasama merekrut karyawan dgn kita tnpa mengambil dr calon karyawan. Dan hasil selebihnya dari calon karyawan yg mendaftar. Calon karyawan mendaftr sebesar 110rb utk menjd member kita dan akan mendapatkan info loker sekaligus arhan untuk d referensikan ke perusahaan.
Yg ingin saya tanyakan bagaimana kan status gaji yg sy dapatkan?
Terimakasih

Jawab:

Perlu di ketahui akad 110rb kejelasan untuk apa, jika tdk kejelasan yg syar’i maka hukumnya syubhat

©Ustadz Meichal Kusumadiya Sambul

2. Assalamu’alaikum ustadzah. Ana mau nnya , apa hukumnya smoothing dan rebonding? Dan mohon dilampirkan juga firman atau hadits. Syukron..

Jawab

Rebonding adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh lebih lurus dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. Pertama, rambut diberi krim tahap pertama untuk membuka ikatan protein rambut. Kemudian rambut dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti disetrika dengan alat pelurus rambut bersuhu tinggi. Kedua, rambut diberi krim tahap kedua untuk mempertahankan pelurusan rambut.

Proses rebonding melibatkan proses kimiawi yang mengubah struktur protein dalam rambut. Protein pembentuk rambut manusia disebut keratin, yang terdiri dari unsur sistin (cystine) yaitu senyawa asam amino yang memiliki unsur sulfida. Jembatan disulfida -S-S- dari sistin inilah yang paling bertanggung jawab atas berbagai bentuk dari rambut kita. Rambut berbentuk lurus atau keriting dikarenakan keratin mengandung jembatan disulfida yang membuat molekul mempertahankan bentuk-bentuk tertentu. Pada proses rebonding, pemberian krim tertentu bertujuan untuk membuka/memutus jembatan disulfida itu, sehingga bentuk rambut yang keriting menjadi lemas/lurus.

Proses rebonding menghasilkan perubahan permanen pada rambut yang terkena aplikasi. Namun rambut baru yang tumbuh dari akar rambut akan tetap mempunyai bentuk rambut yang asli. Jadi, rebonding bukan pelurusan rambut biasa yang hanya menggunakan perlakuan fisik, tapi juga menggunakan perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen. Inilah fakta (manath) rebonding.

Menurut ulama, rebonding hukumnya haram, karena termasuk dalam proses mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah) yang telah diharamkan oleh nash-nash syara’. Dalil keharamannya adalah keumuman firman Allah (artinya), “Dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya”. (QS An-Nisaa` [4] : 119). Ayat ini menunjukkan haramnya mengubah ciptaan Allah, karena syaitan tidak menyuruh manusia kecuali kepada perbuatan dosa.

Mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah) didefinisikan sebagai proses mengubah sifat sesuatu sehingga seakan-akan ia menjadi sesuatu yang lain (tahawwul al-syai` ‘an shifatihi hatta yakuna ka`annahu syaiun akhar), atau dapat berarti menghilangkan sesuatu itu sendiri (al-izalah). (Hani bin Abdullah al-Jubair,Al-Dhawabit al-Syar’iyah li al-‘Amaliyat al-Tajmiliyyah, hlm.9).

Dari definisi tersebut, berarti rebonding termasuk dalam mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah), karena rebonding telah mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen sehingga mengubah sifat atau bentuk rambut asli menjadi sifat atau bentuk rambut yang lain. Dengan demikian, rebonding hukumnya haram.

Selain dalil di atas, keharaman rebonding juga didasarkan pada dalil Qiyas. Dalam hadis Nabi SAW, diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, dia berkata,“Allah melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan bulu alisnya, serta wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan, mereka telah mengubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari).

Hadis ini telah mengharamkan beberapa perbuatan yang disebut di dalam nash, yaitu mentato, minta ditato, mencabut atau minta dicabutkan bulu alis, dan merenggangkan gigi. Keharaman perbuatan-perbuatan itu sesungguhnya didasarkan pada suatu illat (alasan penetapan hukum), yaitu mencari kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah (thalabul husni bi taghyir khalqillah) (Walid bin Rasyid Sa’idan, Al-Ifadah al-Syar’iyyah fi Ba’dh al-Masa`il al-Thibbiyyah, hlm. 62). Dengan demikian, rebonding hukumnya juga haram, karena dapat diqiyaskan dengan perbuatan-perbuatan haram tersebut, karena ada kesamaan illat, yaitu mencari kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah.

Sebagian ulama telah menyimpulkan adanya illat dalam hadis tersebut, sehingga mereka mengambil kesimpulan umum dengan jalan Qiyas, yaitu mengharamkan segala perbuatan yang memenuhi dua unsur illat hukum, yaitu mengubah ciptaan Allah dan mencari kecantikan. Abu Ja’far Ath-Thabari berkata,”Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa wanita tidak boleh mengubah sesuatu dari apa saja yang Allah telah menciptakannya atas sifat pada sesuatu itu dengan menambah atau mengurangi, untuk mencari kecantikan, baik untuk suami maupun untuk selain suami.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, 10/156; Ibnu Hajar, Fathul Bari, 17/41; Tuhfatul Ahwadzi, 7/91).

Adapun meluruskan atau mengeriting rambut tanpa perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein rambut secara permanen, yakni hanya menggunakan perlakuan fisik, seperti menggunakan rol plastik dan yang semisalnya, hukumnya boleh. Sebab tidak termasuk mengubah ciptaan Allah, tapi termasuk tazayyun (berhias) yang dibolehkan bahkan dianjurkan syara’, dengan syarat tidak boleh ditampakkan kepada yang bukan mahram.

Tetapi ad jg yg membolekkan atas dasar berhias utk suami saja tdk lebih dari itu.

Wallahu a’lam

©Ustadzah Nisa

3. Assalamu’alaykum ustadzah.
Mau bertanya apa batasan aurat perempuan? Apakah perlu memakai manset dan kaus kaki? Apabila kain menyentuh tanah itu hukumnya najis dan bagaimana cara bersucinya? Karena bnyak baju akhwat yg modelnya panjang hingga menyentuh lantai atau tanah. Terima kasih

Jawab

Aurat wanita adalah sebagaimana ketika kita shalat, yg boleh trlihat hanyalah muka dan telapak tangan

Meskipun ada sdikit perbedaan utk wilayah kaki ( ada yg mengatakn bahwa kaki tidaklah aurat) krn seringnya dapat terlihat.

Aurat utk tangan: mulai dr batas pergelangan tangan. Dan utk melihat menggunakan manset at tidak, kita bisa lihat, jika lengan baju kita sangat longgar dan memungkinkan aurtnya terlihat,maka dianjurkan memakai manset. Krn ada yg model baju yg diujung lengannya menutupi pergelangan tangan sehingga itu sdh mencukupi utk tidak bermanset

Utk masalah baju yg trkena tanah: seblumnya kita harus ketahui bahwa tanah itu asalnya adalah suci. Makany kita bisa bertayamum dengannya. Akan tetapi ia akan menjadi najis jika dikotori oleh najis, atau kotoran2 hewan tg dijalan tsb. Jika hal ini trjadi maka seblum shalat bersihkanlah trlebih dahulu.

Untuk solusi terbaik, bagi para akhwat sebaiknya memperhatikan ukuran baju yg tepat. Tidak trlalu kepanjangan shingga terseret2 ketanah utk mnghindari najis, cukup sebatas tumit kaki (jgn jg trllu menggantung)
Wallahu a’lam

©Ustadzah Nisa

4. Bolehkah berwudhu tanpa melepas sanggul, Ustadzah?

Jawab

Boleh ukhty,krn utk batas kepala yg akan di basuh ketika wudhu’ ini adalah rahan ikhtilaf ulma’ mazhab yg 4: kl imam syafi’i walau beberapa helai rambut saja yg di basuh tidak mengapa.
Jdi tidak perlu membuka sanggul ketika berwudhu. Boleh cek di kitab fiqih 4 mazhab.

Para ulama berbeda pendapat tentng basuhan kepala: ada yg mengatakan seluruh  kepala dan jg sebagiannya
Wallahua’lam

©Ustadzah Nisa

===================================
Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia
Tim P n K
===================================

1 Comment

  1. Rudi Reply

    Assalamu alaikum wr wb.
    Selamat siang ustad

    Saya langsung to the point saja…….
    Kami mohon pencerahan menurut hukum agama Islam dan dalil2 apa saja mengenai :
    1. Apakah Hukumnya tentang laki2 non muslim berpindah agama ke Islam hanya untuk bisa menikahi wanita non muslim kemudian selang beberapa tahun laki2 tsb kembali kepada agamanya semula kemudian mereka memiliki 2 org anak ( putra dan putri ) krn sesuatu masalah kembalinya suami tsb ke agama semulannya maka tak lama kemudian istrinya menggugat cerai dan terjadilah perceraian tsb krn wanita tsb tdk mempunyai nafkah/biaya hidup alias dari keluarga sederhana maka anak2 tsb diambil oleh suaminya hingga sekarang, pertanyaan lagi :
    a. Apakah Dalilnya atau batasan hukum menurut islamnya bila ibu tsb mendoakan anak2 tsb, dalam arti apakah doa tsb sampai atau tidak atau apakah ada doa khusus tentang hal tsb.
    b. Apakah hak dan kewajiban ibu tsb terhadap anak2nya menurut hukum islam dan dalilnya.

    2. Berselang beberapa tahun wanita muslim tsb menikah dengan seorg pria muslim yang sdh mempunyai 2 anak yang notabene anak2 suami barunya dalam asuhan istri lamanya :
    a. apakah hak dan kewajiban wanita tsb. (dalilnya)
    b. apakah hak dan kewajiban suaminya terhadap anak kandungnya maupun terhadap anak dr istrinya skrg (dalilnya)

    3. Dari hal2 tersebut diatas langkah bijak sesuai hukum dan dalil agama Islam apa yg harus ditempuh dan disamakan tujuannya.

    Sekedar info …..hal2 tsb sering menimbulkan kesalahpahaman dan pertengkaran sehingga mengganggu jalan rumah tangga kami.

    Demikian kami sampaikan semoga ustad berkenan memberikan pencerahan yang baik dan bijak secara hukum dan dalil agam Islam

    Wassalamu alaikum wr wb
    Hormat Kami,

    Rudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *