Ma’rifatul Din

Review anda

Notulensi Kajian Bulanan Rumah Dakwah Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Grup : Kajian Rumah Fathimah (G. 16-20)
Muwajjih : Ust. Satria Ibnu Abiy
Tema : Ma’rifatul Dien
Admin : G.16
Moderator : Chie
Notulen   : Chie
MUQADIMAH
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

========================

Materi :
————-
ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا..

ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ؛ ﻟﻪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻭ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ، ﻳﺤﻴﻰ ﻭ ﻳﻤﻴﺖ ﻭ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﺊ ﻗﺪﻳﺮ ﻭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻤﺮﺟﻊ ﻭ ﺍﻟﻤﺼﻴﺮ ..

ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﺑﻠﻎ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﻭ ﺃﺩﻯ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ ، ﻭ ﻧﺼﺢ ﺍﻷﻣﺔ ﻭ ﻛﺸﻒ ﺍﻟﻐﻤﺔ ، ﻭ ﺟﺎﻫﺪ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺭﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﺎﻩ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ..

أما بعد.

Ketika Allah menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan (way of life), tentulah Allah sudah sangat mengetahui hal-hal apa saja yang akan dihadapi oleh manusia (baca; kaum muslim) itu sendiri. Islam menginginkan adanya penyelesaian dan kedamaian atas segala seuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia. Islam merupakan pegangan hidup manusia yang mampu mengantarkan kepada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat, dan tentunya akan mampu mengatasi segala problematika yang terjadi.

Sejarah telah membuktikan, betapa Islam mampu untuk menjadi poros dunia yang memimpin serta menguasai peradaban dalam waktu yang relatif lama. Kejayaan Islam adalah karena komitmen mujahid-mujahid Islam di masa lalu, namun kejayaan tersebut terkikis seiring pudarnya keimanan kaum muslimin. Rasulullah صلى الله عليه و سلم dalam sebuah hadits telah mengingatkan kepada kita :

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang mana kamu tidak akan sesat buat selama-lamanya selagi berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah RasulNya.” (HR. Muslim 2137)

Kemunduran kaum muslimin merupakan bagian dari ‘kesesatan’ sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas. Dengan kondisi saat ini mudah bagi para musuh-musuh Islam untuk melancarkan segala bentuk hunjaman, baik dalam bentuk politik, ekonomi, militer, pendidikan dan lain sebagainya. Kemunduran tersebut karena kurangnya komitmen kaum muslimin terhadap Islam.

Karenanya perlu bagi kita untuk mengkaji ulang tentang hakikat Dienul Islam secara utuh dan menyeluruh agar kita dapat merebut kembali kejayaan yang telah hilang dari tangan kita.

Mengenal Islam

Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam berupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.

Ditinjau dari segi bahasa yang dikaitan dengan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian, di antaranya adalah :

1. Berasal dari ‘salim’, yang berarti damai.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 61)

Kata ‘salim’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri umat Islam, bahwa Islam itu merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian. Firman Allah :

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Hujurat : 9)

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya, Firman Allah :

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj : 39)

2. Berasal dari kata ‘aslama’ yang berarti menyerah.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah. Dengan melaksanakan apa yang diperintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya. Firman Allah :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An-Nisaa’ : 125)

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’aam : 162)

Oleh karenanya sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita berserah diri kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak Allah. Karena In Shaa Allah hati kita akan menjadi damai, dan tenang (baca; mutma’innah)

3. Berasal dari kata ‘istaslama-mustaslimun’, penyerahan total kepada Allah. Firman Allah:

“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” (QS. Ash-Shaffat : 26)

Makna ini sebenarnya adalah penguat dari makna di atas (poin kedua). Sudah sepantasnya, seorang muslim diminta untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki hanya kepada Allah.

Dimensi tersebut dapat kita lihat pada setiap gerak-gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah. Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersingungan dengan orang lain, seperti politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan manhaj Allah. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 208)

Masuk Islam secara total berarti menyerahkan diri kepada Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah.

4. Berasal dari kata ‘saliim’, yang berarti bersih dan suci, firman Allah :

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’araa : 89)

“(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. Ash-Shaffat : 84)

Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dang bersih, sehingga mampu menjadikan pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena tujuan dari Islam adalah untuk membersihkan jiwa manusia. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maaidah : 6)

5. Berasal dari ‘salam’, yang berarti selamat dan sejahtera, firman Allah :

Berkata Ibrahim : “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam : 47)

Makna dari ayat di atas adalah, bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan kepada setiap insan.

Adapun dari segi istilah, islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkanhNya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan dan berlepas diri dari kesyirikan orang-orang musyrik. (Syaikh Abdul wahab dalam kitab Ushul Tsalatsah).

Menurut Abul A’la Al Maududi, yang disebut muslim (orang Islam) adalah seseorang yang wajib dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan bertindak sesuai dengan ajaran tersebut. Bila mereka berkelahi dan berperang (jihad), hal itu mereka lakukan semata-mata demi Islam. Bila mereka memberikan sesuatu kepada orang lain itu adalah karena Islam menyuruh mereka berbuat demikian. Bila mereka tidak memberi sesuatu kepada orang lain itu pun karena Islam melarang mereka untuk memberikannya. Dan sikap mereka yang demikian itu tidaklah terbatas pada individu-individu mereka saja tetapi juga berlaku dalam kehidupan bersama mereka, yang seluruhnya didasarkan pada prinsip Islam. Wujud keseluruhan mereka berkembang menjadi suatu masyarakat yang hanya berdasarkan Islam, dan seluruh tingkah laku kelompok mereka hanya didasarkan pada ajaran-ajaran Islam. (Lihat kitab Manhaj Hidup Muslim).
 
Dienul Islam adalah Ad Dien yang mendidik umat agar mematuhi dan menyerah sepenuhnya (secara mutlak) kepada Allah. Allah memerintahkan kepada hamba-hamba Nya yang beriman agar mereka masuk Islam secara kaffah (keseluruhan). (Al Baqarah : 208).

Islam juga merupakan Dien seluruh nabi dan rasul sejak nabi Adam hingga nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad. Hal itu sebagaimana yang banyak disebutkan dalam Al Quran (Al Hajj : 78). Di antara ayat-ayat yang menjelaskan Dien para nabi dan rasul ialah :
 
Nabi Nuh (QS. Yunus : 72)
Nabi Ibrahim dan Ismail (QS. Al Baqarah : 128)
Nabi Yaqub (QS. Al Baqarah : 132)
Nabi Yusuf (QS. Yusuf : 1O1)
Nabi Musa (QS. Yunus : 84)
Nabi Sulaiman (QS. An Naml : 30-31)
Nabi Isa (QS. Ali Imran : 52)
Nabi Muhammad (QS. Ali Imran : 19)

Karakteristik Dienul Islam
 
Islam sebagai rahmat sekalian alam datang dengan membawa sistem yang memiliki spesifikasi yang berbeda dengan sistem hidup yang lain. Tujuannya itu tidak lain kecuali untuk kebahagiaan dan keselamatan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak. Di antara karakteristik Dienul Islam ialah :
 
1. Bersifat Fitrah, yaitu bahwa Dienul Islam sesuai dengan tuntutan sifat fitrah manusia itu sendiri. Fitrah artinya perangai, tabiat dan kejadian awal menjadi mahluk ciptaan Nya. Fitrah manusia adalah bersifat tauhid (Al A’raaf : 172). Kesaksian setiap manusia bahwa hanya Allah sebagai Rabbnya saat di dalam kandungan adalah membuktikan bahwa fitrah manusia adalah tauhid. Sedangkan Islam adalah Dien yang berasaskan tauhid (Rukun Islam Pertama) yaitu yang terkandung di dalam kalimah Syahadat.

Rasulullah bersabda : “Setiap manusia dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya memeluk Dien Yahudi atau Nasrani/Kristian atau Majusi”.
 
2. Bersifat Rahmah, yaitu Islam merupakan Dien yang menurunkan rahmat kepada alam semesta. Diutusnya Rasulullah dengan membawa Islam adalah membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam merupakan Dien yang membawa rahmat bagi seluruh alam disebabkan karena Islam sanggup mendidik manusia sehingga menjadi insan yang selalu membangun dan menyebarkan kebaikan serta memerangi kejahatan (QS. Ali Imran : 110).

Sejarah membuktikan bahwa disaat umat Islam berkuasa dan berkesempatan menerapkan Syariat Islam secara Kaffah (Syumul), benar-benar dunia saat itu diliputi keamanan, ketentraman, keadilan dan penuh kasih sayang. Inilah rahmat yang dibawa oleh Islam yang berasaskan tauhid. Malah Allah juga telah menggambarkan kalimah Tayyibah (Keyakinan Tauhid) sebagai pohon yang subur, berdiri kokoh dan rindang serta memberikan manfaat pada setiap saat dengan izin Nya (QS. Ibrahim : 24-25)
 
3. Bersifat Hanif dan Qayyim. Hanif artinya condong kepada kebenaran. Dienul Hanif artinya Dien yang lurus yang tidak ada kebengkokkan sedikit pun padanya. Al Qayyim artinya lurus, Dienul Qayyim artinya Dien yang lurus sesuai dengan fitrah.
 
4. Bersifat Samhah. Deinus Samhah artinya Dien yang di dalamnya terdapat kemudahan. Islam adalah Dien yang syari’atnya memberi kemudahan sesuai dengan kemampuan dan keadaan manusia, tidak ada syariat yang berada diluar kemampuan (QS. Al Baqarah : 286).

Tidak ada Syariat Islam yang sulit, semuanya bisa diamalkan menurut kemampuan manusia. Misalnya sholat wajib ditunaikan dengan berdiri, tetapi apabila tidak mampu berdiri karena sakit dan alasan lain, boleh ditunaikan dengan duduk dan bila tidak mampu duduk boleh dengan berbaring. Puasa Ramadhan wajib ditunaikan tetapi apabila tidak mampu karena sakit atau musafir boleh ditinggalkan dan diganti setelah ada waktu dan kemampuan. Kalau terus tidak ada kemampuan kerana tua atau pekerjaan berat atau sakit yang tidak dapat diharapkan sembuh, boleh ditinggalkan tanpa mengganti puasa tetapi cukup dengan membayar fidyah.
 
5. Bersifat Nazhafah. Islam mementingkan kebersihan lahir dan batin. Lahir mesti bersih dari najis dan kotoran. Tempat dan pakaian (terutama yang dipakai untuk sholat) harus bersih dari najis. Sedangkan batin harus bersih dari kemusyrikan, kemaksiatan dan kemungkaran.

Allah suka kepada orang-orang yang bertaubat yaitu yang membersihkan batinnya dari kemusyrikan, kemungkaran dan kemaksiatan dan suka kepada orang-orang yang membersihkan lahirnya (QS. Al Baqarah : 222, Al Muddathir : 4).

6. Islam adalah Dienul Ilmi. Ilmu ada dua bagian yaitu ilmu Syarie dan ilmu Dunia (Ilmu Pengetahuan). Kedua-dua ilmu itu mendapat perhatian yang cukup luas di dalam Islam. Ilmu Syarie ialah ilmu yang diwariskan oleh para Nabi kepada umat mereka masing-masing. Nabi Muhammad mengajarkan ilmu kepada umatnya yang berupa Al Quran dan As Sunnah.

Sabda Rasulullah : “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang mana kamu tidak akan sesat buat selama-lamanya selagi berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Quran) dan sunnah RasulNya.” (HR. Muslim 2137)
 
Hukum mempelajari dasar-dasar ilmu Syarie untuk mengetahui kewajiban yang harus diamalkan dalam Dien, dan mengetahui mana yang halal dan mana yang haram di dalam kehidupan sehari-hari adalah Fardu Acin. Sebab amal tidak diterima oleh Allah kecuali didasari dengan ikhlas dan mengikuti sunnah. Sedangkan mengikuti sunnah tidak mungkin diamalkan kalau tidak dipelajari lebih dahulu.

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa beramal dengan sesuatu amalan yang tidak aku ajarkan, maka ia akan tertolak”. (HR. Muslim)

Fungsi Dienul Islam

Terakhir, berikut adalah beberapa poin dari fungsi (manfaat) Dienul Islam dalam kehidupan kita :

1. Islam sebagai wahyu, firman Allah :

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm : 3-4)

2. Diturunkan kepada Nabi dan Rasul (khususnya Rasulullah), firman Allah :

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” (QS. Ali Imran : 84)

3. Sebagai pedoman hidup, firman Allah :

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jaatsiyah : 20)

4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, firman Allah :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maaidah : 49-50)

5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus, firman Allah :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam : 153)

6. Menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat, firman Allah :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)

اللهم صلى على نبينا محمد و على آله و اصحابه و سلم…

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

اخير الدعو انا، عن الحمد لله رب العلمين

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

REKAP TANYA-JAWAB
—————————————

1.  Erna RDI 16 ijin bertanya:

Akhir ini saya sangat miris sekali melihat di televisi yang memberitakan banyak orang2 muslim yg mau di sogok uang hanya untuk kepentingan pribadi nya sendiri tanpa takut akan murka Alloh, bisa di katakan udah menggadaikan keislaman nya. Bahkan masih banyak muslim di luar sana yang masih memilin noni untuk dijadikan pemimpin. Menurut pandangan Ustd bagaimana kah  kita sebagai saudara muslim untuk meniginggatkan nya?

»» Jawab :

Perkara ini mmg sdh jamak terjadi di negeri kita ini yg notabene mayoritas penduduknya adalh muslim…

Jika ditarik ke belakang, maka paling tdk ada bbrp hal yg menjadi faktor utama mengapa hal spt ini bs terjadi, yakni :

1. Maraknya kebodohan dan jauhnya kaum muslimin dari ilmu, majelis dan orang yg berilmu. Karena mau tdk mau, yg namanya kebodohan itu hanya bs diobati dgn ILMU.

2. Perannya ulama su’ yg senantiasa melontarkan syubhat (kesamaran) dalam perkara perkara agama, spt ulamanya Liberalisme, Islam Nusantara dan yg sejenis dgn mrk

3. Berkuasanya orang kafir di hampir semua sektor penting dalam tubuh pemerintahan kita. Sehingga banyak menghalangi nasehat para ulama sampai kpd ummat secara umum

Adapun thdp saudara qt yg sdh terlanjur terkena bujuk rayu & syubhat mrk, maka :

1. Pergauli mrk dgn baik
2. Nasehati dgn nasehat yg baik pula, jgn menghakimi
3. Kalau pun ingin berdebat, berdebatlah dgn akhlak yg baik & dlm rangka menyampaikan kebenaran

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

2. Refia RDI 17

dari materi yang disampaikan ustadz semuanya lengkap dan jelas menurut saya jd hampir ngga ada dr materi yg bisa buat pertanyaan

Afwan kalo mungkim agak melenceng dr topik

Skrg banyak alqur’an yang telah dijual umum di toko2 buku gt

Al qur’an yg dijual ini ada yg memakai terjemahan dan ada yg tidak

Yang pake terjemahan tu ada bbrp versi tergantung penerbit ya kalo saya lihat

Karena bbrp versi ini jd makna yang terkandung agak sedikit dimodifikasi sesuai dengan pengetahuan penterjemah

Pertanyaannya bagaimana cara mengetahui mana alqur’an yg masih memiliki makna asli dan sudah termodifikasi terjemahannya ya??

Afwan kalo agak panjang

»» Jawab :

Utk menjawabnya, maka sebenarnya solusinya hanya 1 saja

*Yuk kita sama sama pelajari bahasa Al Quran, yakni Bahasa Arab*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
3. Chie, RDI 16 ijin bertanya,
Ust, Islam memiliki byk tantangan terutama dari kaum munafiqun yang lebi berbahaya dari kaum kuffar. Nah bagaimana kita sebagai generasi skg serta generasi selanjutnya dalam menghadapi kaum munafiqun ini. Karena tipu daya mereka semakin luar biasa. Jazakallahu khoir, ust

»» Jawab :
Org munafiq ini sbenernya sdh hidup d zaman RasuluLlah ﷺ, walau jumlah mrk tak sebanyak spt saat skrg ini. Namun karakteristik, sifat serta ciri mereka TETAP SAMA PERSIS…

Oleh sebab itu, solusi satu2nya adalah kita mencontoh Nabi ﷺ dlm menghadapi mrk, kembali kdp pemahaman thdp Al Quran & Sunnah yg benar…

Selain itu, hendaknya kita JANGAN meladeni, mendengarkan ocehan mereka (trmasuk seminar atau dialog yg mrk adakan), krn Allah ﷻ berfirman mengenai mrk ini,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

_”Dan di antara manusia *ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu* (argumen dan analisanya sangat memukau dan menarik hati kita), dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, *padahal ia adalah penantang yang paling keras*.”_ (QS. Al-Baqarah : 204)

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
4. Chie G.16

Untuk mereka yg baru berhijrah atau baru dlm menuntut ilmu Islam terkadang terjebak berguru ke ust liberal. Gmn menyingkapi hal tsb, ust??
Seperti kebanyakan publik figur negeri ini atau sodara disekitar kita.

»» Jawab :

Pergauli mrk dgn baik, dan berikan contoh yg baik

Jangan malah dijauhi

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
5. Erna G.16

Afwan,  Ustad Liberal itu seperti apa?

»» Jawab :

Liberal itu ajaran _kebebasan_ yg tdk memiliki hukum baku.

Di dalamnya siapa saja boleh berpendapat, boleh membantah dan boleh melakukan apapun, TANPA DASAR HUKUM yg jelas dan konkrit.

Misal mrk membolehkan nikah lintas agama, trus mrk jg mngatakan bahwa semua agama itu sama baiknya…

Wal iyadzu biLlah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
6. Icut
Afwan ustad, untuk melanjutkan pemahaman ttg liberal, ada yg nanya, apakah bangsa Arab menganut islam yg liberal, sekrng ini banyak berita ttg kedatangan raja Salman ke Indonesia, tp Putri Raja Salman sendiri yg banyak diberitakan di media2 tidak menggunakan jelbab/berhijab.?

Bagaimana menurut pandangan ustad?

»» Jawab :

Kata siapa putri raja tdk berjilbab?

Bangsa Arab jelas beragama Islam dan menganut faham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Krn pernikahan beda agama dsana dilarang, LGBT jg jd musuh bersama dsna, beda dgn negara yg ajaran Liberalnya menguasai di dalamnya

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Clossing Statement :

……..

———————-oOo———————-
PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :
 
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *