Selalu Berfikir Positif

Review anda

Oleh: Ustadz Satria Hadi Lubis
(Muwajjih Rumah Dakwah Indonesia)

Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari berkata:

متى اعطاك اشهدك بره، و متى منعك اشهدك قهره، فهو فى كل ذلك متعرف اليك و مقبل

بوجود لطفه اليك

BILA ALLAH MEMBERI KARUNIA KEPADAMU MAKA DIA MEMPERLIHATKAN KEBAIKANNYA KEPADAMU. MANAKALA DIA MENAHAN PEMBERIAN KEPADAMU MAKA DIA MENUNJUKKAN KEKUASAANNYA KEPADAMU. DALAM SEMUA KEADAAN ITU DIA MEMPERKENALKAN DIRINYA KEPADAMU DAN MENGHADAPIMU DENGAN KELEMBUTANNYA.

Hikmah penangguhan dan penyegeraan pemberian berkaitan dengan masalah pengenalan kepada Allah. Jika seseorang dapat mengenal Allah melalui celah penahanan dan penyegeraan pemberian, maka dia sungguh telah menapaki jenjang kesempurnaan. Karena pemberian adalah salah satu tanda kebaikan-Nya, dan penahanan pemberian adalah cermin dari kekuasaan-Nya.

“Dan Dialah Yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya”. (QS. al-An’am: 18)

Jika Allah menahan pemberian terhadapmu, berarti Dia memperkenalkan Diri kepadamu, bahwa Dialah Yang Maha Berkuasa. Dan manakala Dia memberimu, itu pertanda Dia memberitahukan kebaikan-Nya kepadamu, bahwa Dialah Yang berbuat baik, dan Dialah Yang Maha Pemurah. Dalam keadaan apa pun bisa menjadi wahana untuk memperkenalkan diri-Nya terhadapmu. Jika engkau pandai memetik pelajaran dari penangguhan dan penyegeraan pemberian itu, niscaya engkau berada dalam kebaikan yang besar.

Selanjutnya beliau berkata:

انما يوءلمك المنع لعدم فهمك عن الله فيه

BILA PENAHANAN PEMBERIAN ITU MENYAKITIMU, MAKA ITU HANYA KARENA KETIADAAN PEMAHAMANMU TENTANG ALLAH DI DALAMNYA

Penangguhan pemberian bisa membuat orang merasa menderita lantaran ia tidak memiliki pemahaman terhadap hikmah penahanan itu. Padahal bila paham hikmah di balik penangguhan itu, maka penangguhan pemberian itu merupakan pemberian tersendiri, lalu hati pun menjadi senang.

Pada bagian berikutnya beliau mengingatkan:

“Kadang Allah menganugerahimu ketaatan, namun Dia tidak memberi pengabulan kepadamu”.

Allah tidak ingin ketaatan seseorang tidak ikhlas karena berujung pamrih berupa pengabulan dari Allah sesuai dengan apa yang kita minta. Itulah sebabnya mengapa kala seseorang menghadap Allah mesti dibarengi dengan rasa khauf (takut) dan raja’ (harap) terhadap-Nya, seraya berusaha untuk membetulkan niatnya dan mewaspadai hatinya, karena tak akan diterima ketaatan yang sepi dari keikhlasan dan tauhid, atau ketaatan yang dibungkus dengan pamrih, ‘ujub dan kesombongan.

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban atau amal) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. al-Maidah: 27)

Kadang Allah membiarkan seseorang jatuh dalam kesalahan dan kemaksiatan, tapi jika ia dianugerahi semacam ketawadhu’an, lalu berhenti melakukannya seraya memerlukan pertolongan-Nya, maka Allah menuntunnya untuk menjadi golongan wali-wali-Nya yang besar. Yang penting ditekankan disini bahwa dalam kondisi apa pun, baik dalam penangguhan maupun penyegeraan pemberian, duniawi dan ukhrawi, tetap punya kesempatan untuk nengenal Allah, bukan malah melanggar aturan-aturan-Nya dengan berkeluh kesah dan menggerutu yang justru menjauhkannya dari Allah.

Baca: Rambu-Rambu Jalan Ruhani, Said Hawa, Robani Pres, 404-405 dengan tambahan seperlunya.

BP2A-RDI/098/5/IV/1440

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *