Get More Soul Beauty with Shaum Ramadhan

Notulensi Kajian Bulanan Rumah Dakwah Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari : Ahad, 9 April 2017
Grup : Ummu Kultsum
Muwajjih : Ustadzah Nurjanah
Tema : Get More Soul Beauty with Shaum Ramadhan
Admin : G01-G05
Moderator : Utty Purnama
Notulen   : bunwi

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

MUQADIMAH
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

========================

Materi :

_Sahabat Surga.._

Diwajibkan atas orang-orang beriman satu bulan penuh  dalam perjalanan hidupnya selama setahun untuk bercermin melihat wajah bathinnya, membenahi diri dan orientasi hidupnya di hadapan Allah SWT.

Allah SWT ingin agar kita membongkar timbunan _hubbud-dunya_ agar terbebas dari belenggu dunia menuju akhirat dan menyibak cakrawala iman yang luas membentang.

Sebagaimana kita ketahui, bulan yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Dengan keistimewaan rahmah pada awalnya dan dibebaskan dari api neraka pada akhirnya, tiada hari di sepanjang bulan ini, melainkan dipenuhi dengan _nuur_ , maghfiroh dan ditempatkan di atas anak tangga keimanan yang paling tinggi, agar kita dapat mencapai derajat taqwa.

Karena itulah umat Islam menghormati dan mengagungkan bulan Ramadhan hari demi hari, dengan harapan mereka dapat memperoleh rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka.

Ya.. Bulan Ramadhan

Dalam bulan ini Allah hendak menempa iman orang-orang yang beriman, sehingga naik ke derajat taqwa. Dan bulan Ramadhan merupakan sarana penggodokan mentalitas dan jiwa orang-orang mukmin. Sehingga diharapkan setelah Ramadhan berakhir iman kita telah diperbarui kualitasnya, dikembalikan kepada fithrahnya. Dan hal ini tentunya tak akan tercapai bila kita tidak memahami makna puasa dengan sesungguhnya. Karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT.

_Sahabat.._

Allah SWT juga membedakan ibadah shaum dari ibadah lainnya. Pada ibadah shaum Allah justru melarang malaikat untuk mencatat pahala ibadahnya. Jika setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat, maka untuk shaum, kata Allah SWT : “Kecuali shaum, maka yang ini untukKu dan Aku yang membalasnya”.

Allah juga memberitahukan kepada orang yang shaum tentang kelebihan yang dimilikinya. *Pertama* , kebahagiaan ketika menjelang berbuka, yang *kedua* adalah kebahagiaan ketika berjumpa dengan Sang Pencipta. Jika bertemu dengan orang terkenal dan penting saja, kita merasa bahagia, maka bagaimana jika bertemu dengan Yang Maha Terkenal dan Maha Penting..?

Tentu saja besar kecilnya kebahagiaan seseorang bertemu dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan sejauhmana ia mengenal Allah (ma`rifatullah) dan seberapa penting arti Allah bagi dirinya. Tentunya, semakin dalam keimanan seseorang, semakin jauh ia mengenal Allah dan semakin penting arti Allah bagi dirinya. Demikianlah, makna shaum secara ruhiyah. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mencapainya agar kita dapat termasuk dalam deretan para Ash-Shiddiqi, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari ini dalan hidup kita..?

_Sahabat Surga.._

Diwajibkan atas orang-orang beriman satu bulan penuh  dalam perjalanan hidupnya selama setahun untuk bercermin melihat wajah bathinnya, membenahi diri dan orientasi hidupnya di hadapan Allah SWT.

Allah SWT ingin agar kita membongkar timbunan _hubbud-dunya_ agar terbebas dari belenggu dunia menuju akhirat dan menyibak cakrawala iman yang luas membentang.

Sebagaimana kita ketahui, bulan yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Dengan keistimewaan rahmah pada awalnya dan dibebaskan dari api neraka pada akhirnya, tiada hari di sepanjang bulan ini, melainkan dipenuhi dengan _nuur_ , maghfiroh dan ditempatkan di atas anak tangga keimanan yang paling tinggi, agar kita dapat mencapai derajat taqwa.

Karena itulah umat Islam menghormati dan mengagungkan bulan Ramadhan hari demi hari, dengan harapan mereka dapat memperoleh rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka.

Ya.. Bulan Ramadhan

Dalam bulan ini Allah hendak menempa iman orang-orang yang beriman, sehingga naik ke derajat taqwa. Dan bulan Ramadhan merupakan sarana penggodokan mentalitas dan jiwa orang-orang mukmin. Sehingga diharapkan setelah Ramadhan berakhir iman kita telah diperbarui kualitasnya, dikembalikan kepada fithrahnya. Dan hal ini tentunya tak akan tercapai bila kita tidak memahami makna puasa dengan sesungguhnya. Karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, tapi juga menjaga hati dan seluruh anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT.

_Sahabat.._

Allah SWT juga membedakan ibadah shaum dari ibadah lainnya. Pada ibadah shaum Allah justru melarang malaikat untuk mencatat pahala ibadahnya. Jika setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat, maka untuk shaum, kata Allah SWT : “Kecuali shaum, maka yang ini untukKu dan Aku yang membalasnya”.

Allah juga memberitahukan kepada orang yang shaum tentang kelebihan yang dimilikinya. *Pertama* , kebahagiaan ketika menjelang berbuka, yang *kedua* adalah kebahagiaan ketika berjumpa dengan Sang Pencipta. Jika bertemu dengan orang terkenal dan penting saja, kita merasa bahagia, maka bagaimana jika bertemu dengan Yang Maha Terkenal dan Maha Penting..?

Tentu saja besar kecilnya kebahagiaan seseorang bertemu dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan sejauhmana ia mengenal Allah (ma`rifatullah) dan seberapa penting arti Allah bagi dirinya. Tentunya, semakin dalam keimanan seseorang, semakin jauh ia mengenal Allah dan semakin penting arti Allah bagi dirinya. Demikianlah, makna shaum secara ruhiyah. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha mencapainya agar kita dapat termasuk dalam deretan para Ash-Shiddiqi, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari ini dalan hidup kita..?

_Sahabat Surga yang Dirahmati Allah SWT.._

Ibadah shaum menyimpan hikmah nilai-nilai kesehatan yang luar biasa, sebagian telah diketahui maupun belum diketahui orang. Hasil-hasil penelitian di bidang kedokteran biomedik menunjukkan bahwa shaum merupakan sarana terapi/ pengobatan bagi kesehatan jiwa/ruhani dan juga badan, yang harus dilakukan dengan ikhlas sepenuh hati.

Sehingga tidak mengherankan, jiwa seorang yang senang menjalankan shaun (baik Ramadhan maupun Shaum sunnah lainnya), akan nampak istimewa. Nyata bukan, bahwa kesehatan jiwa terpancar dari kesehatan badan dan kecantikan di wajah seseorang.

Secara umum, peran puasa bagi peningkatan kualitas kesehatan seorang muslimah, dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Mengendalikan kebutuhan dasar manusia. Khususnya kebutuhan akan makanan. Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah dan hasil yang maksimal. Hal ini biasanya mengakibatkan lahirnya sikap tergesa-gesa, tidak peduli dan menghalalkan segala cara. Karena itu tidak mengherankan jika hawwah yang berarti perut, sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Manifestasi rasa lapar yang berawal dari perut dapat menjadi motivasi utama yang mendasari setiap gerak dalam hidupnya. Dengan shaum, bisa melatih dan mengendalikan motivasi dasar ini agar tampil proporsional dan optimal dalam kehidupan.

Melalui puasa, bukan hanya sistem pencernaan saja yang terlatih menahan lapar, melainkan sistem pengambilan keputusan pun akan terlatih. Hal ini terjadi karena seluruh sistem tubuh terintegrasi, saling mempengaruhi dan saling bekerja sama. Sehingga dampak puasa/ shaum dapat diukur dari performa fisik seperti berkurangnya penyakit saluran pencernaan, stabilnya kadar kolesterol, jantung jadi lebih sehat, dan sebagainya.

2. Allah Swt merancang manusia dengan sangat sempurna. Salah satu buktinya adalah manusia memiliki jam biologis pengaturtubuhnya, mulai dari bereproduksi hingga beristirahat. Tidur sehabis tarawih dan bangun sepertiga malam adalah waktu istirahat yang paling sesuai dengan fluktuasi kadar hormon otak. Sehingga berdampak pada optimalisasi kinerja sistem tubuh esok harinya.

3. Melatih kelembutan dan empati. Melalui seimbangnya kinerja hormon serotonin, endorfin dan propioid melanokortin yang bekerja optimal saat berpuasa. Ketiga hormon tersebut bekerja dalam mempengaruhi aktifnya rasa empati, kelembutan pada diri seseorang.

*So, sangat spesial bukan..?
Kita bisa meraup pahala sekaligus memiliki kesehatan jiwa yg termanifestasi dalam kecantikan jiwa dan fisik kita.

_Sahabatku.._

Sejarah Islam telah membuktikan bahwa shaum tidak mengurangi bobot kekuatan fisik kaum muslimin. Hal ni dibuktikan dengan kenyataan bahwa perang Badr dan Fathu Mekkah terjadi di bulan Ramadhan.

Sebaliknya, goyahnya kaum muslimin dalam perang Uhud, bukan dikarenakan kelemahan mereka dan kekuatan ketangguhan pasukan kuffar, namun terletak pada kesalahan kaum muslimin sendiri. Penyakit hati, kaburnya tujuan, silang pendapat dalam tubuh barisan, indisipliner terhadap perintah (Rasul), kecenderungan dunia yang lebih dominan daripada akhirat lah yang menjadi biangnya. *Lihat QS. 3:152*

Demikianlah pasukan muslim pulang dengan membawa kekalahan berat, setelah terlebih dahulu syetan berhasil menggoyahkan hati mereka. Tertipu oleh dunia dan juga oleh jumlah pasukan mereka yang banyak.
*Lihat QS.9:25-26*

Allah tidak akan menurunkan pasukan malaikatNya kepada kelompok yang merasa bangga dengan banyaknya jumlah mereka dan menganggap kemenangan pasti berada di pihak mereka. Terbukti kemudian mereka merasa sempit dan berhasil dipukul mundur oleh musuh-musuh mereka.

Setelah orang-orang mukmin masih setia kepada Rasul yang segera menyerukan, “Aku ini Rosul Allah, tidak berdusta. Aku anak cucu Abdul Muthalib”, barulah Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman berupa bala tentara yang tidak mereka lihat.

Namun sayang, saat ini kita menyaksikan hal yang berbeda. Shaum menurunkan produktivitas seseorang. Baik dia bekerja sebagai kuli, petani atau pedagang. Bahkan pekerjaan-pekerjaan tersebut dijadikan alasan untuk meninggalkan shaum. Padahal kalau shaum memang melemahkan kekuatan fisik manusia, tentu Allah tidak akan mensyariatkannya, dan pasti orang-orang beriman dahulu tidak akan sanggup bertempur pada hari Badr dan pada saat Fathu Mekkah yang semuanya berlangsung di bulan Ramadhan. Semuanya ini dikarenakan kurangnya iman, kerancuan berpikir, dominasi dunia dalam hati (hubbud-dunya) dan dominasi syetan dalam mengikis sisa-sisa iman orang-orang mukmin..

Karena kemuliaan dan spesialnya bulan Ramadhan, maka sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam mempersiapkan diri dan keluarga.

Ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, *Persiapan Ruhiyah*
Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mempersiapkan diri menyambut pausa. Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).

Ibadah lain juga harus dipersiapkan seperti memperbanyak tilawah, qiamulail, shalat fardhu bejamaah di masjid, al-ma’tsurat kubra pagi dan petang, dll. Hal ini dimaksudkan agar sejak awal kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa warming up, sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu sudah menjadi hal yang biasa.

Kita memahami bahwa mempersiapkan keimanan itu bukan hanya pada bulan Rojab Sya’ban saja. Tetapi dipersiapkan disetiap hari, namun pada momentum ini diharapkan untuk meningkatkan persiapannya. Bulan Rojab Sya’ban ini juga bisa dikatakan sebagai bulan batu loncatan untuk optimalisasi ibadah di bulan Ramadhan nanti.

Kedua, *Persiapan Jasadiyah*.
Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rojab  ini mari persiapkan fisik seperti olah raga teratur, membersihkan rumah, makan-makanan yang sehat dan bergizi.

Ketiga, *Persiapan Maliyah*.
Persiapan harta ini bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Keempat, *Persiapan Fikriyah*
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan yang benar tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya.

Cara untuk mempersiapkan ini antara lain dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntutan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan berbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, dan juga penting untuk dipersiapkan.

_Sehingga dengan demikian, marilah kita sambut bulan Ramadhan dengan sepenuh hati. Kita jaga seluruh jiwa kita, hati dan panca indera serta anggota tubuh lain dari hal-hal yang dapat merusak nilai-nilai ibadah shaum kita. Hari-harinya kita penuhi dengan pembacaan dan mentadabburi Al-Quran, serta berusaha mengamalkan isinya. Marilah kita sambut bulan penuh rahmah ini. Kita hadapkan hati dan pikiran pada Allah, sehingga kita keluar dari bulan ini dengan membawa ampunan dari Allah, dikembalikan kepada fitrah._ Dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan ! Semoga

_Wallahu’ Alam_

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Ummu Sarah
————-

REKAP TANYA-JAWAB
—————————————

1. Tadzah ijin bertanya…
Transfusi darah & donor darah membatalkan puasa nggak ya umm…?

↠ Donor darah tdk batal , namun jika membuatnya lemas maka mjd batal.
Utk transfusi, jumhur ulama menyatakan bahwa puasanya batal.
Wallahu’Alam

2. Tadzah… tips agar saat puasa tdk merasa lemes dan malas ibadah tadzah…??karna biasanya klo shaum trus jd ngantuk…

↠ Berarti niat nya di kencengin…
Sahur dg menu makanan yg sesuai dg kebutuhan, karbohidrat protein komposisinya pas. Jgn berlebihan dan jgn juga terlalu sedikit..
Kalo ngantuk….gpp tidur dulu..istirahat biar fit lg tuk kegiatan berikutnya..

3. Ustadzah…
Bagaimana dg puasa ramadhan tahun2 yg lalu yg lupa blm dibayar…
Kemudian bagaimana hukumnya mencicipi masakan ketika shaum ….
Jazakillah ustadzah…

↠ Terkait puasa Qadha, ada artikel yang relevan dengan hal tersebut*

Dalam hal ini, terdapat tiga kemungkinan, yaitu:

Pertama: Keadaan wanita tersebut tidak memungkinkan untuk segera mengqadha puasanya pada Ramadhan yang lalu hingga datang Ramadhan berikutnya, misal: karena alasan sakit.

Dalam masalah ini, terdapat dua kondisi, yaitu:

Kondisi 1: Apabila wanita tersebut meninggalkan kewajiban puasa dan menunda qadha puasanya karena ketidak mampuannya, maka wajib baginya untuk mengqadha hari-hari yang ditinggalkannya itu saat dia telah memiliki kemampuan untuk mengqadhanya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya,

“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al-Baqarah: 185)

Kondisi 2: Apabila ketidak mampuan wanita tersebut untuk melaksanakan puasa bersifat permanen, yakni tidak bisa hilang (sembuh) menurut keterangan ahli medis dan dikhawatirkan bahwa puasanya itu akan membahayakan dirinya, maka wanita tersebut harus memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkannya itu sebanyak setengah sha’ (sekitar 1,5 kg) makanan pokok di daerahnya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya,

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (Qs. Al-Baqarah: 184)

Ketentuan ini juga berlaku bagi wanita yang meninggal karena sakit, sementara dirinya masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Maka keluarganya hanya diwajibkan untuk mengeluarkan fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan oleh wanita tersebut. [Lihat penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab I’laamul Muwaqqi’iin (III/554) dan tambahan keterangannya di Tahdziibus Sunnan Abi Dawud (III/279-282)]

Kedua: Wanita tersebut dengan sengaja mengulur-ulur waktu untuk mengqadha utang puasanya hingga datang Ramadhan berikutnya.

Dalam masalah kedua ini, wanita tersebut harus bertaubat kepada Allah ta’ala dikarenakan kelalaiannya atas suatu ketetapan Allah. Selain itu, dia juga harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Karena menunda-nunda pelaksanaan qadha tanpa ada udzur syar’i adalah suatu maksiat, maka bertaubat kepada Allah merupakan suatu kewajiban. Kemudian, wanita tersebut harus segera mengqadha puasanya setelah bulan Ramadhan berikutnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu…” (Qs. Ali ‘Imran: 133)

Ketiga: Wanita tersebut tidak mengetahui kewajiban melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, karena minimnya ilmu agama, dan atau tidak mengetahui secara pasti jumlah hari yang ditinggalkannya selama bulan Ramadhan yang lalu.

Dalam masalah ketiga, seorang wanita dinyatakan mukallaf (terkena beban ketentuan syari’at) dengan beberapa syarat, yaitu: (1) beragama Islam, (2) berakal, (3) telah baligh. Dan balighnya seorang wanita ditandai dengan datangnya haidh, tumbuhnya bulu di daerah sekitar kemaluan, keluarnya mani, atau telah memasuki usia 15 tahun. Apabila syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka kewajiban untuk melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan telah jatuh kepadanya, dan dia juga berkewajiban untuk melaksanakan qadha puasa sejumlah hari yang ditinggalkannya.

Namun, apabila wanita tersebut tidak mengetahui hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari’at -bukan karena dia tidak ingin atau malas mencari tahu, akan tetapi karena sebab lain yang sifatnya alami, misal karena dia tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari para ahli ilmu- maka tidak ada dosa baginya meninggalkan puasa pada tahun-tahun dimana dia masih dalam keadaan jahil (tidak tahu) terhadap ketentuan syari’at. Kemudian, apabila dia telah mengetahuinya, maka wajib baginya untuk melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, dan hendaknya dia mengqadha puasa yang ditinggalkannya sewaktu dia masih dalam keadaan tidak tahu, agar dapat terlepas dari dosanya. [Lihat Fataawa Nur ‘ala ad-Darb, Syaikh Utsaimin, hal. 65-66 dan Fatwa-Fatwa Tentang Wanita (I/227-228)]

Adapun apabila wanita tersebut ragu akan jumlah hari yang ditinggalkannya, maka dia dapat memperkirakannya, karena Allah ta’ala tidak membebani seseorang diluar kesanggupannya. Allah berfirman yang artinya,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

Dan firman Allah yang artinya,

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu,” (Qs. At-Taghaabun: 16)

*Terkait mencicipi masakan ketika shaum*, tidak membatalkan puasanya selama makanan tersebut tidak masuk ke dalam karongkongannya. Jadi ketika dalam kondisi sdg berpuasa, ingin mencicipi masakan, segera setelah dicicipi sedikit d ujung lidah segera dibuang kembali / dikeluarkan segera.
Wallahu’Alam

4. Ummu mau bertanya, bagaimana cara menyeimbangkan amalan2 kita di bulan ramadahan dg kegiatan kita ketika kuliah yg juga menyita waktu
Jazakillah

↠ Ukhti sholihat, berpuasa harus bisa keningkatkan produktifitas kita baik amalan ruhiyah yg terkait dengan ibadah maupun amalan seperti perkuliahan serta aktivitas2 organisasi lainnya.

Sebisa mungkin..sehabis sahur kita jangan tidur lagi, supaya bisa mengisi sela2 waktu dengan aktifitas bermanfaat seperti tilawah, menghafalkan Al quran maupun mempelajari tafsir.

Jadi awali hari dengan ibadah terlebih dahulu, in sya Allah sepanjang hari yg dilalui akannlebih berkah, urusan2 dimudahkan dan memberi manfaat besar in sya Allah.

5. Tambah lagi ustadzah, bagaimana hukum puasa bagi ibu yg sdg menyusui..
Apa ganti puasa atw dg fidyah..Jazakillah ustadzah…

↠ Supaya lebih komprehensif , bisa dibaca artikel shahih berikut ini

Antara Qadha dan Fidyah Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

6. Umm saya mw tanya, sering sekali pas lagi puasa gigi saya itu berdarah,trus tanpa di sadari tertelan. Bahkan sering kali juga sadar karena sudah di kumur2 dan di ludahkan tetap gk mw berhenti akhirnya terpaksa untuk di telan. Apakah itu membatalkan puasa umm ??
Afwan pertanyaan agak fulgar

↠ jika sudah mengusahakan namun ttp tertelan, insyaAllah tdk membatalkan puasa

┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

Clossing Statement :

———————-oOo———————-
PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *