Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

Review anda

Muwajjih : Ustadzah Lara Fridani
Tema : Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget
Moderator : Erviana Larasati
Notulen : Siti Aisyah K.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

MUQADIMAH
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah..
Aamiin

========================

Materi :
————-
Beyond Logic and Rasionality

Seorang ibu lansia merasa gelisah mendengar penuturan anak laki -laki semata wayangnya yang dulu menjadi kebanggaannya. Sejak kecil segala upaya dikerahkan dan biaya dikeluarkan untuk mendidik anaknya agar menjadi cerdas, kritis, teguh pendirian dan memiliki berbagai ketrampilan. Tak heran, jika kini anaknya tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat percaya diri, terpandang, dan punya karir yang membanggakan. Yang disesalkan sang ibu adalah ‘kelebihan’ yang dimiliki anaknya itu ternyata tidak seiring dengan meningkatnya keimanannya sebagai seorang muslim. Di usia menjelang 60 tahun barulah sang ibu tersadar untuk segera mendekatkan diri pada agama. Namun ternyata tidak mudah baginya untuk bisa berbagi ‘spirit’ ini bersama anaknya. Nasehat agama yang diberikan berkali- kali oleh sang ibu agar anaknya menunaikan kewajiban sholat, berhaji dan sebagainya, direspon hanya dengan logikanya saja.

“Begini ya ma, coba mama lihat…. berapa banyak orang yang rajin sembahyang dan rajin mengaji, tapi kelakuannya tidak berubah kan? Mereka cuma rajin ke mesjid untuk kepentingan diri sendiri, tapi mana manfaatnya untuk orang lain?”

“Begini ya ma , mama pernah dengar sendiri kan cerita teman mama saat naik haji, ternyata banyak orang di sana yang egois, berebutan dan sikut menyikut saat beribadah. Belum lagi aturannya yang tak masuk di akal ma. Itu lho ma, yang katanya saat ihram, kita tak boleh pakai pakaian berjahit- lah, gak boleh pakai wewangian- lah. Ini alasannya apa, kita kan tak bisa terima perintah begitu saja ma.”

“Pokoknya begini ya ma, yang penting kan hati kita ini baik. Hidup kita gak macam- macamlah, kita kan juga kasih sedekah sama orang miskin. ” demikian petuah sang anak panjang lebar.

Sang ibu terdiam, tak punya ketrampilan untuk bisa menepis pernyataan anaknya, beliau hanya mengungkapkan ketidaksetujuan di dalam hati, sebagai bentuk selemah-lemahnya iman. Beliau pun tak punya ide, darimana harus menjelaskan pada anaknya agar mau berlapang dada menerima perintah agama. Beliau hanya bisa berdoa agar anaknya tidak termasuk golongan orang-orang yang hatinya berpenyakit.

Ketika kecerdasan dan ketrampilan hidup yang distimulasi orang tua sejak awal pada anaknya tidak didasarkan pada syariat dan terlepas dari konsep akhlak sebagai muslim, maka tidak mengherankan jika seorang anak ‘tidak hidup’ hatinya, kecuali jika ada hidayah dari Allah SWT. Batasan kecerdasan versi barat dan Islam memang berbeda. Pandangan Islam tentang kecerdasan, lebih mengutamakan sudut pandang ruhiyah di samping lahiriyah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Kecerdasan dalam pandangan islam bukanlah sekedar kemampuan berpikir rasional dengan logika, namun merupakan keterpaduan antara pikiran dan dzikirnya, suatu bentuk kerjasama antara otak dan hati. Ajaran Islam lebih cenderung menggarap hati agar menjadi baik. Aturan sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya adalah sarana untuk melembutkan kualitas hati ini. Dengan demikian kecerdasan dalam pandangan Islam selalu melibatkan kerendahatian dan pikiran positif terhadap aturan dari sang Pencipta.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)

Memang sulit bagi seseorang untuk menerima apalagi menjalankan sebuah perintah agama yang kadang tidak masuk dalam logika, jika dia terbiasa dan terlatih dengan nilai-nilai yang mengedepankan akal saja, kecuali jika Allah SWT berkehendak memberi hidayah padanya.

Guru saya pernah menjelaskan bahwa akal/logika jika digunakan secara tepat, maka bisa meluruskan pikiran seseorang untuk mencapai kebenaran. Peran pendidik termasuk orang tua dalam hal ini sangat besar dalam menjelaskan dan memberi contoh keterbatasan akal dan panca indera manusia dalam memahami sesuatu, baik ditinjau dari segi pengetahuan sains maupun dari sudut pandang agama. Penanaman nilai-nilai keimanan juga harus dilatih sejak dini sehingga anak memiliki kesadaran atas keterbatasan dirinya sebagai hamba Allah, sehingga memudahkannya untuk mendahulukan kepatuhan dan keikhlasan dalam menjalankan perintahNya. Kecerdasan yang tunduk pada keimanan semacam inilah yang bisa membawa ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Iman bukanlah sekedar dari sikap menerima dan setuju, tetapi lebih kepada cinta yang kuat yang terhubung erat dengan kepatuhan. Ketika iman didahulukan, tak akan ada bantahan dan alasan untuk menghindar dari perintah Allah SWT. Iman yang stabil akan melembutkan hati, sedangkan iman yang labil akan mendorong logika dan hawa nafsu. Wallahualam.

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2 : 74)

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
REKAP TANYA JAWAB
1. Risma – RDI 12
Assalamu a’alaikum ustdz @⁨Lara Fridani⁩
Sy ingin bertanya,,bgmn cara kita mendidik anak kita yg tdk serumah dgn kita..??!!
Sy saat ini ikut dgn suami saya,,sdang anak saya yg hsil pernikahan p’tama ikut di neneknya. Sya di larang membawanya.
Dgn jarak seperti ini bgmna sy mendidik anak ini yg semakinnhari semkin tumbuh menjadi gadis…

Jawab:
walaikumsalam wr wb. Allah sebaik baik penolong bu. doa ibu untuk anaknya in shaa Allah menembus jarak dan halangan lainnya.
jika memungkinkan, kalaupun belum bisa bertemu secara fisik, semoga bisa memanfaatkan teknologi, misalnya menggunakan video call sehingga ada kedekatan dalam bentuk lainnya selain doa. semoga dimudahkan segala urusannya. amin

2. Lina – RDI 02
Assalamu alaikum ustadzah,
Kami tinggal di lingkungan bukan muslim, dan sering mengadakan festival agama mereka yg kadang2 sangat menarik bagi anak kami shg mereka ingin ikut serta, tapi tidak dalam sembahyangnya.. hanya hura2nya saja. Bgmn menyikapinya..
Terima kasih sebelumnya

Jawab :
lebih baik dihindari bu. kita bawa anak ke tempat lain yang aman secara syariah. in shaa Allah walaupun lebih jauh tempatnya, akan jadi amal ibadah dan berkah untuk keluarga

3. Nafiz – RDI 15
Assalamualaikum ustadzah,
Izin bertanya,saya ibu bekerja d luar rumah,sehingga anak-anak harus dititipkan/ada yg mengasuh selama saya bekerja di luar
Bagaimana cara terbaik mengkomunikasikan kpd pengasuh anak2 agar tidak sering menyetel TV (Krn alasan nya utk hiburan)

Jawab:
ini salah satu dilema dan resiko ibu bekerja di luar rumah. jika memang kondisi ini tak bisa dihindari, kita perlu ikhtiar yang lain, misal anak lebih baik dititipkan ke tempat lain yg bisa memberi pembiasaan dan pendidikan lebih baik. atau berikan kesempatan pada para pengasuh untuk juga terlibat ikut kajian keagamaan sehingga punya wawasan islam yg in shaa Allah akan mempengaruhinya dalam menonton film2 hiburan yang tidak mendidik

Ohya,anak saya kadang minta hp untuk nonton Upin Ipin,sdh kami carikan/donlot kan video yg santun d hp,namun seringkali anak tantrum jika sdh bosan menonton, sehingga saya seringkali tdk pegang hp saat bersama anak2&beralasan hp tidak ada saat anak minta
Adakah masukan selain dg menyembunyikan hp?

Jawab:
ya bu dengan memberikan kegiatan lain yg edukatif misalnya kegiatan olahraga, ketrampilan atau kegiatan interaksi sosial lainnya. kadang memang dengan biaya ekstra. tapi pengorbanan ini lebih baik daripada anak terbwntuk memiliki kebiasaan menonton hingga usia remaja

4. Ririn RDI 05
Ustadz ijin bertanya, bagaimana cara mengajarkan anak usia 3thn supaya mau mengaji?

Jawab :
orang tua dan lingkungan sekitar anak memberi contoh rajin mengaji, in shaa Allah anak usia 3 tahun adalah peniru ulung, akan mencontoh kebiasaan dari lingkungannya. jangan paksakan anak 3 tahun untuk mengaji dengan menekannya, tapi tumbuhkan dulu semangat belajar mengaji dengan cara yg membuat hatinya nyaman

5. Risma – RDI 12
Ustdz @⁨Lara Fridani⁩ sy ingin bertnya lagi,
Saat ini posisi sy ikut suami dan punya anak 1 usia 2thn
Sedang anak dri yg sebelumnya ikut di nenek nya.
Apa yg harus sy lakukan sbg ibu yg di pandang pilih kasih,
Dan bgmn cra saya dapat mendidik anak dgn jarak jauh..??!!
Manakah yg harus di dahulukan, suami atau anak ustdz..??!!
Bgmnkah cara didik anak yg benar ustdz agar dapat lancar berbicara…??!!

Jawab:
Apa yg harus sy lakukan sbg ibu yg di pandang pilih kasih,
Dan bgmn cra saya dapat mendidik anak dgn jarak jauh..??!!
~> anak perlu waktu untuk memahami apa yang dialami dan dirasakan orang tua. in shaa Allah dengan keimanan dan kesabaran kita, suatu saat anak akan paham. salah satu cara adalah dengan tidak mengatakan rasa cinta dan sayang kita pada mereka secara kontinyu

Manakah yg harus di dahulukan, suami atau anak ustdz..??!!
~>masing2 ada kewajiban dan haknya. kita harus patuh pada suami selama suami tak menyuruh hal2 yang melanggar syar’i. in shaa Allah dengan kepatuhan kita akan memudahkan urusan dalam mendidik anak pula

Bgmnkah cara didik anak yg benar ustdz agar dapat lancar berbicara…??!!
~>dengan memebrikan stimulasi yg tepat, dan beri kesempatan anak berinteraksi dengan lingkungan. untuk anak yang mengalami hambatan bahasa, perlu rujukan dari dokter , psikolog anak dan terapis wicara.latih anak dengan kosa kata yang sederhana dulu dan belajar satu dua kata. jangan langsung kalimat yg panjang

6. Rajiati RDI 03.

Agar bisa sedekah rutin bagaimana caranya dan kemana sebaiknya menyurkannya?

Jawab:
ini masalah niat dan ikhtiar. salurkan kepada yg berhak termasuk kerabat terdekat yang kekurangan

7. Rajiati RDI 03
Dari kisah diatas dilingkungan saya jg banyak yg berargumen seperti itu, jadi sikap kita sbaiknya bagaimana,untuk bisa memberikan pengertian dan pemahaman yg benar?

Jawab:
berdakwah harus dengan cara yang bijaksana. perlu landasan ilmu kemudian kita amalkan.

———————-oOo———————-
PENUTUP

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *