Memilih pemimpin di jaman fitnah

Review anda

Muwajjih : Ustadz Muhammad Arfian
Tema : Memilih pemimpin di jaman fitnah
Admin :
Moderator : Erviana Lestari
Notulen : Kartika Yunita

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

MUQADIMAH
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah..
Aamiin

========================

Materi :
————-

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillahilladzii arsala rasulahu bil huda wa diinil haqqi liyuzhirahu ‘aladdiinu kullihi walau karihal musyrikuun
Asyhadu alla ilaa ha illallahu. Wa asyhadu anna Muhammadarrasulullahu.

Akhwati fillah peserta kajian akhwat RDI yang diberkahi dan dirahmati Allah.
Senang bertemu di majelis yang insya Allah diberkahi Allah SWT
Perkenalkan saya Muhammad Arfian, untuk sharing bersama di sini dengan tema Memilih Pemimpin di Jaman Fitnah. Semoga nantinya bisa bermanfaat bagi kita semua.

Kepemimpinan adalah salah satu aspek yang dianggap sangat penting dalam Islam.
Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya ayat dan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang membahas tentang ini. Hal ini bisa dimengerti. Karena pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan suatu masyarakat.

Ditambah lagi, pada saat ini kita hidup di jaman yang penuh fitnah. Bagi kita yang akrab dengan media sosial dan bahkan media online, tentunya sering melihat banyak fitnah berseliweran di lini masa kita.

Berita hoax, caci maki, pencitraan yang berlebihan bahkan sampai taraf bohong bisa dikatakan sudah menjadi santapan para pegiat media sosial dan online saat ini. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia, kita dipertontonkan dengan berbagai fitnah dan kebohongan setiap hari, di TV, radio, koran, situs berita dan media sosial.

Terkait kepemimpinan, persaingan yang sangat ketat di antara orang-orang yang berambisi untuk memimpin negeri dan dunia ini sangat terlihat.
Orang-orang yang ingin menjadi pemimpin dan mempertahankan kekuasaan yang telah dia pegang berusaha dengan berbagai cara, mulai dari membangun pencitraan positif ttg dirinya, sampai menyerang pesaingnya dengan berita-berita bohong dan fitnah untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dan kepemimpinan.

Contohnya, dalam Pilkada DKI yg lalu, disebarkan isu bahwa pemimpin kafir yang jujur adalah lebih baik daripada pemimpin muslim yang korup.
Ini adalah fitnah tidak hanya kepada muslimin yang bersaing memperebutkan kepemimpinan, tetapi juga kepada kaum muslimin secara keseluruhan dengan menganggap bahwa seluruh orang Islam adalah korup, dan tidak pantas diamanahi kepemimpinan.

Dan lebih parahnya lagi, fitnah-fitnah ini tidak disebar secara sporadis, tetapi direncanakan dengan matang, dengan target yg jelas, dan disebarkan secara masif ke masyarakat dengan berbagai cara.

Bahkan terkait gerakan kaum Muslimin yang ingin mendorong kepemimpinan Islam, ada rekomendasi2 yang disusun secara sistematis dan terencana untuk mencegah kaum Muslimin memegang kepemimpinan.

Pada tahun 2003, sebuah perusahaan bernama RAND Corporation di Amerika mengeluarkan laporan hasil riset mereka ttg kaum muslimin. Mereka membagi kaum Muslimin menjadi 4: tradisionalis, modernis, sekuler dan fundamentalis.
1. Tradisionalis adalah kaum muslimin yg mereka anggap mempertahankan nilai2 lokal dan tidak tertarik untuk memegang kepemimpinan di sebuah negara.
2. Modernis (afwan bukan moderat) menurut laporan tsb adalah orang yang ingin mengubah nilai-nilai Islam yang sdh ada sejak dulu sehingga kelihatan lebih humanis dan bersahabat dengan umat lain. Contohnya adalah kaum Islam Liberal.
3. Sekuler adalah orang2 yang dengan memisahkan agama dan politik, dan tdk memberikan kesempatan pada nilai-nilai agama utk masuk mempengaruhi keputusan-keputusan politik.
4. Sedangkan fundamentalis adalah orang-orang yang mereka anggap ingin menjalankan syariat Islam secara penuh dalam segala aspek kehidupan termasuk juga dalam berpolitik. Kelompok2 muslim yang melawan penjajahan zionis, mendorong penerapan syariah, membangun kehidupan Islami sampai memperjuangkan khilafah misalnya, mereka masukkan dalam kelompok ini.

Dalam skenario mereka, kaum fundamentalis harus ditahan sedemikian rupa sehingga tidak bisa berkuasa. Untuk itu mereka menghalalkan segala cara, termasuk fitnah dan kebohongan agar orang-orang dari golongan ini tidak berkuasa.
Media dan kekuatan lain dikerahkan untuk mencari dan menginvestigasi ttg keburukan para aktivis Muslim yang istiqamah, kemudian diberitakan secara luas untuk membuat masyarakat tidak percaya kepada mereka.

Inilah yang kita lihat saat ini di Indonesia.
Korban-korban fitnah dari aktivis Muslim pun berjatuhan, karena siapa pun pasti punya kelemahan yang kalau dikorek akan mempermalukan mereka. Mulai dari jaksa, polisi, ketua partai, pengusaha bahkan hakim pun terkena jebakan2 ini.

Dalam agama Islam, semua persoalan yang menyangkut kehidupan ummat manusia telah ada aturannya yang sangat jelas dan detail. Sebagai contoh adalah aturan (syariat) tentang bagaimana tata cara bersuci (istinja’) dari najis saat buang air besar/kecil dan bersuci dari hadats (kentut, mandi junub). Demikian juga tata krama (‘adab) saat bersin, makan, minum, tidur, buang air dan seterusnya.

Padahal ini menyangkut hal yang dampaknya bersifat sangat individual. Karena itu sangat logis jika dalam persoalan yang lebih besar dan luas dampaknya, Islam juga sangat peduli. Contohnya soal kepemimpinan ini.

Hal ini karena aspek kepemimpinan ini luar biasa sangat besar dampaknya bagi kehidupan seluruh rakyat (ummat) di suatu negeri.

Hadits Nabi berikut ini sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
“Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Hadits ini secara jelas memberikan gambaran betapa Islam sangat memandang penting persoalan memilih pemimpin. Hadits ini memperlihatkan bagaimana dalam sebuah kelompok Muslim yang sangat sedikit (kecil) pun, Nabi memerintahkan seorang Muslim agar memilih dan mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.

Untuk itu, dalam memilih pemimpin di jaman fitnah seperti ini, maka kita harus senantiasa mengikuti rambu-rambu yang telah diberikan Rasulullah SAW.

#Pertama, kita mesti harus selalu bertabayyun jika ada berita-berita miring dan buruk tentang tokoh-tokoh Muslim yang selama ini kita kenal sebagai tokoh yang istiqamah menyerukan amar ma’ruf nahi munkar.
Karena tidak mustahil berita-berita tsb sengaja dibuat dan disebarkan agar masyarakat hilang kepercayaannya kepada tokoh-tokoh Muslim tersebut.
Ini yang insya Allah kita pelajari dari berbagai kasus yang menimpa HRS, UBN dan tokoh-tokoh muslim lain.

#Kedua, kita tentunya ingin memprioritaskan seorang Muslim untuk menjadi pemimpin negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.
Muslim yang korupsi tentu ada, tetapi bukan berarti tidak ada muslim yang tidak bisa dipercaya sebagai pemimpin.
Mengenai memilih pemimpin dari kalangan kaum Muslimin sendiri, banyak sekali ayat-ayat Al Quran yang memperingatkan kita dengan tegas untuk tdk memilih pemimpin dari kalangan di luar Muslim, apalagi kaum Muslimin adalah kaum mayoritas di negeri tsb
Beberapa yang bisa kita baca adalah sbb:

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kamu kembali.” (QS: Ali Imron [3]: 28)

Kedua;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kami ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS: An Nisa’ [4]: 144)

Ketiga;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS: Al-Ma’aidah [5]: 57)

#Terakhir, marilah kita menggunakan mata hati (bashirah) yang dianugerahkan Allah SWT untuk meneliti, menyelidiki dan mengetahui orang-orang mana yang pantas menjadi pemimpin bagi kita di negeri ini.
Marilah kita budayakan sifat kritis untuk tidak menelan mentah-mentah informasi dari media massa dan media sosial, yang pada saat ini sudah banyak terkontaminasi dengan berbagai kepentingan personal dan kelompoknya.

Jika kita lakukan hal-hal di atas, insya Allah kita bisa terhindar dari jebakan dan kesalahan memilih pemimpin pada jaman penuh fitnah ini.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya agar dapat memilih pemimpin dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan ummat dan bangsa ini.

Wallahu musta’an. Wassalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
REKAP TANYA JAWAB

1. Risma – RDI 12
Assalamu alaikum
Saya mau bertanya :
Terhadap sosmed,,bgmn kta dpat memilah yg baik ustd
Karena ada yg mengandung agama full,,tapi terlihat seperti keras dan menjurus politik
Untuk pemilihan berikut apa yg harus kami lakukan sbg orang awam dalam mementukan pemimpin..??!!

Jawab :
Saya coba jawab pertanyaan nomor 1 ini dulu ya.

Memilah milih sosmed memang bukan hal yang mudah. Terkait sosmed yg berisi diskusi agama, saya menyarankan agar kita memilih medsos atau media online yang memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai ajaran Islam, dan tidak hanya berpendapat dari kalangan tertentu, tetapi menyalahkan yang lain.

Pembahasan tentang politik dalam Islam bukanlah hal yang tabu dan dilarang. Tetapi perlu kita lihat apakah pembahasan politiknya lebih banyak menyangkut kemaslahatan untuk umat Islam atau malah memberikan mudharat utk umat Islam.
Kalau pembahasan politik membahas hal2 yg bisa memberikan manfaat kpd umat Islam, silahkan diikuti, tetapi kalau tidak, dan bahkan mengolok-olok ajaran dan umat Islam, sebaiknya ditinggalkan.
Untuk pemilu berikutnya, silahkan masing2 melakukan riset secara obyektif thd calon pemimpin yg ditawarkan saat ini. Pilih pemimpin yang akan membawa kemudharatan terkecil pada umat Islam sebelum memberikan manfaat. Utk yg sudah menjabat, cek apakah kebijakan2nya selama ini banyak menimbulkan keributan dan masalah di umat Islam, sblm menilai manfaatnya. Insya Allah dengan demikian kita bisa terhindar dari memilih pemimpin yang salah.

2. Tika – RDI 09
izin bertanya ustadz,
– bagaimana kita menentukan pilihan jika berada di lingkungan yg mayoritas non muslim, dan dari pilihan pemimpinnya tdk ada yg muslim?
apakah jika memilih yg bukan muslim juga melanggar ayat Al Qur’an?

Jawab :
Ketika memilih pemimpin di masyarakat yang mayoritas non muslim dan tidak ada pilihan pemimpin muslimnya, periksalah dan kemudian pilih pemimpin yang lebih dekat kpd kaum Muslimin di wilayah tsb, dan kebijakannya membawa kemudharatan terkecil kpd kaum Muslimin.

Mgkn ada yang berpendapat memilih yang membawa manfaat terbesar, tetapi dalam Islam kita lebih dianjurkan menghindari mudharat, daripada mendapat manfaat.
Wallahu a’lam

– afwan ustadz, apakah boleh ditunjukkan ayat AlQur’an atau hadits yg menunjukan keutamaan menghindari mudharat drpd mendapat manfaat?
Jawab:
Ada beberapa dalil sbb:
Kaidah menghindari mudharat/mufsadat lebih utama daripada mengambil dalil2nya sbb:

#1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْم

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am:108)

Allah mengharamkan mencela sesembahan kaum musyrikin. Padahal celaan tersebut merupakan kemarahan dan kecemburuan karena Allah dan sebagai bentuk penghinaan kepada sesembahan mereka. Musababnya, celaan tersebut merupakan pengantar munculnya celaan mereka kepada Allah dan maslahat tidak dicelanya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu lebih besar daripada maslahat celaan kita pada sesembahan mereka.

#2. Telah datang dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha; Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يا عائشة لو لا أن قومك حديثوا عهد بجاهلية لأمرت بالبيت فهدم فأدخلت فيه ما أخرج منه و ألزقته الأرض …

“Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan orang-orang yang baru meninggalkan masa jahiliah, tentu aku perintahkan agar Baitullah dirombak. Kemudian aku bangun dan aku masukkan apa yang dikeluarkan darinya, dan niscaya aku turunkan sejajar dengan tanah ….” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits ini terdapat indikasi yang jelas atas makna kaidah ini. Yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan maslahat membangun Baitullah al-‘atiq di atas pondasi Ibrahim ‘alaihis salam demi menolak mafsadat yang dikhawatirkan terjadi (apabila beliau meruntuhkan Ka’bah kemudian membangun kembali), yatu larinya manusai dari Islam atau murtadnya mereka disebabkan perbuatan tersebut. Dengan demikian, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mendahulukan menolak mafsadat ini daripada mengejar maslahat tersebut.

#3. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menahan diri dari memerangi orang-orang munafik. Padahal itu menandung kemaslahatan. Ini dimaksudkan agar tidak menjadi penyebab larinya manusia dan menimbullkan penilaian mereka bahwa Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam membunuh shahabatnya.

Ini kaidah umumnya. Tetapi selain itu masih ada pendapat2 ulama salaf ttg mana yang harus didahulukan jika ada kondisi2 tertentu. Tapi itu kita tidak bahas dulu malam ini ya

3. Astri – RDI 19-20
Assalamu’allaikum tadz, mohon bertanya.
Jika kita bekerja dengan orang beda agama, dan orang tersebut adalah pemilik perusahaan. Bahkan beliau adalah pribadi yg taat pada ajaran dan agamanya. Namun beliau sering mengadakan syukuran saat perayaan hari ulang tahun perusahaan, bahkan sampai mengundang kyai untuk mengisi tausiyah. Sbagai karyawan, bagaimana ya tadz? Boleh kah kita tetap bekerja dgn beliau, atau bagaimana solusinya?
Terimakasih

Jawab :
Waalaykumsalam wr wb
Kita sebagai muslim tidak dilarang bermuamalat dengan non-muslim, apalagi yang bersahabat dengan kita. Jadi bekerja untuk karyawan di perusahaan yg pemiliknya non-muslim, tidak mengganggu kita beribadah dan bersahabat tidak dipermasalahkan.
Yang penting kita sebagai Muslim dapat membangun batas yg jelas dalam soal aqidah. Lakum diinukum waliyadiin
Wallahu a’lam


———————-oOo———————-
PENUTUP

Alhamdulillah, jazakumullahu khayran katsiira atas perhatian dan partisipasi antukanna di majelis ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *