Menyelamatkan Aqidah Keluarga di Zaman Fitnah

Review anda

Allah Ta’ala telah menganugerahkan kenikmatan kepada semua manusia. Kenikmatan teragung yang Allah Ta’ala berikan kepada kita adalah diturunkannya Rasulullah Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam membawa manhaj yang lurus dalam pembinaan jiwa, pendidikan generasi, pembentukan umat dan pembangunan peradaban dan perbaikan individu dan masyarakat.

Allah Ta’ala telah berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ  يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمْ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ 

Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS al-Maaidah/5: 15-16).

Urgensi Keluarga.

Keluarga bagian penting dari kehidupan seorang manusia. Keluraga yang shalihah memberikan kebahagian didunia dan akherat, sebagaimana di jelaskan Allah dalam firmannya:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya. (QS. ar-Ra’d/13:23)

Oleh karena itu syariat Islam yang agung memberikan perhatian yang sangat besar, diantara bentuk perhatian ini adalah:

  1. Meletakkan aturan yang teratur dan pas untuk mewujudkan Keluarga yang shalihah ini.
  2. Menjelaskan adanya hak-hak dan kewajiban yang dimiliki setiap individu dalam keluarga.
  3. Orang-orang shalih memohon kepada Allah untuk mewujudkan keluarga yang shalih seperti dalam doa mereka yang Allah abadikan dalam firmanNya:

Dan orang-orang yang berkata:”Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqaan/25:74)

  1. Menjadikan rumah tangga sebagai tulang punggung tegaknya masyarakat Islam, sehingga syariat Islam memberikan aturan dan perhatian besar dalam pembentukannya.

Karena pentingnya prinsip pembentukan tatanan sosial kemasyarakatan yang di ikat oleh syariat dengan fithrah antara sepasang suami istri dengan setiap mereka menumpahkan keinginan dan kebutuhan mendesaknya kepada yang lain, agar terwujud saling cinta dan menyayangi. Semua ini dalam rangka mengarah kepada pembentukan keluarga yang kuat dan rumah tangga yang shalih yang menjadi penyusun masyarakat yang shalih.  Allah berfirman tentang pentingnya rumah tangga:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS ar-Ruum: 21).

Juga berfirman :

وَاللهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا

Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal (QS an-Nahl: 80).

Tidak hanya demikian saja, bahkan Allah memuji pernikahan dan pembentukan rumah tangga dengan menjadikan para Nabi dan rasul sebagai contohnya, Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. (QS ar-Ra’d : 39).

Rumah tangga yang dipenuhi dengan ketenangan dan cinta inilah yang membuat setiap pasutri mengorbankan harta dan merubah jalan hidupnya serta mengganti ikatan yang terdahulu bersama bapak dan ibunya dengan ikatan baru.

Pernikahan dan rumah tangga inilah yang menjadikan seorang wanita menerima perpisahan dengan keluarganya. Dia meninggalkan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya serta seluruh kerabat untuk terikat dengan suaminya, dengan suami yang asing untuk berbagi suka dan duka dan saling memberikan ketenangan sehingga terjadilah cinta dan kasing sayang meliputi rumah tangganya.

Hal ini tidak terjadi kecuali karena seorang wanita percaya bahwa ikatannya dengan suami lebih kuat dari semua ikatan dan hidupnya bersama suami lebih mudah dan bahagia.

Mengapa Harus Menjaga Keluarga ?

Ada beberapa faktor penting yang memotivasi seorang muslim untuk menjaga rumah tangganya secara maksimal, di antaranya:

  1. Perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari siksaan neraka dan hukuman Allah . Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”. (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

2- Menjadi tanggung jawab besar sebagai pemimpin rumah tangga di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya; seorang penguasa adalah pemimpin dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka, seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya dan dia dimintai petanggungjawaban atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya [ HR Muslim no. 1829].

Juga sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أم ضَيَّعَ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بيته

Sesungguhnya Allah Menanyakan semua pemimpin tentang semua yang dipimpinnya apakah dia telah menjaganya atau menelantarkannya? Hingga ditanya tentang keluarganya (HR an-nasaa’i dan ibnu Hibban dan dihasankan al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 1636)

3- Fungsi rumah sebagai tempat untuk menjaga diri dan keluarga dari berbagai macam keburukan, bahkan sebagai tempat berlindung dari fitnah yang menyesatkan.

قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  طُوبَى لِمَنْ ملك لسانه ووسعه بيته وبكى على خطيئته

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beruntunglah seorang yang mampu menjaga lisannya, merasa lapang (dengan berada) di rumahnya dan (selalu) menangis atas perbuatan dosanya”[HR ath-Thabrani dalam mu’jam al-Ausaath dan ash-Shaghir dengan sanad yang hasan seperti disampaikan al-Albani dalam Shahih at-targhib n. 2855].

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamatnya seseorang ketika terjadi fitnah adalah dengan menetapi rumahnya” [ HR ad-Dailami dalam “Musnadul firdaus” (2/334), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3649).].

4- Perhatian kepada rumah tangga adalah sarana terpenting dan harus dalam membangun masyarakat islam; karena masyarakat disusun dari rumah-rumah tangga. Rumah tangga adalah batu bata penyusunnya. Apabila batu-batanya baik maka masyarakatnya menjadi kuat dengan hukum-hukum Allah, kokoh dihadapan musuh-musuh Allah dan menebarkan kebaikan dan tidak rusak dengan adanya keburukan disekitarnya.  Lalu muncullah dari rumah tangga yang shalih ini para dai teladan, penuntut ilmu, ibu pendidik dan orang-orang shalih.

Dengan demikian jelaslah pentingnya menjaga rumah tangga akan memberikan kemashlahatan besar buat pribadi individu, masyarakat dan umat islam secara umum.

Nasehat Dalam Menjaga Keluarga Dari Kerusakan Aqidah

Diantara karakter keluarga yang shalihah adalah keistiqamahan dalam Aqidah, Pemikiran dan akhlak, agar mampu membentuk generasi yang bagus dan rabbani. Generasi yang mewujudkan kebaikan untuk keluarga, masyarakat dan negaranya.

Beberapa nasihat berkenaan dengan hal ini:

  1. Tarbiyah iman dan penguatan kekuatan agama dalam diri anak-anak dan anggota keluarga. Juga menanamkan kemuliaan dan tatanan akhlak mulia pada mereka. Ini adalah sebab terpenting dalam memproteksi dari penyimpangan. Contohnya:

كنتُ خلفَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم يوماً فقال: «يا غلام، إنِّي أعلِّمك كلمات: احفظِ اللهَ يحفظك، احفظِ اللهَ تجدْهُ تُجاهَك» الحديث،

Ibnu Abbas berkata: Aku satu hari pernah membonceng Rasulullah lalu beliau bersabda: Wahai anak kecil, Aku ajarkan kamu beberapa nasihat: Jagalah Allah pasti Allah menjagamu dan jagalah Allah pasti kamu dapatkan Dia dihadapanmu. (Baht at-Tirmidzi).

lihat perhatian Nabi kepada Ibnu Abbas yang masih kecil untuk takut kepada Allah dan merasa diawasi. Demikian juga dalam Wasiat Luqmaan kepada anaknya:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ {} وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ {} وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ {} وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ {} يَابُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي اْلأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ {} يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ {} وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {} وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ اْلأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:”Bersyukurlah kepada Allah.Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata):”Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqmaan/31:12-19)

pendidikan kasih sayang dan pembentukan jiwa yang lurus. Hal ini dilakukan dengan menyayangi anak, mencukupkan kasih sayang dan perhatian pada mereka, berbuat adil, menjadikan mereka saling menyayangi dan pendiikan untuk bersaudara, saling sayang dan memaafkan. Berapa banyak sikap kasar dan kering serta Halim membetuk tabiat buruk pada sikap dan suluk mereka? Berapa banyak juga sikap keras dan kasar tanpa kasih sayang menyebabkan permasalahan kejiwaan dan akhlak?

  1. Mendidik kemampuan akal anak-anak, diantaranya :
  2. membiasakan akal mereka untuk berfikir dan tidak mengekor.
  3. membiasakan mereka untuk memperhatikan hal-hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang berbahaya. melatih mereka berfikir maslahat dan memiliki kemampuan memandang akibat perbuatannya.
  4. mendidik mereka untuk mampu mengatur jiwa, tenang dan tidak buru-buru
  5. mengatur waktu mereka dan memenuhinya dengan program ilmiah dan hiburan yang bermanfaat.
  6. Melengkapi perpustakaan rumah yang baik untuk mereka dan memotivasi mereka untuk membaca dan telaah.
  7. Komunikasi yang baik bersama mereka dengan usul yang bagus untuk menerapi pemikiran negatif yang menghinggapi mereka.
  8. Mengajak mereka berkumpul disekitar para ulama rabbani.
  9. Mendidik dengan teladan, dengan cara kedua orang tuanya memiliki pemikiran, aqidah dan akhlak mulia serta hubungan yang bagus yang dapat menyediakan lingkungan keluarga yang tenang dan tenteram.
  10. Pendidikan yang freventif dari seluruh ancaman. Diantara bentuknya adalah:
  11. Membimbing penggunaan teknologi modern
  12. menjauhkan dari chanel dan materi media yang merusak
  13. tepat dalam memilih teman yang baik dan menjauhkannya dari teman yang buruk.
  14. Tidak menghilangkan peran keluarga dengan diserahkan anak-anak kepada asisten rumah tangga dan lain-lainnya.
  15. merasakan besarnya tanggung jawab menjaga keluarga.

demikian beberapa nasihat berharga buat menjaga keluarga dizaman fitnah ini.

Ponpes Ibnu Abbas Sragen: 4 Desember 2017.

Kholid Syamhudi.

website:- www.binabbas.org dan www.klikuk.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *