Back to normal : menjadi muslim kaffah di era milineal

Review anda

Hari : Kamis / 15 Oktober 2020
Grup : Ikhwan
Tema : *Back to normal : menjadi muslim kaffah di era milineal*
Muwajih : *Ustadz Khidir*
Moderator : Ray
Notulen : Abu Qaisheer

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

*MUQADIMAH*
————————

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur’an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur’an dan ahlul Qur’an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur’an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban
Al Qur’an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

========================
Rekan-rekan sekalian yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala selamat berjumpa kembali semoga Allah ridhai kita berkah kita dan melindungi kita dari segala keburukan Amin ya robbal alamin

Tema kita pada pertemuan kali ini adalah tentang konsep Islam yang yang mencakup segala aspek sehingga menuntut kita untuk menjadi muslim yang Kaffah, maknanya adalah menjadi muslim dalam segala aspek kehidupan.

Sebelumnya, dapat kita pahami terlebih dahulu bahwa sesungguhnya Islam lebih lebih luas maknanya dari sekedar sebuah ‘agama’ dengan makna ritual. Islam lebih dari itu, dia adalah sebuah konsep dan aturan bagi kehidupan utuh yang satu sama lain berkaitan dan menguatkan…

Maka Islam adalah aqidah dan syariat, Ideologi dan sistem, ritual dan spiritual, akhlak dan kekuatan, pendidikan dan ekonomi, individu dan keluarga, sosial kemasyarakatan, bahkan hingga bernegara…

Sebagaimana umumnya sebuah sistem yang komplit dia akan tampak manfaat dan pengaruhnya manakala sistem tersebut digunakan secara utuh dan lengkap, tidak sebagian-sebagian. Sebab kalau sebagian sebagian tidak memberikan pengaruh dan efek yang yang signifika, bahkan boleh jadi justru dapat menimbulkan efek negatif.

Ibarat seorang dokter yang memberikan resep dengan berbagai jenis obat kepada pasiennya, lalu pasien tersebut pilih-pilih obat tersebut sesuai yang dia mau dan dia tinggalkan yang tidak dia mau. Alih alih akan sembuh, bisa jadi penyakitnya kambuh.

dari sinilah kita akan memahami firman Allah;

*QS. Al Baqarah (2) : 208*

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾

208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

*QS. Al Baqarah (2) : 208*

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾

208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Padahal ajaran islam itu sebenarnya paralel dengan keinginan setiap orang untuk meraih prestasi atau capaian-capaian positif dalam kehidupan, baik urusan dunia maupun akhirat.

Karena Islam tidak mencegah seseorang untuk meraih prestasi terbaik yang dapat dilakukan.

Makanya dalam sejarah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mematikan potensi para sahabat yang memang asalnya sudah dikenal sejak sebelum Islam. Khalid bin Walid yang paling jelas, dia adalah seorang panglima perang yang terkenal tangkas, ketika masuk Islam posisinya tidak berbeda dia justru menjadi panglima perang yang hingga sekarang namanya abadi atau Legenda… begitupula sahabat-sahabat lainnya yang memiliki kapasitas masing-masing makanya Rasulullah mengatakan dalam hadisnya

خِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا

“Orang yang terbaik di antara kalian pada masa Jahiliyyah adalah yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam”. (HR. Bukhari)
Atau juga misalnya di kalangan remaja atau pemuda. Ada sebuah pandangan seakan-akan jika ingin menjadi muslim yang Kaffah dia akan kehilangan masa remajanya yang biasanya ingin senang, happy, fun dan semacamnya…

Ini juga pandangan yang keliru. Islam tidak menghalangi kreativitas atau karakteristik remaja atau pemuda yang umumnya lebih senang dengan suasana kebebasan kemudahan keringanan kebahagiaan kreativitas dan lain-lain.

Islam memberikan ruang untuk itu namun tentu saja dengan koridor dan batasan yang diberikan.

Bahkan justru kebahagiaan yang Hakiki adalah kebahagiaan yang yang dibatasi dengan batas-batas keimanan. Karena kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan yang insya Allah mendatangkan kebahagiaan berikutnya yg lebih substansial.

Adapun kebahagiaan bebas tanpa batas itu biasanya fatamorgana, sepintas bahagia tiada tara, namun tak lama kemudian orang tersebut akan dapati dirinya dalam ruang gelap yang penuh derita dan penyesalan yang tidak dapat dikembalikan lagi.

Kesimpulannya adalah, terimalah Islam secara utuh, laksanakan dia secara utuh, maka pastikan kita akan mendapatkan kebaikan tak terhingga di dalamnya. Baik di dunia apalagi di akhirat….
————————————-

*TANYA JAWAB*

*Pertanyaan 1*

Izin bertanya kyai.. Di zaman seperti saat ini banyak fitnah yang merajalela, bahkan kita blm tau mana ulama yang lurus atau hanya mementingkan kelompoknya masing2. Bagaimana tipsnya menemukan ulama ulama yang lurus untuk menjadikan diri kita menjadi muslim yg kaffah?

Jawaban :

Pertama, hadirkan keikhlasan dalam memahami ajaran Islam, kuatkan motivasi untuk mendalaminya dengan baik.

Kedua cari orang-orang yang dapat kita percaya, baik lewat penilaian kita langsung atau rekomendasi dari orang yang kita kenal, yaitu orang orang yang dapat dipercaya ilmu dan agamanya.

Ketiga, gunakan Nalar kita. Allah memberikan kita akal untuk dapat melihat secara objektif utk menimbang-nimbang sebuah perkara untuk dapat kita nilai mana yang baik mana yang tidak setelah kita memiliki bekal bekal dasar dalam agama.

Jangan terlalu larut dalam perasaan, sektarianisme, figuritas, dan loyalitas kepada kelompok tertentu.

Selebihnya terus evaluasi sikap dan perjalanan kita. Tidak mengapa jika kita melakukan koreksi di tengah jalan jika memang hal itu harus kita ambil. Itu tidak aib. Yang aib adalah kalau kita terus dalam sikap yang salah tanpa ada keinginan untuk memperbaikinya…
Pertanyaan ke 2 :

Afwan ustadz ini ada pertanyaan dari member kajian rdi mungkin beliau malu untuk bertanya langsung digrub pertanyaanya:Bagaimana caranya mengajak anak muda untuk belajar agama dan menjalankan nya?

Jawaban :
Standar bakunya sebenarnya sama. Hanya pendekatan yg berbeda… Ada beberapa point ygbpenting dipahami…;

– Anak.muda lebih senang didengarkan daripada mendengarkan.

– Anak muda butuh ruang ekspresi diri sesuai pasionnya, pentin sediakan ruang tsb…

– Anak muda butuh pembimbing yg sebaya dgn mereka.

– Anak muda butuh motivasi utk menemukan jatidirinya yg kadang2 tersembunyi dibalik sikapnya yg ‘liar’… Dll


———————-oOo————
———-
*PENUTUP*

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do’a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

: Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~~
®Rumah Dakwah Indonesia

———————-oOo———————-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *