Panggilan “Haji” Terlarangkah ?

Senin 27 Dzhulhijjah 1438 / 18 September 2017

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan
(Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia)

Panggilan “Haji” Terlarangkah ?

Panggilan haji, sudah berlangsung berabad-abad di banyak negeri muslim. Mereka tidak ada yang mengingkari satu sama lain.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

ما رأى المسلمون حسنا فعند الله حسن

Apa yang dilihat baik oleh kaum muslimin, maka di sisi Allah juga baik.
(HR. Al Hakim, shahih mauquf dari Ibnu Mas’ud)

Maka, penggelaran dan panggilan Haji bagi mereka yang aman hatinya, tidak bermaksud riya’, boleh saja .. tidak ada ayat Al-Qur’an dan As Sunnah melarangnya. Dan Hujjah itu adalah Al-Qur’an dan As Sunnah. Ada pun yang terlarang adalah bagi mereka yang memang bermaksud riya’ atas panggilan itu.

Kita simak penjelasan berikut:

فتلقيب الإنسان بما يحب مستحب شرعاً، أما بما يكره فمعصية، قال النووي رحمه الله تعالى في المجموع: اتفق العلماء على تحريم تلقيب الإنسان بما يكره سواء كان صفة له أو لأبيه أو لأمه، واتفقوا على جواز ذكره بذلك على جهة التعريف لمن لا يعرفه إلا بذلك، واتفقوا على استحباب اللقب الذي يحبه صاحبه، فمن ذلك أبو بكر الصديق اسمه عبد الله بن عثمان ولقبه عتيق، ومن ذلك أبو تراب لقب لعلي بن أبي طالب. انتهى.
ومن هذا يتبين جواز تلقيب من حج بالحاج إذا لم يخش منه عجب أو رياء.

Pemberian panggilan gelar kepada manusia dengan apa yang disukainya adalah MUSTAHAB (Sunnah) menurut syariat, ada pun gelar dengan yang dibencinya adalah Maksiat.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan dalam _Al Majmuu’_:

“Mereka (para ulama) sepakat bahwa haramnya menggelari manusia dengan apa yang dibencinya, sama saja apakah sifat itu ada pada dirinya, ayahnya, atau ibunya.

*Mereka juga sepakat BOLEHnya menggelari dengan tujuan agar dikenali dirinya dengan itu.*

*Mereka juga sepakat istihbab (sunah) menggelari dengan gelar yang disukai oleh pemiliknya. Misalnya: Abu Bakar As Shiddiq, nama aslinya Abdullah bin Utsman, digelari ‘atiiq. Begitu pula Ali bin Abi Thalib, digelari Abu Thurab.*

Dari sini, jelaslah kebolehan gelar haji bagi jamaah haji, selama aman dari ‘ujub dan riya’. (Selesai dari Fatawa Islam web)

Maka, pada prinsipnya tidak masalah. Terpenting adalah bagaimana menjaga perilakunya setelah menyandang gelar haji, jangan sampai gelar atau panggilan itu hanyalah panggilan kosong tanpa makna.

Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan
🔊 Join channel: bit.ly/1Tu7OaC

BP2A-RDI/577/3/XII/1438

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *