Pembagian Hati Menjadi Hati Yang Sehat, Sakit, dan Mati

3.5 (70%) 2 votes

Notulensi Kajian Bulanan Rumah Dakwah Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Grup : Zainab
Muwajjih : Ustadz Tri Purnomo (Abu Izzah)
Tema : Pembagian Hati Menjadi Hati Yang Sehat, Sakit, dan Mati
Admin : G11-G15 Akhwat
Moderator : Mega
Notulen : Suci
MUQADIMAH
————————
Mari kita buka kajian malam  ini dengan membaca basmallah bersama,

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

Semoga Allah memberikan kita kemudahan dan kelancaran.

Aamiin

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yg memberikan mata yg dapat melihat, hidung yg dapat mencium, mulut yg dapat bicara, terlinga yg dpt mendengar. Mungkin terkadang kita lupa utk mensyukurinya.

Shalawat beserta salam kita haturkan kepada pejuang peradaban Islam, penunjuk jalan kebenaran umat dan sekaligus uswah hasanah kita yakni nabi besar Muhammad SAW. Semoga kita bisa bersua dgn beliau di yaumil akhir.

========================

Materi :

MENGENAL HATI

Mengawali kaji kita pada malam hari ini, kita dengarkan bersama sebuah nasyid berikut:
Judul: Mata Hati
Album : Pelita Hidup Munsyid : Hijjaz
Pandangan mata selalu menipu  Pandangan akal selalu tersalah  Pandangan nafsu selalu melulu  Pandangan hati itu yang hakiki  Kalau hati itu bersih   Hati kalau selalu bersih  Pandangannya akan menembusi hijab  Hati jika sudah bersih  Firasatnya tepat kehendak Allah  Tapi hati bila dikotori  Bisikannya bukan lagi kebenaran   Hati tempat jatuhnya pandangan Allah  Jasad lahir tumpuan manusia  Utamakanlah pandangan Allah  Daripada pandangan manusia

*****
Sebagai pembuka mari kita baca bersama penggalan hadits ke-6 dari hadits arbain berikut:
“….Ketahuilah bahwa didalam tubuh [manusia] terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Maka ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati ” . (HR Bukhori dan Muslim)
Hati memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap diri manusia karena dia ibarat penguasa dalam tubuh. Abu Hurairah mengatakan bahwa hati adalah ibarat raja sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya. Jadi kalau hatinya buruk maka buruk pula diri manusia itu.
Mengingat begitu pentingnya hati bagi manusia maka sudah seharusnya jika hati dan hal yang terkait dengannya mendapatkan perhatian serius dari kita. Menjaganya agar tetap baik menjadi harga mati, terlebih jika kita kaitkan bahwa hati manusia selalu berubah.
Nawwas bin Sam’an Al Kilabi berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada satu hati pun kecuali ia berada di antara dua jari dari Jari-Jemari Rabb semesta alam. Jika Dia ingin memberikannya keistiqamahan niscaya Ia akan berikan keistiqamahan padanya. Dan jika Dia ingin memalingkannya (dari Islam) niscaya akan dipalingkan-Nya dari Islam. Dan beliau berdo’a: “Wahai Dzat yang membulak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Dan Al Mizan juga berada di Jari Ar Rahman ‘azza wajalla Dia lah yang meringankan dan mengangkatnya. (HR. Ahmad; dishahihkan syaikh muqbil dalam shahiihul musnad)
Ada hal yang seolah bertolak belakang, bahwa disatu sisi kita dituntut untuk menstabilkan kondisi hati agar selalu dalam kondisi baik tetapi ternyata yang akan menentukan baik buruknya kondisi hati manusia adalah Allah SWT.
Akhowatifillah, tidak perlu bingung, memang Allah lah yang berkuasa penuh akan hati manusia tapi Allah menunjuki kepada kita tentang cara dan jalan yang harus kita lakukan agar kita tetap dalam kondisi baik. Allah memang Maha Berkehendak, Allah yang memutuskan tetapi Allah juga Maha Adil. Barang siapa yang memenuhi petunjuk Allah baik yang langsung diperintahkanNya dalam Al Qur’an maupun yang dicontohkan oleh utusanNya (Rasulullah) maka Allah tidak akan mengingkari janjiNya. Tugas kita memenuhi kehendak Allah tersebut.
PEMBAGIAN HATI BERDASARKAN KONDISINYA
Imam Ibnul Qayyim membagi hati manusia menjadi 3 kelompok
Hati yang Sehat (Qolbun Salim)
“Hari ketika tiada lagi berguna harta dan anak-anak kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah membawa hati yang selamat.” (QS Asy Syu’ara: 88-89)
Diantara Ciri Qolbun Salim:
Dia selamat/bersih dari rasa suka kepada hal2 yang tidak disukai oleh Allah.
Hati itu selalu menggerakkan pemiliknya agar senaniasa kembali kepada Allah dan bergantung kepadaNya.
Hati itu tidak pernah putus mengingat Allah.
Apabila disodorkan kepadanya sesuatu yg buruk,dia dengan naluri dan fitrahnya lari menjauh dan tidak menoleh kepadanya, bahkan membencinya.
Jika satu saja amal taat luput dikerjakannya, dia merasa kehilangan dan sakit.
Dia selalu rindu ingin bertemu dengan Allah.
Setiap mulai shalat, hilang darinya kesedihan dan cemas terhadap urusan dunia.
Selalu menjaga waktunya untuk hal2 yg berguna,jauh dari yang sia-sia.
Perhatian untuk memperbaiki amal lbh besar drpada mengerjakan amalan itu sendiri.
Sengaja saya tidak memperpanjang kajian tentang qolbu salim ini karena insya Allah kita semua sudah mahfum. Kita lebih fokus kepada kondisi hati yang mati dan hati yang sakit agar bisa kita deteksi sejak dini.
Hati yang Mati
Secara umum, hati yang mati ini adalah gambaran untuk hati orang-orang kafir.
Diantara ciri hati yang mati:
Meninggalkan Ibadah Wajib tanpa merasa berdosa
Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah– mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7).
Asy Syaukani –rahimahullah– mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).
Jika seseorang tidak merasakan rasa penyesalan sama sekali bahkan tidak menganggap berdosa ketika meninggalkan Shalat, Puasa, Zakat, haji dsb maka waspadalah, sesungguhnya hatinya telah mati. Apalagi jika dasar tidak menunaikan kewajiban tersebut adalah pengingkaran syariat maka dia sudah jatuh kepada kekafiran.
Bangga melakukan kemaksiatan dan dosa (QS. Al A’raf 7:3)
Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua umatku di ampuni kecuali orang-orang yang bangga atas dosanya, dan diantara bentuk membanggakan dosa adalah; seseorang yang melakukan perbuatan dosa diwaktu malam dan Allah telah menutupinya, lalu di pagi harinya, dia berkata: ‘Ya fulan, saya semalam melakukan ini dan itu. Malam harinya dalam keadaan Allah ditutupi dosanya namun pada pagi harinya dia sendiri yang membuka aibnya”. (HR Bukhari dan Muslim)
Dan orang yang memamerkan perbuatan dosanya maka dia seolah telah mengumpulkan beberapa kejahatan sekaligus yakni bahwa ia telah melakukan dosa di depan manusia, seakan-akan dia melegalkan dosa tersebut, tidak ada lagi kepedulian untuk menjaga batasan-batasan Allah, melanggar keharamanNya.
Benci kepada Al Qur’an dan hadits.
Dan apabila dia mengetahui sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 9)
Salah satu karakter orang kafir seperti Abu Jahal la’natulllah – yang banyak mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, berdusta dan berdosa – adalah ketika mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an karena kesombongannya tidak mau beriman dan pura-pura tidak mendengarnya, tapi ketika mengetahui sedikit saja ayat-ayat Al-Qur’an dari teman-temannya maka mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olok.
Merasa diri paling suci
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32)
Terlarangnya bagi orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang lain bahwa dirinya suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri karena itu adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani. Diantara contohnya adalah ayat-ayat berikut:
“Dan mereka berkata, ‘kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah: 80).
Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.
“Dan mereka berkata,’Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah: 111).
Kenapa merasa diri paling suci bisa mematikan hati? Karena orang yang telah merasa suci tidak akan pernah bisa menerima teguran dan nasihat, inilah sejatinya sifat dasar iblis.
Benci Nasihat dan ulama
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi membawakan sepotong hadits tentang larangan meninggalkan para ulama  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
“Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, yaitu: Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka, Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman.
Lihatlah ujung dari orang yang membenci ulama, tidak lain adalah mati tanpa keimanan. Ulama lah yang memahami ilmu agama ini, mereka yang menjaga kemurniaanya dan menyambung estafet pengajarannya kepada kita. Dengan membencinya, lalu bagaimana ilmu agama ini bisa sampai kepada kita? 
Tidak percaya akhirat
Beberapa hari yang lalu kita digemparkan ucapan seorang tokoh nasional yang diantaranya berkata,” “Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup mempromosikan diri mereka sebagai self fullfilling propechy, para peramal masa depan. Mereka meramal dengan fasih tentang apa yang akan datang, termasuk kehidupan setelah dunia fana. Padahal notabene mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya.”
Mungkin yang bersangkutan lupa bahwa percaya akan hari akhirat adalah salah satu rukun iman. Tidak mempercayainya bermakna kehilangan salah satu pilar keimanan. Ucapan seperti itu telah jauh-jauh hari diabadaikan oleh Allah dalam Qur’an: “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).
Membantu Orang Kafir Memusuhi Ummat Islam
“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadnya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 81)
Tentang ayat itu, Syikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah mensyaratkan bagi seorang muslim untuk tidak berwali atau mengambil teman setia dari orang-orang kafir. Kata Law dalam ayat tersebut menandakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang mukmin, yaitu tidak boleh mengangkat pemimpin atau penolong-penolong dari orang-orang kafir. Karena antara keimanan dan menjadikan orang kafir sebagai penolong adalah dua prinsip yang berlawanan, dua prinsip itu tidak mungkin bisa berkumpul dalam hati orang mukmin. (lihat : Ibnu Taimiyah, Al-Iman, hal: 14)
Syaikh Hamad bin ‘Atiq mengatakan, “Adapun perihal memusuhi orang-orang kafir dan musyrik, maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah mewajibkan hal itu dan menekankan kewajiban ini dan Allah mengharamkan berwali kepada mereka dan menegaskan keharamannya. Sehingga dalam Kitabullah tidak ada hukum yang lebih banyak dalilnya dan lebih gamblang penjelasannya setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik melebihi masalah ini.” (Abdul Azizi bin Muhammad bin Ali Alu Abdul Lathif, Nawaqidhul Iman al Qauliyah wal ‘Amaliayah, hal: 359).
Mencintai dunia tanpa peduli halal haram dalam mendapatkannya
“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. [HR Bukhari].
“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya”. [HR Ahmad dan Ad Darimi].
Tidak lagi menjadikan syariat sebagai acuan dalam mencari nafkah sama halnya dengan mengingkari syariat itu sendiri. Karena sikap seperti itulah Allah murka kepada Yahudi yang diantaranya adalah sering memakan harta yang haram: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, (lagi) banyak memakan yang haram”. [Al Maidah:42]. Maka berhati-hatilah dengan ungkapan “Cari yang haram saja susah apalagi cari yang halal!”

Hati yang Sakit (Qolbun Maridh):
Mengingat bahwa memang hati kita tidak akan pernah bisa konstan dalam satu kondisi, selalu berbolak-balik, maka sebagai orang yang beriman juga sekaligus orang yang berdosa, maka hati yang sakit ini lah yang sering kita alami.
Diantara ciri hati yang sakit:
Mengenal Allah, tetapi tidak meletakkan Allah sebagai yang utama serta lebih suka mengikuti hawa nafsu
Perhatikanlah bagaimana pergerakan hati kita ketika Adzan berkumandang. Apakah ia merasa bahagia atau malah merasa terbebani? Perhatikan lagi kelanjutannya, apakah badan kita lantas bergerak memenuhi panggilannya itu atau malah mencari alibi untuk melewatkan panggilan? Kita lah yang bisa menjawabnya. Akan tetapi, ketahuilah bahwa apa yang jadi pilihan kita adalah bentuk dari sehat atau sakitnya hati kita.
Kebanyakan yang jadi penyebab bagi seorang muslim untuk menunda kebaikan adalah ketidakmampuannya mengelola nafsu dunia. “Ia lebih suka mendahulukan kepentingan pribadi dan syahwatnya daripada taat dan cinta kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,”Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al Furqaan : 43)
Tidak merasakan sakitnya hati dengan sebab luka-luka maksiat
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raaf : 201)
Seperti ungkapan pepatah : “Luka tidak terasa sakit bagi orang mati.” Karena hati yang sehat pasti merasa sakit dan tersiksa dengan perbuatan maksiat. Hal itulah yang membuatnya tergerak untuk kembali bertaubat kepada Robbnya. Allah Ta’ala berfirman,
Sedangkan orang yang hatinya sakit selalu mengikuti keburukan  dengan keburukan juga. Tentang firman Allah Ta’ala, “ Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthaffifiin : 14)
Al Hasan al Bashri rahimahulloh mengatakan, “Itu adalah dosa di atas dosa sehingga membuat hati menjadi buta, lalu mati.” Sementara hati yang sehat selalu mengikuti keburukan dengan kebaikan dan mengikuti dosa dengan tobat.
Tidak merasa tersiksa dengan kebodohannya (ketidaktahuannya) akan kebenaran
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Islam ditegakkan atas ilmu, itulah sebabnya ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah adalah “Iqra”. Ayat tersebut secara implisit menyemangati kita agar terus belajar agar setiap saat kita bisa menyempurnakan amal sebagai bukti keimanan. 
Lalu bagaimana mungkin kita yang mengaku beriman lantas mampu bertahan dalam kebodohan? Bagaimana kita bisa beramal dengan baik dan benar tanpa ilmu? Betapa banyak amal baik malah bernilai dosa ketika tidak disertakan ilmu di dalamnya. Karena itu seorang ulama mengatakan,”Tidak ada dosa yang lebih buruk selain kebodohan.”
Meninggalkan yang bermanfaat dan memilih yang berbahaya
Mari jawab dengan jujur, perbandingkan suasana hati kita saat mendengarkan lagu-lagu, menonton film dibandingkan dengan saat kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan. Tidak jarang kita merasa terganggu bahkan padahal kita tidak sedang dalam keadaan sibuk atau tertidur.
Terkadang kita mencari inspirasi dan solusi lewat lagu, novel, film dan hiburan lainnya tetapi kita lupa bahwa sejatinya seluruh masalah kehidupan kita ada dalam Al Qur’an.
“Dan kami turunkan dari AlQur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (AlQur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al Israa’ : 82)
Terpaut pada dunia tidak merindukan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman, “Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al A’laa : 16-17)
Sering kali hati dan perhatian kita habis untuk memperhatikan masalah dunia. Dari bangun pagi sampai tertidur di malam hari semua demi mengejar dunia. Kita lupa bahwa yang kita kejar itu akan kita tinggalkan.
Kita lupa menyisipkan ingatan tentang akhirat dimana kita akan berlabuh untuk selamanya. Bukankah kehidupan di dunia yang pendek ini semata untuk menyediakan kesempatan buat kita mengumpulkan bekal di akhirat kelak? Lantas jika kita mati hari ini, apakah bekal itu sudah tersedia secara memadai?
Kita tidak diminta lari dari kehidupan, meninggalkan dunia sebelum kematian, konsep kerahiban itu tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi, kita diminta untuk mengendarai dunia menuju akhirat kita. Bukan sebaliknya bahwa kita yang diperbudak dunia.
Tahu yang ma’ruf, tetapi enggan mengingkari kemungkaran.
Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.”
Lalu bagaimana jika kita melihat kemungkaran tetapi bahkan hati kita pun tidak tergerak untuk melawannya, apakah masih tersisa keimanan di dalamnya?
Jika kemungkaran dibiarkan, maka yakinlah suatu saat ia akan membelit kita, keluarga kita atau anak cucu kita. Dan ingatlah bahwa itu ada andil kita yang enggan membasmi kemungkaran.
Lebih menyukai tempat buruk dibanding yang baik
Mari kita ingat sejenak suasana hati kita saat berada di dalam masjid, majelis ilmu atau majelis dzikir. Adakah dia sebahagia saat kita berada di pusat perbelanjaan, taman bermain, bioskop dan sejenisnya? Kita yang tahu jawabnya dan itulah gambaran kondisi hati kita sehat atau sakit.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya mereka yang memakmurkan masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…(QS. At Taubah[9]:18)”
Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkanNya, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari)
Lebih menyukai orang buruk dibanding orang shaleh
Imam Syafi’I berkata: “Aku mencintai orang-orang shaleh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka, semoga  bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.”
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Al-Maidah:55-56)
Dari Abdullah bin Masud r.a, ia berkata: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata:  Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia belum dapat bertemu dengan mereka? Rasulullah saw menjawab: Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. Muslim/1520)
Jika kita hati kita lebih terpaut kepada orang yang buruk, maka perhatikanlah akhir dari hadits tersebut bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya. Kit harus ingat bahwa tidak masuk sebagai penghuni surga kecuali dia adalah orang shaih yang telah diridhai Allah, karena itu lah sudah seharusnya jika kita merindukan untuk membersamai mereka sebagaimana para sahabat selalu rindu untuk bersama dengan Rasulullah SAW.

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

REKAP TANYA-JAWAB
—————————————

1. Ukhty Jiah

Ustadz mohon tipsnya :
1) Untuk menghilangkan rasa iri yang timbul di hati.
2) Tadi dikatakan hati dan pikiran masih fokus pada duniawi, lalu bagaimana untuk menghilangkannya ya Ustadz.

Jawab

1) Iri atau yg biasa juga kita sebut sirik (bukan syirik) biasanya muncul karena kita menginginkan sesuatu yang diperoleh orang lain sementara tidak atau belum mendapatkannya. Cara paling tepat memusnahkan rasa iri ya kita raih apa yang kita iriin itu. Gimana kalo blm bisa meraihnya? Sadari bahwa iri yg berkonotasi negatif tidak akan membantu kita meraih hal tersebut, malah seringkali jadi hambatan psikologis. Gak enak makan, gak enak tidur, gak enak mikir, ujungnya usaha kita jadi semakin sulit.

2) Tentang pikiran yg masih fokus pada duniawi. Sebenarnya Islam itu tidak menyuruh kita meninggalkan dunia. malah kita diperintah untuk menjalankan semua peran kita di dunia. bedanya hanya sedikit tapi sulit, yaitu pada niat. Orang beriman melakukan hal yang sama dengan orang kafir tetapi motivasinya yang berbeda. Semua dilakukan untuk Allah. Karena untuk Allah maka amal itu harus mengikuti kehendak Allah tentang tatacara dan peruntukkannya semata untuk Allah. Ikhlas dan benar. Orang kafir menikah, orang beriman juga menikah, tetapi pernikahan bagi orang mukmin itu lebih dari sekedar hasrat seksualitas. Ada fungsi mencetak generasi penerus, ada fungsi ta’awun dalam kebaikan antar anggota keluarga, ada fungsi dakwah dst.

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

2. Ammah sukma

1) Bagaimana caranya melembutkan hati yang keras?
2) Dan bagaimana mengajarkan pada hati dan diri tentang sebuah ikhlas dan sabar

Jawab

1) Hati akan lembut dengan mengingat Allah dan berbuat kebaikan, sebaliknya akan mengeras dengan maksiat. Karena itu kita diperintahkan manakala kita khilaf berbuat salah atau dosa, segera iringi dengan taubat dan berbuat kebaikan (ibadah). Kebaikan sangat variatif bentuknya, tetapi ada amalan yg sangat cepat melembutkan hati yaitu mengingat kematian dan kehidupan di setelah kematian tersebut.

2) Adapun tentang menjaga keikhlasan, ini memang perlu latihan, tidak muncul tiba2. Untuk bisa ikhlas, seseorang harus memahami dengan benar konsep ketuhanan dan penghambaan. Untuk bisa ikhlas lakukan amal yg sama berulang-ulang maka suatu saat kita tidak akan mempedulikan penilaian orang lain. Contoh kita makan setiap hari, maka kita hampir tidak mempedulikan penilaian orang lain, padahal makan adalah bagian dari ibadah.

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

3. Tati

Kalau orang kafir dengan hati yg mati, agar hatinya hidup kembali apakah karena ada kesadaran atau karena dapat hidayah dari Allah.
Mohon penjelasannya.

Jawab

Tentang hidayah kepada hati yang mati. Sebenarnya tidak ada orang yg sepanjang hidupnya hatinya mati 100%, yang ada jika dibiarkan terus menerus maka seseorang akan semakin kecil peluangnya untuk mendapatkan hidayah. Itulah sebabnya kita diberi rambu-rambu, kalo sudah 40 tahun belum juga bertaubat, biasanya akan berakhir su’ul khatimah, walau itu juga bukan harga mati, itu hanya bicara statistik. Para pemimpin kafir Quraisy itu pernah saling kepergok sedang menguping Rasulullah mengajarkan ayat Qur’an, bukan untuk memata-matai, tetapi karena mereka rindu akan isi dari ayat Qur’an.

Allah menaburkan pintu hidayah itu buat siapa saja hanya saja penangkapan masing2 manusia bisa berbeda. Contoh, kasus 911 (menara WTC) ada yg masuk Islam gara2 peristiwa itu tetapi juga ada yg semakin benci dengan Islam. secara umum, orang-orang yg masih memiliki fitrah kemanusiaan masih memungkinkan menerima hidayah jika nilai-nilai yg dia yakini bertemu secara bersamaan dengan sebuah peristiwa yg disajikan Allah. Bagaimana kisah umar misalnya bisa menjadi bukti.

Hidayah itu juga bukan semata kepada orang di luar Islam, bagi kita yg muslim juga bisa. Hidayah untuk menjadi semakin sholihah, hidayah berhenti maksiat, hidayah rajin beribadah dsb. Yang perlu kita pahami, hidayah itu hanya pintu masuk, dia tidak akan bermakna jika tidak ditindaklanjuti dengan sikap yang benar… Jangan dikira orang-orang kafir itu tidak menerima bisikan kebenaran dan kebaikan, jangan dikira mereka tidak meyakini bahwa Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, tetapi mereka tidak mau masuk walau pintu sudah dibuka.

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

4. Ummu Rifa

Ustadz dari hadits dlm tubuh manusia terdpt segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Pertanyaannya apakah termasuk baik tubuhnya jika ada kondisi  fisik badan cacat? Tapi baik hatinya. Syukron ustadz.

Jawab

Maksud baik dalam hadits itu, jika hatinya baik maka amalan fisiknya juga akan baik sebagai refleksi baiknya hati.

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

5. Ukhty Yuli Akhmad

Bagaimana orang yang bicaranya keras tanpa basa-basi sehingga yg diajak ngobrol tersinggung (alias tidak lemah lembut). Apakah termasuk penyakit hati atau memang sudah karakternya?

Jawab

Inilah yg disebut kebhinnekaan, Allah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Kalau sudah mengenal maka timbul pengertian dan saling memahami. Secara umum memang kita diperintahkan untuk lemah lembut kepada sesama muslim, tapi memang standar lemah lembut ini juga berbeda. Karena itu berlapang dada setelah proses mengenal dan memahami sangat diperlukan dalam ukhuwah Islamiyah. tapi perbedaan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap semau gue. Jika semangat ukhuwah insya allah akan tetap baik. Bukankah yg berasal dari hati akan sampai ke hati?.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Clossing Statement :

Hati kita memang akan selalu mengalami fluktuasi keimanan, bahkan hanya selisih beberapa saat pun kita bisa mengalami perbedaan suasana hati termasuk keimanan. Itu menunjukkan bahwa mmg Allah lah yang berkuasa penuh membolak balikkan hati kita. Karena itu ikutilah cara Rasulullah bagaimana Beliau memelihara hati dan keimanannya. Senantiasa berdoa kepada Allah agar diteguhkan hati kita dalam iman dan ketaatan dan keistiqomahan dalam agama ini. setiap melakukan kesalahan atau dosa segeralah bertaubat dan tutup dengan amalan kebaikan. tetaplah dalam komunitas kebaikan, karena serigala akan menerkam domba yg sendirian.

———————-oOo———————-
PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *